Selisih potensi keterpilihan antara dua pasangan calon di pilkada Sumut relatif lebar. Akankah menjadi gambaran kontestasi saat 27 November 2024 nanti?
06 Nov 2024 02:00 WIB · Politik & Hukum
Oleh Yohanes Mega Hendarto - [email protected]
Tingkat popularitas dan kesukaan menjadi faktor yang cukup signifikan memengaruhi elektabilitas calon gubernur Sumatera Utara. Faktor itu juga memengaruhi soliditas pemilih parpol.
JAKARTA, KOMPAS — Hasil Survei Pilkada Sumut yang dilakukan Litbang Kompas pada 22-28 Oktober 2024 menunjukkan, pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur nomor urut 01, Muhammad Bobby Afif Nasution-Surya, meraih 44,9 persen.
Sementara pasangan nomor urut 02, Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala, memperoleh 28 persen. Perolehan tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan model tertutup (pilihan jawaban terbatas dan dibacakan) kepada responden Sumut.
Tingkat keterpilihan ini tidak dapat dilepaskan dari faktor popularitas dan kesukaan terhadap sosok cagub-cawagubnya.
Dari aspek popularitas di mata publik, kedua paslon sudah menunjukkan selisih 9 persen. Kandidat mantan Wali Kota Medan (2021-2024) Bobby Nasution dan mantan Bupati Asahan (2021-2024) Surya mendapat popularitas sebesar 79,2 persen.
Adapun popularitas mantan Gubernur Sumut (2018-2023) Edy Rahmayadi dan Tenaga Ahli Menteri Agama Hasan Basri di angka 70,5 persen.
Temuan ini sekaligus menegaskan tren sejak Survei Pilkada Sumut pada Juni 2024. Kala itu, popularitas Bobby terlihat unggul di peringkat pertama dibandingkan ”Ayah Edy” yang menduduki peringkat kedua.
Dari sisi keunggulan, paslon Bobby-Surya dianggap lebih mewakili identitas sosial masyarakat Sumut dibandingkan paslon Edy-Hasan.
Dalam persepsi publik, identitas petahana Edy Rahmayadi yang berdarah Melayu Deli tampaknya dianggap lebih mewakili daerah Sabang ketimbang ”Paris van Sumatera”.
Ketika pertanyaan survei makin dikerucutkan ke arah resistensi atau penolakan, terlihat adanya ganjalan bagi sosok petahana.
Paslon Edy-Surya memiliki tingkat resistensi di angka 41 persen, sedangkan Bobby-Surya mendapat resistensi 26,6 persen. Ada selisih resitensi publik sebesar 14,4 persen yang pada akhirnya turut memengaruhi selisih jarak elektabilitas di antara keduanya.
Masyarakat Sumut tentu saja memiliki penilaian ketidaksukaan terhadap paslon yang didorong oleh berbagai aspek. Di antara sejumlah kekurangan yang disebutkan publik, aspek pengalaman dalam memimpin daerah menjadi poin yang paling disorot publik kepada paslon Bobby-Surya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/ad7aa5d5-93cc-40ad-9d81-eb4dd5417482_png.png)
Bagi Edy-Hasan, karakter personal menjadi atribusi ketidaksukaan publik.
Aspek ini menjadi penilaian negatif terbesar dari publik karena pasangan ini dianggap kurang merakyat, kurang berwibawa, dan menampilkan sosok yang kurang ramah.
Terkait keunggulan dan kelemahan tiap paslon, titik berat penilaian publik sesungguhnya lebih terarah pada sosok cagubnya dibandingkan cawagub. Atribusi positif dan negatif yang diberikan kepada tiap paslon cenderung menjadi cerminan penilaian terhadap figur cagub.
Apalagi dalam menentukan pilihan kepala daerah, figur cagub berada di posisi vital dibandingkan cawagub yang mendampinginya berkontestasi.
Sebanyak 53,9 persen responden menilai sosok cagub menjadi pertimbangan utama dalam memilih. Sementara sosok cagub, hanya memberikan sumbangsih sebesar 3,1 persen di hadapan pemilih.
Keunggulan elektabilitas paslon Bobby-Surya juga disumbangkan oleh para pemilih dari berbagai latar belakang. Baik dari latar tingkat pendidikan, kelas sosial ekonomi, serta jender, secara signifikan elektabilitas Bobby-Surya cukup unggul dibandingkan Edy-Hasan.
Dari generasi usia, paslon Edy-Hasan hanya mampu bersaing di kelompok pemilih generasi X (usia 44-57 tahun) yang tampak berimbang arah dukungannya.
Di antara kelompok generasi usia lainnya, Bobby-Surya secara signifikan mendapat dukungan besar dari kalangan generasi Z (17-27 tahun) yang banyak dihuni para pemilih mula.
Kendati Sumut dikenal sebagai wilayah yang memiliki heterogenitas etnis dan agama yang tinggi, konstelasi politik di tingkat kepala daerah nyatanya masih terorientasi pada identitas putra daerah.
Buktinya, Edy-Hasan hanya unggul jauh dibandingkan Bobby-Surya di kalangan pemilih etnis Batak Pakpak dari kelima subsuku (puak) Batak lainnya.
Dari aspek dukungan partai, paslon Bobby-Surya terlihat jauh lebih unggul dalam dukungan barisan partai KIM Plus yang terdiri dari tujuh partai parlemen dan tiga partai nonparlemen.
Jumlah dukungan untuk Bobby-Surya sebesar 19 kursi DPRD atau 74 persen dari total kursi DPRD. Hal ini tentu kontras dengan paslon Edy-Surya yang didukung oleh PDI-P dan lima partai nonparlemen lainnya dengan total 4 kursi DPRD atau 26 persen dari total kursi DPRD.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/3296b591-460c-4c2f-a9d7-707da688f119_png.jpg)
Namun, dalam temuan survei, para pemilih parpol di Sumut ini tidak selalu sejalan dengan arah dukungan parpol kepada setiap paslon (split voting ticket). Mayoritas pemilih PKB, Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, dan Perindo masih berhasil diamankan oleh Bobby-Surya.
Selain itu, pemilih PKS tampak masih tertambat hatinya kepada sosok Edy-Hasan meskipun parpolnya sudah merapat bersama KIM Plus.
Tampaknya, Bobby-Surya masih perlu meyakinkan kelompok pemilih Nasdem, PPP, serta Demokrat yang terlihat kurang optimal memberikan dukungan elektoral.
Di kubu Edy-Hasan, para pemilih PDI-P justru terlihat tidak solid mengarahkan dukungan. Sebanyak 48,9 persen pemilih PDI-P justru memilih Bobby-Surya sebagai cagub-cawagub di Pilkada Sumut. Begitu juga dengan para pemilih Hanura yang mayoritas berpihak pada kubu lawan.
Terbelahnya dukungan pemilih PDI-P secara khusus tidak lain karena faktor Joko Widodo yang diwakilkan pada sosok Bobby Nasution, menantunya.
Apalagi sebelumnya di pertengahan Oktober 2024, Jokowi masih melakukan kunjungan ke Sumut untuk meresmikan jalan tol, bendungan, stadion, dan pusat riset genomik di wilayah itu. Kunjungan ini menjadi semiotika penegasan legitimasi dan jejak legasi hasil pembangunan infrastruktur di masa pemerintahannya.
Selisih 16,9 persen elektabilitas masih memberikan peluang terbuka bagi kedua paslon cagub-cawagub. Sebab, di satu sisi kelompok pemilih kuat (strong voters) masih berada di angka 58,4 persen.
Di sisi lain, masih tersisa 32,4 persen kelompok pemilih yang masih dapat berubah pilihan politiknya dan 9,3 persen yang belum menentukan pilihan cagub-cawagub.
Terlepas dari gerak dan strategi setiap tim pemenangan paslon, kubu Edy-Hasan perlu merapatkan barisan untuk menjaga soliditas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/01/11/8b2b2c35-98a4-4bc0-bf9d-ec6df769f33b_jpg.jpg)
Sebab, 4 dari 10 pemilih Edy di Pilkada Sumut 2018, justru kini memindahkan pilihannya kepada sosok Bobby-Surya yang juga mendapat limpahan dari pemilih Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus.
Dua minggu sisa waktu masa kampanye menjadi momentum penting bagi setiap paslon untuk menguatkan basis dukungan dan mobilisasi suara pemilih.
Dua strategi ini akan menentukan hasilnya nanti, apakah kian melebar jarak elektabilitas kedua paslon ataukah kemampuan Edy-Hasan menyalip keunggulan Bobby-Surya di menit-menit akhir. (LITBANG KOMPAS)
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
Yohanes Mega HendartoEditor:
Yohan Wahyu