TEKNOLOGI

Tahun Robot Pekerja

Jensen Huang, CEO Nvidia, optimistis robot dengan kemampuan setara manusia mulai hadir tahun ini.

24 Jan 2026 07:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Irene Sarwindaningrum

Setelah puluhan tahun hidup sebagai imajinasi film fiksi ilmiah, robot yang mendekati bentuk manusia perlahan keluar dari layar dan masuk ke dunia nyata. Tahun ini diyakini robot humanoid mulai bekerja di pabrik, keamanan, dan layanan jasa. Sistem fisik yang ditenagai akal imitasi ini akan mengubah cara manusia bekerja.

Saat ini, robot humanoid hampir tak pernah ketinggalan di ajang-ajang besar internasional. Di World Economic Forum di Davos, Swiss, robot-robot berbagai rupa berjalan-jalan dan berkegiatan di antara diplomat, awak media, dan pemimpin negara. Robot G1 buatan Unitree, misalnya, melambai kepada awak media, Rabu (21/1/2026).

Panggung utama robot tahun ini adalah Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas, Amerika Serikat, awal Januari lalu. Hampir ke mana pun pengunjung melangkah, robot hadir dalam berbagai wujud. Dari penyedot debu, mesin pemotong rumput, robot pertanian, hingga humanoid yang berjalan, menari, melipat kertas, bahkan bertarung di atas ring.

Jensen Huang, CEO Nvidia, optimistis robot dengan kemampuan setara manusia mulai hadir tahun ini. ”Tahun ini,” kata Huang ketika ditanya kapan robot akan memiliki kemampuan setingkat manusia. ”Karena saya tahu seberapa cepat teknologi bergerak. Anda akan melihat hal-hal yang sangat menakjubkan,” ujarnya, dikutip dari media Sky News, Rabu (7/1/2026).

A photograph taken on January 21, 2026 shows a Unitree G1 Robotic Humanoid model dressed waving to the press in the street of the Alpine resort of Davos during the World Economic Forum (WEF) annual meeting. The World Economic Forum takes place in Davos from January 19 to January 23, 2026. (Photo by INA FASSBENDER / AFP)

Optimisme Huang mencerminkan suasana industri teknologi global. Ada keyakinan bahwa akal imitasi (AI) siap meninggalkan layar gawai dan memasuki dunia fisik. Negara-negara yang sadar akan tantangan dan potensinya berlomba mengembangkannya

Empat tahun setelah ChatGPT diluncurkan ke layar gawai, CES 2026 menandai pergeseran besar. Dari AI berbasis perangkat lunak ke AI yang punya wujud.

AI siap keluar dari layar dan punya anggota badan. Tahun 2026 ini diprediksi menjadi tahun AI yang tak hanya berpikir dan berbicara, tetapi juga bergerak, menyentuh, dan berinteraksi dengan dunia nyata.

Di ajang CES 2026, hampir semua peserta memamerkan produk berlabel AI, dari robotika hingga kendaraan otonom. Sejumlah humanoid sudah bergerak lancar dan berinteraksi nyaris seperti manusia.

The Sharpa North robot uses a camera at the Sharpa booth during the CES tech show Wednesday, Jan. 7, 2026, in Las Vegas. (AP Photo/John Locher)

Robot Sharpa North memotret menggunakan kamera

Namun, banyak juga yang bergerak lambat, kikuk, dan tak terlalu pintar. Banyak robot yang dipamerkan masih bergantung pada kendali jarak jauh ketika menghadapi situasi rumit.

Banyak robot masih menghadapi kendala daya komputasi, baterai, dan kemampuan beradaptasi. Daya tahan sebagian besar baterai robot humanoid masih di bawah enam jam.

Quote

Kami akhirnya memiliki bahan inti untuk membangun bagian yang selama ini hilang dari robot, yaitu otak robot.

Terlepas berbagai kendala, pencapaian terpenting menjadi dasar keyakinan tahun 2026 ini menjadi awal tahun robot. Bagi Nvidia, kunci kebangkitan robot manusia terletak pada satu faktor utama, yaitu otak.

”Kami akhirnya memiliki bahan inti untuk membangun bagian yang selama ini hilang dari robot, yaitu otak robot,” kata Rev Lebaredian, Wakil Presiden Omniverse dan Simulation Technology Nvidia.

”Begitu kami bisa melakukannya, masuk akal untuk membangun tubuh robot, karena kami punya otak untuk dimasukkan ke dalamnya,” ujarnya.

Kemajuan model AI generatif kini mulai diterapkan pada persepsi visual, pengambilan keputusan, dan gerak fisik. Teknik yang sama mulai ditransfer ke interaksi dunia nyata.

Ujian jalan raya

Satu jenis robot telah lolos dari apa yang uji jelajah fisik, yakni mobil tanpa pengemudi. Kendaraan otonom kini beroperasi di sejumlah kota di AS, termasuk sekitar lokasi CES. Robot mobil ini dijadwalkan masuk London pada 2026.

Jalan raya, dengan segala kekacauan dan risikonya, dinilai pas sebagai ujian keandalan robot berpikir. Jika mesin otak AI robot mobil bisa menangani situasi itu, logikanya, robot seharusnya siap menghadapi lingkungan kerja yang lebih teratur.

Sejak 1950-an, imajinasi peradaban robot adalah robot-robot yang mengurus rumah tangga atau pendamping jagoan. Tahun ini, tampaknya imajinasi ini belum akan terwujud.

A dancer performs next to a robot during the launch ceremony of the Mercedes Benz GLB type series production at the plant in  Kecskemet, Hungary on January 19, 2026. (Photo by Attila KISBENEDEK / AFP)

Robot-robot humanoid diperkirakan akan masuk sebagai pekerja, mulai dari pabrik, sektor keamanan, hiburan, hingga sektor kesehatan serta jasa. ”Kami percaya harus mulai dari industri,” kata Robert Playter, CEO Boston Dynamics.

Menurut Playter, Robot akan digunakan di pabrik pada tahun 2028-2030. Mungkin lima tahun setelah itu, robot humanoid baru terjangkau untuk level rumah tangga.

Kekhawatiran soal hilangnya pekerjaan pun muncul. Namun, Huang menepis anggapan robot sebagai ancaman tenaga kerja. ”Robot justru akan menciptakan pekerjaan,” kata Huang.

Nvidia founder and CEO Jensen Huang gestures as he speaks during the World Economic Forum (WEF) annual meeting in Davos on January 21, 2026. The World Economic Forum takes place in Davos from January 19 to January 23, 2026. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP)

Pandangan ini tentu perlu dibaca secara kritis. Sebagai pihak yang paling banyak menangguk untung dari AI, Huang memang selalu memandang AI dengan sangat positif. Bahkan, menurut Huang, robot pekerja bisa mengatasi turunnya angka kelahiran di sejumlah negara.

”Dunia kekurangan tenaga kerja, bukan ribuan, tetapi puluhan juta orang. Dan ini akan memburuk karena penurunan populasi,” ujarnya.

Tentu dari kacamata warga Indonesia, atau negara yang banyak mengalami pemutusan hubungan kerja dan sulitnya mencari kerja, pandangan Huang sulit dicari pembenarannya. Namun, pandangan ini bisa jadi relevan untuk negara-negara seperti Jepang, China, atau Korea Selatan.

Siap kerja

Momen simbolik CES 2026 terjadi ketika Atlas, robot humanoid besutan Boston Dynamics, tampil di panggung publik untuk pertama kali. Robot itu bangkit dari lantai, berjalan mulus, melambaikan tangan, dan menggerakkan kepala.

Boston Dynamics, anak perusahaan Hyundai Motor Group, menyebut versi produk Atlas sudah diproduksi. Atlas akan digunakan di pabrik kendaraan listrik Hyundai di Georgia pada 2028.

Forbes melaporkan, seluruh produksi Atlas untuk 2026 telah terjual. Hyundai menyiapkan pabrik robot dengan kapasitas 30.000 unit per tahun.

Atlas dirancang untuk kerja berat. Ia mampu mengangkat beban besar, beroperasi di lingkungan ekstrem, dan bekerja secara otonom atau melalui kendali jarak jauh.

Otaknya dikembangkan bersama Google DeepMind. ”Ini langkah pertama menuju mimpi lama kami, robot berguna yang suatu hari bisa masuk ke rumah dan membuat hidup lebih aman dan produktif,” kata Playter.

A photograph taken on January 21, 2026 shows Unitree G1 Robotic Humanoid models and a Unitree Go2-W (Wheeled) Robot (R) walking in the street of the Alpine resort of Davos during the World Economic Forum (WEF) annual meeting. The World Economic Forum takes place in Davos from January 19 to January 23, 2026. (Photo by INA FASSBENDER / AFP)

Deretan robot di CES 2026 bukan sekadar etalase inovasi. Perhelatan tahun ini mencerminkan peta persaingan global dalam pengembangan humanoid. Sejumlah negara memamerkan robotnya.

Dari Eropa, robotika Italia memamerkan humanoid dan sistem AI fisik untuk industri dan layanan kesehatan. Dari Singapura, perusahaan memamerkan robot mobilitas otonom EV1. Robot ini berupa kursi bergerak tanpa pengemudi untuk membantu mobilitas di ruang publik dan fasilitas kesehatan.

Perusahaan dari AS tampil sebagai penyedia otak dan fondasi teknologi utama, mulai dari Nvidia, Google DeepMind, hingga Boston Dynamics. Korea Selatan, melalui Hyundai dan LG, menempatkan robot sebagai bagian dari strategi manufaktur dan otomotif jangka panjang.

The Beatbot RoboTurtle �Turtini� prototype swimming turtle robot for monitoring water quality, studying wildlife and assisting disaster response is demonstrated during the annual Consumer Electronics Show (CES) in Las Vegas, Nevada on January 7, 2026. (Photo by Patrick T. Fallon / AFP)

Prototipe robot kura-kura Beatbot RoboTurtle Turtini saat dicoba untuk berenang.  Robot ini dapat digunakan untuk memantau kualitas air, mempelajari satwa liar, dan membantu penanggulangan bencana.

Namun, dominasi China tak terbantahkan. Menurut data resmi dari CES 2026, dalam kategori robotika humanoid terdapat 38 peserta ekshibitor, dengan 21 di antaranya atau 55 persen berasal dari China.

Gambaran ini sejalan dengan temuan Counterpoint Research. Penelitian itu menilai 2025 sebagai titik ambang komersial humanoid dan 2026 sebagai awal robot pekerja masuk industri.

Counterpoint mencatat, pada 2025, sebanyak 16.000 robot humanoid dipasang secara global. Lebih dari 80 persen di antaranya di China. Lima produsen menguasai 73 persen pasar global, empat di antaranya perusahaan China. AGIBOT memimpin dengan 31 persen pangsa pasar, diikuti Unitree Robotics dengan 27 persen.

Counterpoint memprediksi 2026 sebagai fase ekspansi kapasitas dan penurunan biaya, dengan model robot as a service mendorong adopsi industri. Pada 2027, basis terpasang global diperkirakan menembus 100.000 unit.

Ibarat dua sisi mata uang, teknologi selalu disertai optimisme dan tantangan. Belum selesai disrupsi AI, kita harus bersiap untuk disrupsi robot pekerja. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti