Pemerintah memprioritaskan penguasaan sains dan teknologi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Dana abadi LPDP diarahkan untuk mendukung beasiswa dan riset STEM.
09 Agt 2025 15:24 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
BANDUNG, KOMPAS – Pemerintah akan lebih memfokuskan penggunaan beasiswa kuliah dari dana abadi Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan atau LPDP untuk mendukung pengembangan sains dan teknologi di Tanah Air. Pada tahun 2026, alokasi pendanaan beasiswa LPDP akan disesuaikan dengan program prioritas pemerintah di bidang sains dan teknologi, termasuk penentuan perguruan tinggi dan program studi yang selaras dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP Mohammad Lukmanul Hakim di sela-sela pelaksanaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Kebudayaan (Kemendiktisaintek) serta LPDP di Bandung, Sabtu (9/8/2025), mengatakan, pembukaan penerimaan beasiswa LPDP dilakukan dalam dua batch setiap tahun.
”LPDP siap menangkap aspirasi untuk menyesuaikan dengan kepentingan atau kebutuhan di sektor tertentu. Jika Kemendiktisaintek melihat program beasiswa LPDP perlu difokuskan pada bidang tertentu yang perlu diakselerasi, kami mendukung. Penyesuaian mungkin dimulai tahun 2026. Pendaftar akan diarahkan untuk memilih bidang-bidang keahlian yang dibutuhkan negara,” tutur Lukmanul.
Pendaftar juga diarahkan untuk memilih prodi di perguruan tinggi yang sudah ditetapkan.
Menurut Lukmanul, untuk beasiswa LPDP, saat ini pendaftar bebas memilih perguruan tinggi dan program studi (prodi) di dalam dan luar negeri dengan mengacu pada daftar yang disiapkan LPDP. Pada 2026, akan ada penyesuaian bahwa pendaftar yang memilih bidang STEM lebih diprioritaskan karena mendapat nilai plus. Pendaftar juga diarahkan untuk memilih prodi di perguruan tinggi yang sudah ditetapkan.
”Sebenarnya saat ini sudah ada daftar perguruan tinggi yang bisa dipilih. Nanti tinggal mencocokkan sektor mana yang dipilih dan difokuskan, sehingga nanti ditetapkan perguruan tinggi dan program studi yang bisa dipilih,” ujar Lukmanul.
Sebelumnya, Kamis (7/8/2025), Menteri Keuangan Sri Mulyani di acara pembukaan menyatakan sudah ada pembahasan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dengan Kemendiktisaintek tentang pemanfaatan dana abadi pendidikan LPDP untuk mendukung penguatan bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Bahkan, untuk jurusan dan kampus yang dipilih penerima beasiswa dari LPDP, terutama untuk universitas top dunia, difokuskan pada bidang STEM guna mendukung kemajuan industri strategis nasional.
Pemerintah menetapkan delapan bidang prioritas untuk riset nasional, meliputi pangan, energi, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi dan industrialisasi, digitalisasi (termasuk AI dan semikonduktor), serta material dan manufaktur maju. Kedelapan bidang tersebut merupakan arahan khusus dari Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju.
Mulyani mengatakan, Kemendiktisaintek akan menentukan perguruan tinggi mana yang akan menjadi tujuan penerima beasiswa LPDP, sekaligus dengan bidang-bidang keahlian yang relevan. Hal ini untuk mengutamakan penguasaan bidang STEM guna mendukung kemajuan industri strategis nasional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/a8e52d5d-a409-4ac5-988d-8ff59079c57c_png.png)
Dana abadi pendidikan saat ini mencapai sekitar Rp 154 triliun. Alokasinya, untuk dana abadi pendidikan sekitar Rp 126 triliun, dana badi penelitian sekitar Rp 12,9 triliun, abadi perguruan tinggi sekitar Rp 10 triliun, dan abadi kebudayaan sekitar Rp 5 triliun.
Terkait dana penelitian, ujar Lukmanul, penggunaan dana penelitian dari LPDP bisa fleksibel dan lintas tahun anggaran. Ada keleluasaan bagi peneliti untuk mengembangkan riset yang berkelanjutan tanpa dibatasi tahun anggaran. Penelitian bisa didanai hingga tiga tahun atau lebih, bergantung pada skema riset.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/09/0ff6554600a88678c5bbeceaae83cefa-LPDP.jpg)
Peraih Nobel Fisika 2011, Profesor Brian Schmidt, di hadapan ribuan ilmuwan dan perwakilan industri di ajang KSTI Indonesia 2025 mengatakan, masa depan pertumbuhan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan membangun ekosistem sains dan teknologi yang berkelanjutan. Riset adalah investasi jangka panjang yang memerlukan konsistensi lebih dari satu dekade.
Schmidt mengemukakan, sebagian besar penemuan ilmiah tidak langsung berdampak pada perekonomian. Namun, jika ada ekosistem yang menghubungkan sains dengan bisnis, penemuan tersebut dapat diubah menjadi inovasi yang membawa kemajuan.
Prioritas nasional
Secara terpisah, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan, arah baru pengelolaan dana abadi pendidikan, riset, dan kebudayaan ditujukan untuk mendukung delapan industri strategis nasional. Transformasi ini menitikberatkan pada efektivitas beasiswa dan sinergi program lintas kementerian.
Pada akhir Juli lalu digelar Rapat Dewan Penyantun LPDP di kantor Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Rapat dipimpin Menko PMK Pratikno dan dihadiri sejumlah menteri terkait lainnya, antara lain Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, serta para direktur jenderal dan pimpinan lembaga riset.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/09/7e14263da6d4b764228cd283bc3bbf5b-alat_kesehatan.jpg)
Brian menyoroti pentingnya pemetaan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) secara terstruktur berdasarkan delapan bidang Astacita serta mendorong agar universitas dalam negeri dapat lebih banyak terlibat melalui skema double degree dan joint supervision dengan kampus top dunia.
”Sudah saatnya kita tidak hanya mengirim ke luar negeri, tetapi menjadikan kampus dalam negeri sebagai bagian dari ekosistem internasional,” ujar Brian.
LPDP melaporkan, hingga pertengahan 2025, total penerima manfaat beasiswa mencapai 669.144 orang, dengan 3.460 proyek riset didanai dan 928 program kebudayaan berjalan. Fokus beasiswa tetap diarahkan ke bidang STEM.
Meskipun diutamakan di bidang STEM, kata Brian, tetap perlu ada fleksibilitas untuk bidang non-STEM yang memiliki orientasi mendukung bidang STEM.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul