Hasil survei Litbang Kompas di Jawa Barat, elektabilitas pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan mencapai 65 persen. Sulit dikejar pasangan lain.
14 Nov 2024 01:02 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Hasil survei Litbang Kompas (Kompas.id) pada 1-9 November 2024 di setiap kabupaten dan kota di Jawa Barat menunjukkan hampir dua pertiga bagian pemilih di Jabar (65 persen) mengaku memilih pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan di pilkada mendatang.
Posisi selanjutnya, pasangan calon (paslon) Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie dengan penguasaan 9 persen pemilih. Dua paslon lainnya, Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja dan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina, ada di posisi selanjutnya dengan dukungan pemilih di bawah 5 persen.
Kondisi itu membuat tak mudah bagi tiga paslon lain untuk mengejar elektabilitas Dedi-Erwan. Terlebih, hanya tinggal 17,3 persen pemilih yang belum menyatakan pilihannya.
Di sisi lain, survei juga menunjukkan kekuatan Dedi-Erwan di setiap lini persaingan. Paling menonjol, keunggulan pasangan ini terbangun dengan topangan derajat loyalitas dukungan yang relatif lebih baik.
Hampir tiga perempat bagian dari para pemilih Dedi-Erwan menyatakan pilihannya sudah tetap dan tidak akan berganti. Proporsi demikian terbilang tinggi dan tidak satu pun dari para pesaing lainnya mendekati kadar loyalitas dukungan sebesar itu.
Keunggulan berjarak Dedi-Erwan atas para pesaingnya ini berpotensi membuka lembaran baru persaingan politik pemilihan gubernur di Jabar. Merujuk setiap ajang pemilihan gubernur Jabar sebelumnya, semenjak pilkada langsung dimulai, pola persaingan yang terjadi kerap kompetitif. Belum pernah sekali pun kemenangan diraih dengan selisih perbedaan jarak yang lebar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/29/719a1d4f-b215-411b-8518-ab83c1bdb66c_jpg.jpg)
Pada Pilkada 2018, misalnya, kemenangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum terjadi dengan dukungan sekitar sepertiga bagian pemilih (32,8 persen). Tiga pasangan pesaing lainnya saat itu mampu mengumpulkan dukungan yang tidak jauh perbedaannya.
Pasangan koalisi Gerindra dan PKS, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, meraih dukungan 28,7 persen. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang didukung Golkar dan Demokrat menguasai hingga 25,7 persen pemilih. Posisi terakhir, calon dukungan PDI-P, Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan, meraih dukungan 12,6 persen.
Pilkada 2013 pun pola persaingan yang terbangun terbilang sama ketat. Pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar yang diusung oleh PKS, Hanura, dan PPP memenangi pilkada dengan dukungan 32,4 persen dukungan. Pesaing terdekat, pasangan dukungan PDI-P, Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki, meraih dukungan 28,4 persen pemilih.
Penantang berikutnya, Dede Yusuf-Lex Laksamana, yang diusung Partai Demokrat, mampu meraih 25,2 persen dukungan. Pasangan calon gubernur yang diusung Golkar, Irianto MS Syafiuddin-Tatang F Hakim, mendulang dukungan 12,2 persen pemilih. Satu-satunya calon independen, Dikdik Mulyana-Cecep NS Toyib, meraih di bawah 2 persen dukungan.
Sedemikian ketatnya sejarah persaingan politik pemilihan gubernur di Jawa Barat tidak terlepas dari entitas kultur politik yang terfragmentasi di wilayah ini. Setiap pasangan gubernur yang bersaing mendapatkan dukungan spesifik dari pertautan antara kedekatan wilayah dan identitas politik yang melekat pada dirinya.
Kemenangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dalam Pilkada 2018, misalnya, tidak terlepas dari barisan pemilih yang bermukim di kawasan Priangan, baik Priangan Barat, Bandung Raya, maupun Priangan Timur. Perlawanan ketat Sudrajat-Ahmad Syaikhu pun tidak terlepas dari dukungan pemilih PKS yang terbilang dominan di wilayah Megapolitan berbatasan dengan DKI Jakarta.
Hal yang sama pula pada Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang dominan di wilayah pantai utara Karawang, Subang, dan Purwakarta, ataupun pasangan dukungan PDI-P dalam setiap Pilkada Jabar yang didukung pemilih di kawasan pantai utara seputaran Cirebon hingga Kuningan.
Dalam pilkada kali ini, rumusan yang membedakan pilihan politik semacam ini kurang signifikan terjadi. Keunggulan Dedi Mulyadi tidak lagi sebatas wilayah yang kerap dikuasainya, kawasan Purwakarta ataupun Subang, tetapi kini terjadi pada setiap lapis wilayah persaingan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/13/906fb6b4-0cc5-442a-b93f-416856ba22a1_jpg.jpg)
Begitu pula, dari sisi latar belakang politik para pemilih, bagian terbesar tertuju pilihannya pada pasangan yang diusung oleh koalisi Partai Gerindra, Partai Golkar, Demokrat, PAN, PSI, dan sembilan partai nonparlemen. Bahkan, para pemilih yang mengaku berasal dari partai pesaingnya, PDI-P, PKB, dan PKS, pun cenderung lebih besar mendukung Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan.
Menyelisik lebih jauh, topangan keunggulan Dedi-Erwan juga terbangun dari beragam latar belakang identitas pemilih. Pembedaan pemilih berdasarkan usia ataupun generasi, misalnya, tidak tampak. Pasangan ini didukung oleh setiap kalangan secara merata, baik mereka yang berusia muda maupun kelompok usia tua.
Sementara pesaingnya cenderung tersegmentasi pada kelompok usia ataupun generasi tertentu. Pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie, misalnya, dari seluruh pendukungnya lebih banyak terkonsentrasi pada kalangan pemilih berusia dewasa.
Pemilahan identitas pemilih berbasis pendidikan dan kelompok sosial ekonominya pun menunjukkan hasil yang relatif sama. Dari sisi pendidikan, besaran dukungan pemilih pada Dedi-Erwan terbilang proporsional, tidak banyak berbeda dengan proporsi penduduk di Jabar. Terbanyak, pasangan ini mendapatkan dukungan dari kalangan berpendidikan dasar.
Sekitar separuh bagian pemilih tergolong berpendidikan dasar. Selanjutnya, dukungan kaum berpendidikan menengah pada pasangan ini mencapai sepertiga bagian dan pemilih berpendidikan tinggi diperkirakan sekitar sepuluh persen.
Sejalan dengan jenjang pendidikan, pemilahan pemilih berdasarkan status sosial ekonomi juga menunjukkan proporsi yang sebanding. Kelompok menengah hingga bawah menjadi penopang dukungan. Basis dukungan yang relatif sama juga terjadi pada para pemilih Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja dan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina. Namun, agak berbeda kondisi dukungan pada pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie yang cenderung didukung kaum menengah hingga menengah atas.
Pemilahan berbasis identitas sosial seperti keagamaan, suku bangsa, dan etnisitas pun menunjukkan pola yang relatif sama. Sejauh ini hasil survei menunjukkan dukungan pemilih berdasarkan identitas sosial keagamaan dan kesukuan tidak terkonsentrasi hanya pada salah satu pasangan calon gubernur.
Kendati proporsi dukungan dari pemilih berlatar belakang suku Sunda terbilang agak besar pada Dedi-Erwan, hal itu belum menjadi pembeda yang signifikan dengan sebagian pasangan calon gubernur lainnya.
Tidak banyaknya perbedaan ataupun fragmentasi identitas politik yang tergambarkan dalam Pilkada Jabar kali ini cenderung menjadi nilai lebih pasangan Dedi-Erwan sekaligus menjadi kunci keunggulannya.
Para pemilih dalam Pilkada Jabar kali ini tidak lagi menyandarkan pilihannya pada kedekatan kultur politik wilayah ataupun identitas sosial setiap sosok, tetapi cenderung pada nilai ketokohan, seperti keterkenalan sosok, preferensi, dan sisi kelebihan pasangan calon gubernur yang bersaing.
Dalam survei ini, sosok Dedi Mulyadi yang telah malang melintang dalam perpolitikan Jawa Barat, dan saat ini sekitar sembilan dari 10 pemilih di Jawa Barat mengetahuinya, cenderung diuntungkan. Sebaliknya, indikator semacam ini menjadi kelemahan dan tidak banyak dijumpai pada para pesaing politik lainnya.
Dari sisi pengenalan pada setiap sosok pasangan calon gubernur, misalnya, masih belum separuh bagian pemilih yang mengenal pesaing Dedi-Erwan. Sepanjang pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie, Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja, dan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina mampu mengatasi persoalan ini, Pilkada Jawa Barat dapat saja berujung pada kejutan politik. (LITBANG KOMPAS)
Mari, tentukan pilihan dalam Pilkada 2024 secara bijak dan terinformasi bersama Liputan Survei Pilkada dari Litbang Kompas. Baca lengkap seluruh artikelnya dengan akses premium 12 bulan, tersedia harga promo Rp 109.000 (dari harga normal Rp 600.000). Klik https://komp.as/sp109 untuk berlangganan. Kuota dan periode terbatas.
Kami juga mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
Bestian NainggolanEditor:
Marcellus Hernowo