Hanya ada satu tunggal putri Indonesia yang menjuarai All England. Dia tak lain adalah salah satu pebulu tangkis terbaik dunia, Susy Susanti.
04 Mar 2026 13:00 WIB · Olahraga
KOMPAS
Susy Susanti tidak hanya layak disebut sebagai atlet bulu tangkis tunggal putri terbaik, tetapi juga atlet putri terbaik Indonesia. Susy bahkan bisa disebut sebagai salah satu pebulu tangkis tunggal putri terbaik dunia.
Dia mempunyai medali emas Olimpiade Barcelona 1992, gelar juara dunia 1993, lima gelar Piala Dunia, turut mengantarkan Indonesia menjadi juara Piala Sudirman 1989, juga Piala Uber 1994 dan 1996.
Pada pentas All England, Susy bahkan menjadi satu-satunya juara tunggal putri asal Indonesia. Sosok yang saat ini berusia 55 tahun tersebut menjuarai All England 1990, 1991, dan 1993 saat turnamen digelar di Wembley, London, lalu pada 1994 ketika ajang itu dipindahkan ke Birmingham.
Setelah itu, tidak ada tunggal putri Indonesia yang bisa mendekat Susy, bahkan tampil di final. Susy menjadi salah satu dari sedikit atlet Indonesia di sektor tersebut yang bisa menembus semifinal setelah terakhir kali juara pada 1994.
Susy mencapai semifinal pada dua penyelenggaraan berikutnya. Selain Susy, hanya ada Mia Audina yang mencapai semifinal pada tahun 2000 sebelum kalah dari Gong Zhi Chao.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/27/dced7051-e13f-4da1-9f03-4973f3b48837.jpg)
Saat andalan tunggal putri Indonesia berganti, dari Maria Kristin Yulianti, Maria Febe Kusumastuti, Linda Wenifanetri, Fitriani, hingga Gregoria Mariska Tunjung, hasil terbaik di ajang All England adalah perempat final. Itu pun hanya didapat oleh Linda pada 2013 serta Gregoria yang mencapainya pada 2023-2025.
Tampil di All England memang menuntut faktor yang berbeda dari setiap pesertanya. All England memiliki nilai prestise berbeda di mata atlet meski, pada saat ini, terdapat tiga turnamen lain yang selevel, yaitu Malaysia Terbuka, Indonesia Terbuka, dan China Terbuka. Keempat turnamen itu berkategori BWF World Tour Super 1000.
All England, sebagai turnamen bulu tangkis tertua yang digelar sejak 1899, dinilai memiliki nuansa ”magis”. Atmosfer ini pun memunculkan rasa tegang dan tekanan lebih besar. Maka, atlet harus memiliki mental pejuang yang tinggi.
Susy memiliki karakter itu. Di balik pembawaan yang tenang, dia punya mental baja hingga empat kali meraih gelar All England. Kompas pun menjadi saksi mata ketika Susy menjadi juara.
Berikut ini rangkuman tulisan Kompas tentang Susy di All England 1990, 1991, 1993, dan 1994:
Sekitar lima ribu penonton Wembley Arena menyambut dengan tepuk sorak ketika gadis asal Tasikmalaya, Susy Susanti, mengukir sejarah baru di All England. Untuk pertama kalinya, pemain putri Indonesia tampil sebagai juara di ”kejuaraan dunia tak resmi” di London ini.
Susy, yang tampil gemulai seperti biasanya, menundukkan rivalnya dari China, Huang Hua, dengan relatif mudah, 12-11, 11-1. Prestasi yang dicapai Susy membuahkan kebanggaan tersendiri bagi penggemar bulu tangkis Indonesia. Selama ini, Indonesia hanya mampu meloloskan tunggal putri ke final, melalui Minarni pada tahun 1968, Verawaty (1980), dan Susy pada 1989.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/27/d6f4073b-e146-4f0e-abdd-28b0af4e32e9.jpg)
Walaupun tampaknya mantap, tegar, bermental baja, Susy merasa gugup begitu partai final melawan Huang Hua dimulai Sabtu sore, 17 Maret, di Wembley Arena. ”Tetapi, setelah shadow playing dan bermain, sedikit demi sedikit perasaan itu hilang,” kata Susy kepada wartawan Kompas, Hendry CH Bangun, di London.
Faktor kunci gelar juara yang diraih Susy sebenarnya terjadi di semifinal ketika berhadapan dengan Zhou Lei, lawan yang lebih menyulitkan. Beberapa saat sebelum partai semifinalnya, Susy berkata, di titik itulah penentuan apakah dia dapat menjadi juara All England atau tidak. ”Zhou Lei lebih berat, sebab sama seperti saya, dia juga pemain bertahan. Adu reli, adu kuat,” kata Susy yang akhirnya menang 2-11, 11-5, 11-9.
Dalam artikel lain, yang ditulis Dedi Muhtadi, diceritakan bahwa turnamen Jakarta Terbuka 1983 menjadi pintu gerbang bagi Susy menuju pentas internasional. Dalam tulisan berjudul ”Susy ’Gadungan’, Susy Kelas Dunia” diceritakan, Susy bermain dalam turnamen itu untuk menggantikan pemain lain yang tak datang, yang juga bernama Susi.
Seandainya saja Susy Susanti tidak jadi menggantikan pemain putri Jakarta, yang namanya juga Susi, di Jakarta Terbuka 1983, barangkali perjalanan karier bulu tangkisnya akan lain. Kejadian yang kebetulan ini ternyata malah membuka lebar jalan Susy Susanti ke jenjang dunia.
Semula, pemain Thailand, Ladawan Mulatsasathorn, akan berpasangan dengan Susi dari PB Dian Jakarta. Entah mengapa, Susi datang terlambat meski pertandingan akan dimulai.
Untuk menyelamatkan muka Indonesia, diam-diam, Susy Susanti yang asal Tasikmalaya dijadikan pengganti Susi Jakarta. Selain nama yang kebetulan sama, pelatih Susy, yaitu Anton, dari Klub Tunas Inti Tasikmalaya tak keberatan. Apalagi, pemain dan pelatih Thailand pun tak tahu apakah Susy yang akhirnya bermain dengannya adalah Susi benar atau Susi ”gadungan”.
Namun, ternyata Susi ”gadungan” dan Ladawan justru tampil sebagai juara ganda putri, mengalahkan pasangan favorit tuan rumah Edwina/Ellen Pongoh di final. Bagi Susy, yang waktu itu masih 12 tahun, pengalaman juara di turnamen yunior Jakarta Terbuka bersama Ladawan itu adalah pengalaman pertamanya di dunia internasional.
”Rasanya seperti mimpi. Kadang, saya tidak percaya Susy kini menjadi pemain dunia, soalnya dia masih anak kemarin sore,” ujar sang ayah, Risad Haditono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/27/85cd6060-14c0-4b0c-95f3-1e7c4590c62c.jpg)
Risad sangat dekat dengan dunia bulu tangkis. Dulu, ia pun pemain bulu tangkis. Walaupun hanya kelas Kabupaten Tasikmalaya, ia dianggap sebagai ”dedengkot tua” yang menjuarai Tasikmalaya tahun 1960-1964.
Seperti cita-cita orangtua yang lain, Risad ingin anaknya meraih sukses melebihi apa yang diraih orangtuanya. Risad melatih Rudi Gunawan (kakak Susy) dan Susy main bulu tangkis. Cara melatihnya dimulai dari awal. Mula-mula, mereka tidak diperbolehkan memegang raket sebelum teknik pergerakan kaki (footwork) dilakukan dengan benar.
Mulai umur sembilan tahun, Susy dilatih ayahnya berlari-lari seperti mengejar kok di lapangan atau melakukan shadow badminton. Latihan pertama pun tidak di lapangan bulu tangkis, tetapi di jalanan, yakni Jalan Rasamala, tempat keluarga ini tinggal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/5a4b493ea367a84b395880b7e0e4c6fa-All_England_2026_trivia1.jpg)
”Sesekali di lapangan kosong pinggir jalan,” ujar Risad, seraya menunjuk sebidang tanah kosong di samping rumahnya. Sesudah dilatih ayahnya dengan pola dasar itu, barulah Susy dimasukkan ke klub bulu tangkis Tunas Inti Tasikmalaya. Ia didampingi pelatih Anton, juara ganda Tasikmalaya tahun 1960.
Anton, yang juga merupakan uwak (Pakde) Susy, meneruskan proses latihan yang diberikan Risad. Dasar-dasar bulu tangkis yang diberikan Risad ditambah dengan teknik bermain di lapangan.
Setelah juara Jakarta Terbuka 1983, sukses demi sukses diraih Susy hingga bakatnya tercium oleh klub Jaya Raya, Ragunan, Jakarta, yang diasuh juara delapan kali All England, Rudy Hartono. Susy pun hijrah ke Jakarta pada 1985, lalu bergabung ke pelatnas.
Susy dan Ardy B Wiranata mencatat sejarah. Untuk pertama kalinya, Indonesia tampil dengan juara tunggal putra dan putri All England pada 1991. Susy mengalahkan Sarwendah, rekan latihan di pelatnas, 0-11, 11-2, 11-6, di final, sementara Ardy menang atas Foo Kok Keong (Malaysia).
Susy dan Sarwendah merupakan dua pemain yang saling mengalahkan di pelatnas meskipun Susy memiliki reputasi lebih baik di turnamen internasional. Kemampuan Sarwendah menaklukkan Susy di final Piala Dunia 1990 menjadi kejutan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/27/8b12825e-a8d5-4595-9a5a-d11f2927f686.jpg)
Meskipun di latihan berimbang, Susy memiliki mental yang lebih keras dan tabah, tidak mengenal putus asa. Sementara Sarwendah sering tiba-tiba anjlok bagaikan tanah liat yang terkena air bah meski sebenarnya dia tidak kalah hebat dari rekannya yang lebih muda itu.
Atas gelar juara All England 1990, dilaporkan Hendry CH Bangun dan L Sastra Wijaya, Susy dan Ardy mendapat bonus khusus 15.000 dollar AS atau senilai hampir Rp 30 juta (pada saat itu).
Indonesia juga mendapat dua gelar juara di All England 1993, yaitu dari Susy dan Hariyanto Arbi. Susy, yang turun lebih awal, berhasil mengatasi musuh bebuyutannya, Bang Soo-hyun (Korsel), 4-11, 11-4, 11-1.
Susy tampil setelah meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Namun, pada tahun tersebut, dia gagal mewujudkan tekad meraih hattrick juara karena kalah dari Ye Zhao Ying di babak ketiga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/26/a4832140-42c8-47b6-b5b8-90df28b37c0a.jpg)
Kepada wartawan Kompas, L Sastra Wijaya, Susy mengatakan, meski unggul 7-2 atas Bang So-hyun, dia merasa sedikit tegang di awal final. Ini disebabkan dia memiliki beban sebagai pemegang medali emas Olimpiade.
Gelar keempat, yaitu dari All England 1994, didapat Susy setelah mengalahkan Ye Zhao Ying, 11-5, 11-9, di final. Berbeda dengan tiga gelar sebelumnya, gelar ini didapat Susy ketika All England untuk pertama kalinya diselenggarakan di Birmingham, pindah dari Wembley, London.
Walau menang dua set, Susy menolak mengatakan pertandingan melawan Ye Zhaoying merupakan pertandingan paling mudah dari empat final All England yang sudah dimainkannya. ”Ya, semua hampir sama beratlah. Saya justru ketakutan sendiri di set kedua ketika sudah memimpin 10-5 karena ingin cepat-cepat menyelesaikan pertandingan,” katanya kepada L Sastra Wijaya.
Menurut Susy, Ye Zhaoying memang tidak tampil prima seperti yang pernah dilakukannya ketika mengalahkan Susy di final Indonesia Terbuka 1993 di Jakarta. ”Saya kira, sekarang Zhaoying punya beban berat karena menjadi pemain terbaik China. Dia diharapkan menjadi pemimpin dan harus memenangi pertandingan. Sebagai pemain yang masih muda, dia tidak kuat menyandang beban berat tersebut,” kata Susy.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar