Survei Litbang Kompas: Pemilih Ridwan Kamil Menyeberang ke Pasangan Dedi-Erwan

Survei Litbang Kompas merekam pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan mendapat limpahan dukungan dari pendukung Ridwan Kamil di Pilkada Jabar 2024.

14 Nov 2024 03:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Yohan Wahyu

Survei Litbang Kompas merekam, pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan mendapatkan limpahan suara terbesar dari pemilih Ridwan Kamil di Pilkada Jabar tahun 2018.

Limpahan dukungan kepada pasangan calon ini juga ditopang oleh loyalitas pemilih Dedi yang juga pernah berkontestasi di pilkada 5 tahun silam.

Gejala ini terekam dari hasil survei Litbang Kompas di Pilkada Jabar yang digelar pada 1-9 November 2024 lalu. Seperti yang sudah dilaporkan, pasangan Dedi-Erwan mendapat dukungan paling tinggi dari pemilih Jabar dalam survei ini.

Dengan 65 persen angka elektabilitas yang diraihnya, dengan sisa waktu yang semakin dekat dengan hari pemungutan suara, dukungan ini lebih membuka peluang pasangan Dedi-Erwan memenangi pilkada.

Setidaknya salah satu yang membuka peluang bagi pasangan ini adalah masih lebarnya jarak elektabilitas pasangan Dedi-Erwan dengan tiga pasangan calon lainnya.

Jika mempertimbangkan margin of error +/- 3,90 persen, selisih tingkat keterpilihan pasangan ini kurang lebih tujuh kali lipatnya. Artinya, potensi memenangi pilkada lebih banyak dimiliki pasangan Dedi-Erwan.

infografik Elektabilitas Pasangan Calon di Pilkada Jabar 2024 Berdasarkan Pilihan di Pilkada Jabar 2018

Jika ditelusuri latar belakang pemilih pasangan Dedi-Erwan, terutama jika dikaitkan dengan pilihan mereka saat di Pilkada Jabar 2018, sebagian besar pemilih Ridwan Kamil yang saat itu berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum menyeberang beralih mendukung pasangan Dedi-Erwan di Pilkada Jabar 2024 ini.

Sebanyak 68,1 persen dari kelompok pemilih Ridwan yang saat ini maju menjadi calon gubernur Jakarta tersebut memberikan dukungan kepada pasangan Dedi-Erwan.

Pola yang relatif sama juga didapatkan dari kelompok pemilih Dedi saat maju di Pilkada Jabar 2018 lalu. Saat itu Dedi menjadi calon wakil gubernur mendampingi calon gubernur Deddy Mizwar.

Sebanyak 85,3 persen pemilih Deddy-Dedi di pilkada 5 tahun lalu berniat akan mencoblos pasangan Dedi-Erwan di pilkada yang akan digelar pada 27 November 2024 mendatang.

Hal ini makin menegaskan, Dedi Mulyadi mendapatkan limpahan pemilihnya dulu atau pemilih loyalnya yang setia memberikan dukungan kepadanya.

Artinya, pendukung Dedi-Erwan ini adalah pertemuan antara pemilih Ridwan Kamil dan pemilih Dedi Mulyadi saat bertarung di Pilkada 2018.

Tak heran jika kemudian dengan angka elektabilitas mencapai 65 persen, pasangan Dedi-Erwan sebenarnya di atas kertas sudah mengantongi ceruk pemilih terbesar yang sejauh ini memang masih didominasi pemilih Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi.

Setidaknya ini mengutip hasil survei Litbang Kompas pada Juni lalu jauh sebelum ada pasangan calon resmi dan pendaftaran, yang merekam tingkat elektabilitas Ridwan Kamil saat itu mencapai 36,6 persen dan di urutan berikutnya Dedi Mulyadi dengan tingkat keterpilihan mencapai 12,1 persen.

Jadi, polanya makin jelas penopang elektabilitas Dedi-Erwan tak bisa dilepaskan dari loyalitas pemilih Ridwan Kamil yang kemudian mengalihkan dukungan ke Dedi setelah Ridwan tidak maju lagi di Pilkada Jabar, tetapi pindah ke Pilkada Jakarta. Loyalitas pemilih Ridwan ini bertemu dengan loyalitas pemilih Dedi Mulyadi.

Loyalitas pemilih PDI-P

Pola yang relatif serupa dialami kelompok pemilih pasangan Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan yang berlaga di Pilkada Jabar 2018.

Dari kelompok pemilih pasangan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini, sebagian besar (66,7 persen) akan tetap melabuhkan pilihan kepada pasangan calon yang juga diusung partai berlambang kepala banteng mulut putih ini.

Hal ini menegaskan pemilih PDI-P relatif linier dengan pilihan partai politiknya yang di Pilkada 2024 ini mengusung pasangan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja.

Meskipun tingkat keterpilihannya di pilkada tahun ini belum menunjukkan angka maksimal, pasangan Jeje-Ronal setidaknya masih bisa berharap dengan kerja-kerja mesin partai politik yang dimiliki PDI-P.

Dengan loyalitas pemilih yang dimiliki, PDI-P sebenarnya sudah mempunyai pemilih loyal dan menjadi ceruk pemilih bagi pasangan calon yang diusungnya di pilkada.

Kondisi ini sebenarnya bukan hal baru. Pada Pilkada Jabar 2013, saat itu PDI-P mengusung pasangan kadernya, yakni Diah Pitaloka-Teten Masduki. Pasangan ini juga ditopang oleh pemilih PDI-P.

Apa yang dialami PDI-P sebenarnya juga terjadi di kelompok pemilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Calon gubernur Jabar nomor urut 4, Dedi Mulyadi mengikuti kampanye di Lapangan Kasokandel, Kabupaten Majalengka, Minggu (13/10/2024).

Jika merujuk kelompok responden yang di Pilkada Jabar 2018 memilih pasangan yang diusung PKS dan Gerindra saat itu, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, sebagian besar pemilih pasangan ini akan mencoblos pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie di pilkada tahun ini.

Separuh dari pemilih Sudrajat-Syaikhu akan mengalihkan dukungannya pada pasangan Syaikhu-Ilham. Tentu gejala ini makin memperkuat tesis bagaimana pemilih PKS relatif loyal pada pilihan politik partai.

Memori kemenangan kader PKS, Ahmad Heryawan, di dua Pilkada Jabar bisa menjadi keyakinan bagi pasangan Syaikhu-Ilham.

Dengan elektabilitas pasangan ini yang masih jauh di bawah Dedi-Erwan, peluang pasangan Syaikhu-Ilham semestinya bertumpu pada kerja-kerja mesin partai yang dikenal memiliki kader militan ini.

Pilkada Jabar 2024 akan menjadi ujian penting bagi PKS yang selama ini cukup mewarnai hasil pemilu di Jabar.

Pada akhirnya, survei Litbang Kompas yang menempatkan ada pertemuan antara pemilih loyal Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi, yang pernah berlaga di Pilkada Jabar 2018, akan menjadi modal sosial sekaligus politik bagi pasangan Dedi-Erwan untuk berlaga di Pilkada Jabar 2024 ini.

Tentu, dengan waktu yang tersisa sebelum pemungutan suara, semua pasangan calon memiliki harapan yang sama, yakni sama-sama berharap mendapatkan tambahan elektoral, terutama dari mereka yang masih belum menentukan pilihan. (LITBANG KOMPAS)

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Group Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yohan Wahyu
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo