Keunggulan sementara Bobby-Surya terhadap Edy-Hasan tidak terlepas dari kehadiran faktor identitas sosial yang menjadi kekhasan geopolitik di Sumut.
06 Nov 2024 05:36 WIB · Politik & Hukum
Oleh Bestian Nainggolan - [email protected]
Keunggulan sementara pasangan Bobby Nasution-Surya atas Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala terjadi pada hampir setiap latar belakang identitas sosial berbasis suku bangsa dan agama dalam kesatuan geopolitik Sumatera Utara.
Hasil survei Litbang Kompas pada Oktober 2024 mengungkapkan, calon gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution-Surya mampu mengumpulkan dukungan pemilih sebesar 44,9 persen, terpaut signifikan dengan pesaingnya, Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala (28 persen).
Di samping proporsi suara pemilih yang sudah terdistribusi pada kedua pasangan calon gubernur itu, hasil survei menunjukkan pula masih terdapat sekitar 27,1 persen pemilih yang belum menyatakan pilihannya.
Apabila dielaborasi pada setiap wilayah pertarungan politik, keunggulan pasangan Bobby-Surya terhadap Edy-Hasan terjadi secara merata dengan beberapa variasi besaran konsentrasi penguasaan. Dari 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara, wilayah pertarungan Medan Raya yang meliputi kawasan pusat pemerintahan, seperti Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi, dimenangi Bobby-Surya.
Sebanyak 43,1 persen pemilih di wilayah yang pada pemilu legislatif lalu masuk Dapil I Sumut ini memutuskan memilih Bobby-Surya. Proporsi tersebut terpaut 12,8 persen dari dukungan untuk Edy-Hasan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/0fb4c522-9249-45fb-a8e8-a9697eed88df_jpg.jpg)
Bobby-Surya mendapatkan dukungan terbesar di 19 kabupaten/kota di seputaran Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, dan Nias yang dalam pileg lalu masuk Dapil Sumut II. Lebih dari separuh bagian pemilih di dapil itu mendukung Bobby-Surya.
Persaingan yang terbilang kompetitif terjadi di wilayah Tanjung Balai, Batubara, Asahan, Simalungun, Pematang Siantar, Langkat, Binjai, Karo, Dairi, hingga Pakpak Bharat. Pada 10 kabupaten/kota yang masuk Dapil Sumut III itu, Edy-Hasan mengumpulkan dukungan dari 30,7 persen pemilih, mendekati Bobby-Surya yang didukung 36,8 persen pemilih.
Perbedaan hasil yang terbilang berjarak di antara kedua pasangan calon gubernur (cagub) dan cawagub tersebut menjadi semakin menarik dicermati. Persoalannya, apakah keunggulan sementara Bobby-Surya ini mengindikasikan suatu perubahan format politik baru ataukah hanya sebatas kisah perulangan politik lokal yang terjadi di Sumut?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/6004d679-7490-42f2-b0c7-d630b660971c_jpg.jpg)
Sejauh ini, rumusan pilihan politik warga Sumut dalam setiap kontestasi politik tidak terlepas dari keterlibatan faktor-faktor identitas sosial yang saling berkelindan dalam satuan wilayah politik yang diperebutkan. Fenomena semacam ini ditunjukkan dalam beberapa ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung sebelumnya. Dalam suatu daerah pertarungan, identitas kesukuan, kelompok etnis, serta faktor keagamaan menjadi determinan pilihan pemilih.
Namun, konsekuensinya, di tengah keragaman identitas sosial di Sumut, pemenang pilkada jarang meraih kemenangan telak. Pola persaingan yang sangat kompetitif kerap mewarnai jalannya pilkada.
Ajang pilkada langsung pertama di Sumut pada 2008 yang mengantar kemenangan pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho, misalnya, tidak lepas dari rumusan politik berbasis identitas suku dan agama dalam satu kewilayahan. Syamsul-Gatot hanya menguasai 28,31 persen dari total 4.933.687 pemilih. Syamsul-Gatot menguasai Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Binjai, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai.
Ajang Pilkada 2013 menjadi perulangan kisah. Kali ini, pasangan Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi menjadi gubernur. Dengan penguasaan sekitar 33 persen dari 4.861.467 pengguna hak suara, Gatot-Tengku Erry yang disokong PKS itu menyisihkan calon PDI-P, Effendi Simbolon-Jumiran Abdi (24,3 persen); Gus Irwan Pasaribu-Soekirman yang didukung PAN, Gerindra, PBR, dan PBB (21,13 persen); Amri Tambunan-RE Nainggolan dari Partai Demokrat (12,23 persen); serta calon Golkar dan PPP, Chairuman Harahap-Fadly Nurzal (9,3 persen).
Kombinasi pasangan cagub dan wilayah yang dikuasai tidak terlepas dari persoalan identitas sosial ketimbang faktor politik lain yang melekat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/ad7aa5d5-93cc-40ad-9d81-eb4dd5417482_png.png)
Puncaknya, pada Pilkada 2018. Pola rumusan sama yang mempertautkan faktor latar belakang suku, agama, dalam penguasaan politik di segenap wilayah pertarungan Sumut kali itu menjadi semakin kompetitif lantaran hanya ada dua pasangan calon yang bersaing, yaitu Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah dan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus.
Persaingan bertambah hangat pada Pilkada Sumut 2018. Bahkan, kali ini diperuncing pula oleh imbas politik Pilkada DKI Jakarta yang sempat mempertontonkan konflik politik berbasis identitas sosial. Kehadiran Djarot Saiful Hidayat yang sebelumnya menjadi wakil Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan pasangannya, Sihar Sitorus, yang diusung PDI-P, PPP, PSI, dan PKPI menguak bara laten persaingan identitas politik. Faktor agama yang berkelindan dalam kesatuan identitas kesukuan dan wilayah pertarungan tampak signifikan menjadi pembeda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/ad7aa5d5-93cc-40ad-9d81-eb4dd5417482_png.png)
Dalam ajang pilkada saat itu, Edy-Musa yang diusung Golkar, Gerindra, PKS, Nasdem, dan PAN tersebut mampu meraih 57,58 persen. Sementara rival politiknya, Djarot-Sihar, mengumpulkan suara 42,42 persen. Jika dikaji pada setiap wilayah pertarungan politik, rumusan baku konsentrasi identitas sosial kesukuan, agama, dan wilayah pertarungan kian mengental.
Konsentrasi penguasaan suara Djarot-Sihar terjadi di wilayah penduduk bersuku Batak dan beragam kelompok etnisnya yang khususnya beragama Kristen. Seluruh wilayah kabupaten dan kota di Sumatera Utara bagian tengah yang bersentuhan dengan Danau Toba, seperti Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, hingga ke Pulau Nias memenangkan Djarot-Sihar.
Sebaliknya, kawasan dengan dominasi suku dan kelompok etnis Melayu, Mandailing, dan kelompok suku lain yang umumnya beragama Islam dan tersebar di wilayah Medan Raya, mulai dari Medan, Deli Serdang, Binjai, kabupaten-kabupaten di Pantai Timur Sumatera, seperti Labuhan Batu, hingga sejumlah kabupaten di Tapanuli Selatan, menjadi wilayah penguasaan Edy-Musa.
Dalam ajang Pilkada Sumut 2024 kali ini, keunggulan sementara Bobby-Surya terhadap Edy-Hasan tampaknya juga tidak berbeda dengan rumusan politik sebelumnya. Kehadiran faktor identitas sosial yang berpotensi membawa keunggulan pasangan calon gubernur masih dapat diidentifikasi.
Perbedaannya, apabila pada pola kontestasi pilkada sebelumnya faktor identitas sosial, seperti suku dan keagamaan, melekat serta sekaligus membedakan pada setiap daerah pertarungan politik, kali ini justru terjadi bersanding di setiap daerah.
Konvergensi identitas sosial yang terjadi, khususnya pada pasangan Bobby-Surya inilah yang mengantar keunggulan sementara pasangan ini ketimbang Edy-Hasan. Kondisi demikian tergambarkan dari hasil survei. Apabila dipilah berdasarkan latar belakang suku bangsa ataupun etnisitas pemilih, misalnya, survei menunjukkan keunggulan Bobby-Surya terjadi merata pada setiap lapisan suku bangsa dan kelompok etnik di Sumut.
Suku-suku dengan proporsi besar di Sumut, seperti Jawa, Batak Toba, Karo, dan Mandailing, yang dalam banyak ajang pilkada sebelumnya terpilah, kini cenderung menunjukkan pilihan yang sama, tertuju pada pasangan Bobby-Surya. Keunggulan pasangan Edy-Hasan cenderung lebih disokong kelompok suku Melayu, Minang, ataupun subetnik Batak lainnya.
Konsekuensi lainnya dari divergensi identitas sosial kesukuan ini juga tampak pada identitas keagamaan. Hasil survei menunjukkan, pasangan Bobby-Surya mendapatkan dukungan terbesar dari setiap identitas keagamaan. Tidak kurang dari 39,8 persen pemilih beragama Islam menyatakan dukungan kepada Bobby-Surya dan cukup signifikan perbedaannya dengan dukungan yang diraih Edy-Hasan.
Pada sisi lain, dari pemilih beridentitas agama selain Islam justru semakin besar dukungan yang diberikan kepada Bobby-Surya. Semua fakta ini tidak lepas dari kecenderungan terkonvergensinya identitas sosial di Sumut yang selama ini terpilah dalam pilihan politik kepala daerah. (Litbang Kompas)
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Group Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
Bestian NainggolanEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi undefined