Survei Litbang Kompas: ”Iket” Dedi Mulyadi Mengikat Tanah Sunda

Elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan mengungguli tiga kandidat lain. Pendekatan kultural menjadi kekuatan pasangan ini.

14 Nov 2024 01:10 WIB · Politik & Hukum

Oleh Vincentius Gitiyarko

Dalam berbagai kesempatan, Dedi Mulyadi kerap kali tampil dengan ikat kepala atau biasa disebut oleh orang Sunda sebagai iket. Kehadirannya dengan simbol tradisional itu menjadi pendekatan budaya yang ampuh untuk mendulang kesukaan dan elektabilitas dari calon pemilih menjelang Pilkada Jawa Barat 2024.

Survei Litbang Kompas di Pilkada Jabar menunjukkan tingkat kesukaan terhadap pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan mencapai 92,1 persen. Angka kesukaan ini dominan melampaui tiga pasangan calon yang lain. Pesaing terdekat, Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, disukai oleh 69,5 persen responden. Angka tersebut diikuti berturut-turut oleh pasangan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja (63,1 persen) dan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina (62,9 persen).

Tingkat kesukaan responden terhadap keempat pasangan tersebut berbanding lurus dengan tingkat keterpilihannya. Elektabilitas tertinggi dalam survei ini diraup secara dominan oleh Dedi-Erwan dengan angka 65 persen. Berselisih lebar tertinggal, Syaikhu-Ilham mengantongi elektabilitas 9 persen. Angka elektabilitas ini diikuti oleh pasangan Jeje-Ronal (4,6 persen) dan Acep-Gitalis (4,1 persen).

Keberhasilan Dedi-Erwan mendominasi angka elektabilitas untuk sementara ini pertama-tama dapat dipahami dari keunggulan ”start” yang lebih dahulu dilakukan ketimbang pasangan lainnya. Dalam survei Litbang Kompas periode Juli 2024, nama Dedi Mulyadi mendapat angka elektabilitas 12,2 persen, mengekor Ridwan Kamil yang berada di posisi pertama dengan 36,6 persen.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi memberikan sambutan dalam kunjungannya di Kalteng, Kamis (7/11/2019). Menurutnya, perlu ada anggaran khusus pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang fokus pada pemberdayaan masyarakat di desa dan kelurahan.

Berbicara mengenai titik pijak awal, selain nama yang sudah mulai mencuat di pertengahan tahun, menjadi penting pula pendekatan kultural yang dilakukan oleh Dedi dalam upaya menarik simpati calon pemilih. Angka elektabilitas yang dominan mengindikasikan pendekatan budaya yang dilakukan oleh Dedi selaras dengan corak politik masyarakat Sunda.

Dilihat dalam berbagai kesempatan, Dedi memainkan komunikasi politik yang mencitrakan dirinya sebagai orang asli Sunda dan sosok yang dekat dengan rakyat. Hal ini ditangkap pula dalam survei ini dengan 55,1 persen responden yang menilai karakter personal (kemampuan memimpin, merakyat, berwibawa) menjadi kelebihan pasangan Dedi-Erwan.

Selain itu, sebanyak 16,7 persen responden menilai kelebihannya terletak pada kinerja dan pengalaman. Menariknya, 13,2 persen responden melihat kelebihan Dedi-Erwan banyak memberi bantuan. Penilaian soal kinerja dan karakter personal sebenarnya juga tersematkan pada ketiga pasangan lainnya.

Penilaian terhadap kelebihan pasangan Syaikhu-Ilham pun cenderung terletak pada kinerja dan pengalaman (17,6 persen) dan karakter personal (12,7 persen). Dengan angka yang relatif mirip, kelebihan yang dilihat pada paslon Jeje-Ronal dan Acep-Gitalis juga lebih kepada karakter personal. Pertanyaannya, mengapa karakter Dedi Mulyadi yang lebih kuat mendapat penilaian positif di atas 50 persen?

Secara personal, Dedi lebih menonjol mengedepankan karakter kedaerahan Sunda dengan atribut iket atau ikat kepala yang juga akrab disebut totopong oleh orang Sunda. Selain itu, kerap kali dalam pernyataan publik dan pidato, Dedi menggunakan logat Sunda yang kental. Gestur ini nyatanya menjadi modal kultural penting untuk meningkatkan citra lokalitas Dedi di mata calon pemilih Jawa Barat.

Dedi Mulyadi menyapa para pendukungnya dalam kirab dari Lapangan Sidolig, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (27/8/2024). Bersama puluhan penampil seni tradisional Jabar dan ratusan pendukungnya, pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan ini menuju Komisi Pemilihan Umum Jabar untuk mendaftar sebagai calon gubernur.

 

Strategi pendekatan budaya Dedi Mulyadi

Selain memiliki titik pijak cenderung lebih awal, Dedi Mulyadi tampak berhasil melakukan pendekatan budaya yang sesuai. Iket yang dikenakan oleh Dedi sebagai identitasnya bukan sekadar gimik menuju pilkada tahun ini. Jauh sebelumnya, ketika menjadi Bupati Purwakarta dua periode, totopong sudah lekat dengan sosok Dedi.

Jika ditelusuri dalam sebuah pidatonya, Dedi sempat mengungkapkan makna di balik iket dalam bahasa Sunda, yakni cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket. Ungkapan tersebut kurang lebih berarti memimpin dengan hati dan ketulusan jiwa. Iket digunakan sebagai simbol agar pemimpin mengikatkan hati dengan pikiran demi kesejahteraan rakyat.

Berbicara soal pendekatan kultur, menjadi penting pula untuk mengamati corak politik masyarakat Sunda. Hasil kajian Pusat Studi Politik dan Demokrasi Universitas Padjadjaran dalam webinar bertajuk ”Relasi Kuasa dan Kepemimpinan” pertengahan tahun 2021 mencoba membedah ciri politik orang Sunda. Secara historis, masyarakat Sunda hidup sebagai peladang.

Kondisi sosial ini membuat kekuasaan lebih bersifat lokal dan terbagi di beberapa wilayah. Dengan kata lain, meskipun memiliki kerajaan besar, pola kekuasaan tidak terpusat secara imperium. Corak penataan masyarakatnya pun cenderung ke dalam, bukan penaklukan keluar. Konsekuensinya, calon pemimpin yang memiliki ciri lokal cenderung lebih diterima.

Calon Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (kiri) saat berkunjung ke kantor Redaksi Kompas di Jakarta, Selasa (1/10/2024). Dalam kesempatan itu Dedi banyak berbicara tentang rencananya memajukan Jabar jika terpilih sebagai gubernur. Dedi ditemui oleh Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra. Kompas/Wisnu Widiantoro 01-10-2024

Fenomena sosial ini dikuatkan oleh Jakob Sumardjo dalam buku Sunda: Pola Rasionalitas Budaya (2010). Sumardjo menekankan latar belakang masyarakat Sunda sebagai peladang berpindah menuntut kemampuan beradaptasi dalam keadaan tidak tentu. Dalam situasi ini, secara politik lebih tepat sikap fleksibel dan pragmatis ketimbang ideologis sebab kebutuhan praktis lebih diutamakan.

Artinya, selain sosok pemimpin dekat secara kultural, ia juga harus menunjukkan kemampuan mengatasi permasalahan hidup sehari-hari. Kembali pada temuan Pusat Studi Politik dan Demokrasi Unpad, disebutkan bahwa orang Sunda cenderung memiliki visi yang populis.

Sisi populis ini pun ditangkap responden dalam sosok Dedi Mulyadi. Sekurangnya 13,2 persen responden melihat kelebihan Dedi adalah suka membantu. Karakter yang dipandang sebagai kelebihan ini tidak muncul dalam sosok paslon yang lain.

Berikutnya, pendekatan kultural lain bisa dipandang dari sisi budaya yang lebih populer, yakni sepak bola. Klub sepak bola paling elite di Jawa Barat adalah Persib Bandung. Erwan Setiawan, pendamping Dedi, merupakan putra Umuh Muchtar, Manajer Persib. Basis pendukung sepak bola ini tidak bisa dikesampingkan sekalipun dalam kontestasi politik.

gallery
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 02
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 03
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 04
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 05

 

Mengikat Sunda

Pendekatan budaya yang dilakukan Dedi Mulyadi, dalam survei ini, juga dominan dalam setiap regio sosial budaya. Wilayah Jawa Barat dapat dibagi menjadi enam wilayah sosial budaya, yakni Bandung Raya, Bodebek, Priangan Barat, Priangan Timur, Ciayumajakuning, serta Purwasuka.

Di keenam wilayah ini, suara Dedi-Erwan mendominasi dengan nilai kesemuanya di atas 50 persen. Paling tinggi proporsi pemilih Dedi-Erwan berada di wilayah Purwakarta, Subang, Karawang (Purwasuka) dengan angka 79,4 persen. Wilayah ini pun menjadi basis suara terbesar bagi Dedi saat maju sebagai calon wakil gubernur pada Pilkada 2018 silam saat berpasangan dengan Deddy Mizwar.

Dari sisi yang lain, proporsi pemilih Dedi-Erwan paling rendah, meski tetap dominan, berada di wilayah Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek) dengan angka 58 persen. Di wilayah yang menjadi basis suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, pasangan Syaikhu-Ilham menantang dengan angka 14,2 persen.  

Dengan demikian, sementara ini pasangan Dedi-Erwan mampu mengikat tanah Sunda. Batas-batas wilayah sosial budaya berhasil ditembus untuk mendulang suara dengan pendekatan bercorak lokalitas.

Dalam sisa waktu yang ada, pasangan lain ditantang untuk melakukan pendekatan budaya yang kuat dan program-program bercorak populis yang dapat dirasakan secara nyata oleh calon pemilih. Jika ini berhasil dilakukan, dominasi Dedi-Erwan bisa saja dapat diganggu. (LITBANG KOMPAS)

Kami juga mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Vincentius Gitiyarko
 | 

Editor:

Marcellus Hernowo