Kekuatan sosok, karakter, dan latar belakang membentuk elektabilitas calon gubernur Jawa Tengah di tengah kondisi mayoritas pemilih yang masih menimbang-nimbang.
04 Nov 2024 02:00 WIB · Politik & Hukum
Oleh M Toto Suryaningtyas - [email protected]
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/24/1de9f016-3fcc-4978-a663-f553e3ff0332.jpg)
Tiga minggu menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak 27 November 2024, peta persaingan politik daerah ”kandang banteng” Jawa Tengah kian menghangat. Elektabilitas dua pasang kandidat yang berkontestasi di Pilkada Jateng bersaing ketat. Kedua pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur meraih angka elektabilitas yang relatif sama kuat-dengan memperhitungkan rentang margin of error.
Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, 15-20 Oktober 2024, pasangan nomor urut 1, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi meraih tingkat elektabilitas 28,8 persen. Sementara pasangan nomor urut 2, Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen meraih tingkat keterpilihan 28,1 persen. Angka tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan model tertutup, yakni pilihan jawaban terbatas dan dibacakan kepada 1.000 responden pemilih Jateng.
Dibandingkan hasil Survei Pilkada Jateng, Juni 2024, kandidat Ahmad Luthfi dan Taj Yasin mengalami kenaikan elektabilitas yang cukup besar. Saat itu Ahmad Luthfi dan Taj Yasin merupakan kandidat terfavorit dengan elektabilitas tertinggi kedua dan ketiga di bawah Kaesang Pangarep. Adapun Hendrar Prihadi (Hendi), saat itu, masih menempati peringkat ketujuh.
Masuknya nama Andika Perkasa sebagai calon gubernur Jateng dari PDI-P sedikit mengubah lanskap politik Jateng. Pencalonan Andika menjadi langkah strategis yang bernuansa sosiologis untuk sosok aparat dengan karakter aparat pula.
Hal ini tercermin dalam jargon kampanye yang banyak tersosialisasikan, ”Rambo melawan Sambo”. Langkah tersebut terbukti cukup manjur dengan waktu relatif singkat mampu menaikkan angka elektabilitas pasangan Andika-Hendi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/24/3f4a6823-7d07-421b-948e-2d6e51e64c34.jpg)
Pengaruh aspek sosiologis ini tecermin pula dari preferensi publik yang menyatakan pertimbangan utama dalam memilih ialah sosok calon gubernur ( 63,1 persen) ketimbang wakil gubernur (16,1 persen). Demikian pula sosok cagub dari TNI mendapat apresiasi lebih tinggi (54,7 persen) ketimbang yang berlatarbelakang polisi (19,2 persen).
Melejitnya elektabilitas mantan Panglima TNI Andika Perkasa dan mantan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi tak lepas dari gambaran kekuatan sosok sebagaimana pandangan responden. Dari bagian publik Jateng yang menyatakan mengenal pasangan tersebut, aspek karakter personal dinyatakan 37,3 persen sebagai kelebihan dari Andika-Hendi. Adapun aspek kinerja-pengalaman dinyatakan 15,4 persen responden sebagai kelebihan berikutnya.
Hal ini cukup berbeda dengan pandangan responden terhadap mantan Kapolda Jateng Ahmad Luthfi dan mantan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen. Aspek karakter personal sebagai kelebihan paslon dinyatakan hanya oleh 21,2 persen responden dan identitas kedaerahan (putra daerah) menjadi aspek yang menonjol dengan raihan 16,0 persen. Taj Yasin merupakan putra alm Kiai Haji Maimun Zubair (Mbah Moen), ulama karismatik Rembang yang aktif dalam politik nasional hingga akhir hayatnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/03/9f54b307-57cf-4c5d-88b4-8447ac9d8803_png.png)
Dirunut dari latar belakang pemilih, terlihat kecenderungan semakin tinggi pendidikan lebih banyak memilih pasangan Andika-Hendi. Hanya di kelompok responden berlatar pendidikan rendah yang lebih banyak memilih Ahmad Luthfi-Taj Yasin (28,4 persen). Sementara pada kelompok pendidikan menengah dan pendidikan tinggi cenderung lebih banyak memilih Andika-Hendi (32,4 persen).
Andika-Hendi juga tampak meraih simpati pemilih muda yang terlihat dari kecenderungan keunggulan paslon ini meraih elektabilitas dari kelompok generasi Z (di bawah 28 tahun) dan generasi Y (28 - 43 tahun). Sebaliknya, Ahmad Luthfi-Taj Yasin cenderung meraih simpati lebih besar dari generasi X (usia 44 - 57 tahun).
Dari sisi status sosial ekonomi, terlihat pemihakan yang tidak terlalu linier. Responden dari kelas sosial ekonomi bawah cenderung memilih Ahmad Luthfi-Taj Yasin (28,6 persen), sedangkan di kelas menengah bawah justru cenderung memilih Andika-Hendi (30,9 persen). Namun di kelas menengah atas kembali lebih memilih Ahmad Luthfi-Taj Yasin (35 persen) dan di kelas ekonomi atas, didominasi pemilih Andika-Hendi (47,8 persen).
Beragamnya pilihan tersebut tidak dapat dilepaskan dari corak pilihan demokratis pemilih Jateng. Separuh bagian (50,1 persen) responden mengaku bisa berbeda pilihan dengan keluarganya di pilkada. Meski demikian, sebagian pemilih Jateng juga masih mempertimbangkan corak tradisional dalam memilih pemimpin. Hal ini tecermin dari masih besarnya proporsi pengaruh keluarga baik inti maupun keluarga besar yaitu mencapai 18,7 persen dalam memilih pemimpin.
Perbedaan profil pemilih paling signifikan tampaknya ditunjukkan oleh latar belakang partai politik responden. Mayoritas responden (40-45 persen) dari pemilih PDI-P, Nasdem dan Demokrat memilih paslon Andika-Hendi. Sementara pemilih Ahmad Luthfi-Taj Yasin. Pemilih Golkar relatif berimbang memilih kedua paslon dan cenderung lebih besar menyatakan tidak tahu/belum menentukan pilihan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/03/e31e529a-7329-4664-8631-f41d1366c7db_png.png)
Sebutan Jawa Tengah sebagai daerah ”kandang banteng” agaknya akan kembali diuji dalam pilkada Jateng ini. Separuh lebih responden (53,5 persen) masih menilai Jateng adalah daerah basis pemilih PDI-P.
Kondisi politik kemungkinan akan kian menghangat karena pertarungan ketokohan antara sosok-sosok nasional yang selama ini menjadi tokoh di PDI-P, tetapi dinilai memiliki jarak politik. Sebanyak 41 persen bagian responden menilai saat ini masih ada jarak politik bahkan relasi yang buruk antara PDI-P dan mantan Presiden Joko Widodo.
Di sisi lain, harus diakui bahwa dukungan dari mantan Presiden Jokowi merupakan pengaruh yang besar bagi pemilih (43,9 persen). Pengaruh ini lebih tinggi daripada dukungan oleh Ganjar Pranowo (34,7 persen) maupun Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri (26,5 persen).
Betapa pun, sisa waktu yang ada masih bisa diperebutkan oleh kandidat mengingat masih lebih banyak proporsi responden yang menyatakan pilihan belum pasti (50,9 persen) ketimbang yang sudah pasti dengan pilihannya (35,7 persen). Pada celah pemilih bimbang inilah para kandidat bisa bersaing merebut hati pemilih Jateng. (Litbang Kompas)
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Marcellus Hernowo