Gerakan antikorupsi biasanya berakhir dengan penangkapan pegawai rendahan, mempermalukan segelintir pejabat, dan seruan moral baru. Namun, korupsi jalan terus.
26 Agt 2025 07:00 WIB · Internasional
Nama pasangan suami istri pemilik perusahaan konstruksi St Gerrard Construction and Development Corporation, Pacifico ”Curlee” Discaya II dan Sarah, melambung setelah video yang menceritakan kekayaan keduanya viral pada akhir September 2024.
Di video yang ditayangkan di kanal Youtube wartawan TV5 Julius Babao itu keduanya memamerkan koleksi 40 mobil mewah di garasi mereka. Di antaranya terdapat Bentley, Mercedes Benz Maybach GLS, dan Rolls-Royce Cullinan yang joknya diganti dengan warna jenama mewah Hermes.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/756b7a0b-8c9c-4c52-a82c-fd7f12b58422_jpg.jpg)
Pada waktu itu, Sarah Discaya sedang gencar meningkatkan profil publiknya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan wali kota Pasig, Filipina. Lawannya ketika itu petahana Wali Kota Pasig Vico Sotto. Sarah kalah dan Sotto kembali menjabat.
Video itu jadi viral lagi baru-baru ini setelah aktris Filipina, Carla Abellana, membagikan video itu. Netizen lalu geger karena Abellana menyoroti total kekayaan pasangan Discaya yang fantastis. Keduanya berasal dari daerah Pasig yang didera bencana banjir pada Juli 2025.
Unggahan baru itu menyoroti kembali gaya hidup mewah sejumlah pejabat Filipina. Wali Kota Pasig Vico Sotto juga menyoroti vlog Babao.
Harian Inquirer, Minggu (24/8/2025), menyebutkan, Sotto sedang mengajukan permohonan kebebasan informasi untuk mengakses beberapa dokumen. Di antaranya dokumen terkait proyek-proyek pengendalian banjir kota.
Ia butuh dokumen yang memberikan informasi rinci suatu proyek, seperti material yang digunakan dan durasi proyek. Itu dikarenakan ia menduga ada pejabat terlibat korupsi dalam proyek-proyek tersebut.
Sotto mengatakan, korupsi dalam pengadaan pemerintah sudah jadi rahasia umum di sektor publik. Korupsi biasanya terjadi sejak tahap awal atau pada proses pengadaan atau penawaran. Sotto dikenal karena sering melaporkan anomali dalam proyek-proyek pemerintah.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr meminta para pejabat Filipina untuk mencontoh Sotto. Pemerintahan Marcos Jr mengalokasikan Rp 100 miliar dari total anggaran Rp 545 miliar untuk proyek mitigasi banjir dari Juli 2022 hingga Mei 2025. Semuanya dikerjakan oleh 15 dari 2.409 kontraktor terakreditasi.
Tak lama setelah Marcos Jr mengungkapkan hal itu, Sotto menuding dua dari 15 kontraktor yang memenangi mayoritas proyek pengendalian banjir. Kedua perusahaan itu dikabarkan dimiliki pasangan Discaya, yakni Alpha & Omega Gen. Contractor & Development Corp dan St. Timothy Construction Corp.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/07/21/c55d84aa-dfe5-4748-9425-9f117f3bf4c8_jpg.jpg)
Namun, pasangan Discaya membantah ada hubungan dengan kedua perusahaan itu. Senat Filipina, 19 Agustus lalu, mulai menyelidiki proyek-proyek pengendalian banjir pemerintah dan para kontraktornya.
Namun, banyak yang tidak hadir, termasuk Sarah Discaya. Senat akan kembali memanggil mereka. Jika mereka mangkir, sanksi berat menanti.
Harian The Manila Times menyebutkan, kasus dugaan korupsi ini kemudian jadi melebar ke mana-mana. Itu karena Sotto dalam akunnya di media sosialnya, Facebook, Kamis, mengecam media-media yang memuat kekayaan pasangan Discaya. Ada dua orang yang merasa terpojok, yakni Babao dan Korina Sanchez yang juga mewawancarai pasangan Discaya.
Sotto menuding media menerima uang 10 juta peso atau Rp 2,9 miliar dari para koruptor dengan membuat ”liputan berbayar”. Ini disebutnya memalukan dan melanggar kode etik jurnalistik. Babao dan Korina (produser Rated Korina dan Korina Interviews) membantah tuduhan Sotto itu.
Sarah terlahir dari keluarga pekerja Filipina di luar negeri. Harian The Philippine Star, 18 Agustus 2025, menyebutkan, orangtua Sarah sama-sama bekerja sebagai pelayan di hotel yang sama di London, Inggris.
London juga menjadi kota tempat Sarah menyelesaikan pendidikan dasarnya. Sarah kemudian mengambil jurusan administrasi bisnis di La Consolacion College dan Pasig Catholic College, Filipina. Di situ, ia kemungkinan besar bertemu dengan Curlee.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/01/1f578e14-5770-47e5-846f-3d94c43ad73a_jpg.jpg)
Menurut wawancara yang dilakukan Sarah saat hendak mencalonkan diri sebagai wali kota Pasig, Sarah memulai kariernya sebagai resepsionis. Ia kemudian meniti karier hingga menjadi kepala keuangan dan manajer pemasaran di beberapa perusahaan konstruksi.
Itu termasuk prestasi mengesankan bagi seorang perempuan berlatar keluarga sederhana. Narasi itu yang dia kembangkan saat kampanye. Sementara Curlee digambarkan sebagai seorang filantropis dan wirausaha.
Sotto menghubungkan pasangan Discaya dengan sembilan kontraktor atau perusahaan konstruksi. Perusahaan-perusahaan tersebut antara tahun 2022 dan 2025 dilaporkan telah mengantongi 403 kontrak pengendalian banjir dengan biaya proyek mencapai hampir Rp 30 miliar.
Saat kampanye wali kota, Sarah membeberkan apa saja yang akan dilakukannya jika terpilih. Semuanya melibatkan proyek konstruksi. Salah satu perusahaan yang terkait Discaya, St Timothy Construction Corp, disoroti karena tanggul yang jebol pada salah satu proyek pengendalian banjirnya.
Pemerintah daerah mendapatkan keluhan dari masyarakat mengenai pembangunan struktur pengendalian banjir dan anak-anak sungai di sepanjang Sungai Culiat di Kota Quezon. Kota ini mengalami banjir ekstrem pada awal musim hujan tahun ini. Warga menyalahkan banjir terjadi karena anak sungai seharusnya dikeruk. Namun, hal itu tidak dilakukan.
Dasar sungai justru diaspal dengan beton. Ini membuat jalur air menjadi lebih dangkal. Kontrak untuk membuat jalur air itu pada tahun 2022 diberikan kepada dua perusahaan berbeda, yakni Tuchar Construction Corp dan El Anolin Construction. Kasus ini juga sedang diselidiki pemerintahan Marcos Jr.
Profesor emeritus Sosiologi di Universitas Filipina Diliman yang juga pengisi kolom Harian Philippine Daily Inquirer, Randolf Siongco David, mengatakan, gerakan antikorupsi di Filipina biasanya berakhir dengan penangkapan beberapa pegawai rendahan, mempermalukan segelintir pejabat di depan umum, dan seruan baru untuk pembaruan moral. Namun, seiring memudarnya ingatan, semuanya dimaafkan. Bisnis politik tetap berjalan seperti biasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/21/b92ac0a8-9878-4550-960f-b693a8fff530_png.png)
Ia menilai, ketika korupsi menjadi rutinitas, warga berhenti menuntut akuntabilitas. Lembaga-lembaga kehilangan kredibilitas dan hukum hanya diterapkan kepada mereka yang tak berdaya.
Hal ini melahirkan budaya di mana impunitas merajalela dan proyek-proyek pemerintah—seperti sistem pengendalian banjir yang seharusnya menyelamatkan nyawa—menjadi alat penjarahan, alih-alih perlindungan.
Jika korupsi ingin diberantas, warga harus berhenti menjadikannya hal yang lazim dalam kehidupan sehari-hari. ”Jika pejabat publik ingin memutus pola korupsi, mereka harus memutuskan semua ikatan dengan kepentingan bisnis mereka. Jika bisnis jadi pilihan utama mereka, keluar saja dari pemerintahan,” kata David.
Jika rakyat sudah muak dengan korupsi, lanjut David, bisa jadi rakyat akan melawan. Ini pernah terjadi pada tahun 1986 ketika Cory Aquino menantang Ferdinand Marcos. Rakyat dapat mengesampingkan rasa takut dan bujukan material untuk menggulingkan diktator.
”Sudah ada buktinya, orang-orang yang tidak dikenal dan tak punya banyak uang bisa menggerakkan rakyat untuk menggulingkan dinasti-dinasti yang mengakar di Filipina,” ujarnya.
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto