Tahun Terakhir Keberadaan Es di Puncak Jaya

Umur es di Puncak Jaya, Papua, diperkirakan hanya tinggal setahun lagi, sebelum sepenuhnya hilang pada tahun 2026.

12 Des 2024 19:02 WIB · Nasional

Oleh Ahmad Arif

Lapisan es, yang terbentuk dari timbunan salju selama ribuan tahun di Puncak Jaya, Papua, yang dulu kerap dianggap abadi itu kini menuju musnah. Pemanasan global menyebabkan luasan ataupun ketebalan es di salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia ini menyusut drastis dan diprediksi hilang sepenuhnya sebelum tahun 2026.

Gletser atau lapisan es di Puncak Jaya di jajaran Pegunungan Sudirman ini merupakan keajaiban alam karena terletak di wilayah khatulistiwa, pada garis lintang selatan, yaitu hanya 4 derajat. Wilayah ini biasanya dicirikan oleh hutan hujan tropis yang rimbun dengan suhu rata-rata di permukaan tanah hampir konstan 28 derajat celsius.

Tingginya gunung ini membuat suhu di puncak cukup dingin sehingga tidak hanya memungkinkan terjadinya hujan salju, tetapi juga gletser untuk tumbuh dan berkembang.

Suhu udara diketahui akan turun 0,65-1 derajat celsius untuk setiap ketinggian 100 meter. Dengan ketinggian 4.884 meter dari permukaan laut, suhu di Puncak Jaya bisa di bawah titik beku.

Selama ribuan tahun, akhirnya terbentuk lapisan es, setidaknya hingga saat ini. Namun, tahun 2025 ini kemungkinan menjadi tahun terakhir bagi keberadaan es di Puncak Jaya.

Menyusutnya gletser di Puncak Jaya ini dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang baru melakukan survei lapangan pada 11- 15 November 2024. Mereka menemukan penurunan signifikan, baik luasan ataupun ketebalan es yang ada di Puncak Sudirman, bagian dari Pegunungan Jayawijaya.

Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG Donaldi Sukma Permana menuturkan, luasan tutupan es di Puncak Jaya, bagian Pegunungan Sudirman, pada tahun 2024 menyusut 0,11-0,16 kilometer persegi dari sebelumnya 0,23 kilometer persegi pada 2022.

Hal ini menjadi sinyal buruk bagi Indonesia karena tidak lama lagi salju di Pegunungan Jayawijaya, yang dulu dianggap abadi itu, akan segera punah. ”Sesuai studi kami sebelumnya, gletser di Puncak Jaya, Papua, ini berpotensi hilang sebelum 2026,” katanya.

(a) Skema pipa PVC terhubung yang menggambarkan perubahan ketebalan es pada ENF pada bulan Juni 2010, November 2015 (abu-abu), Mei 2016 (merah), dan November 2016 (biru). Foto udara ENF yang diambil pada (b) Juni 2010, (c) November 2015, (d) November 2016, dan (e) Maret 2018 menunjukkan pemisahan massa es.

BMKG secara rutin memantau gletser di Papua sejak tahun 2010 bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia. Selain mengukur penyusutan luasan, mereka memasang stake, alat pengukur ketebalan es berupa potongan pipa yang disambungkan dengan tali, dan dipantau secara berkala.

Potongan pipa yang terekspos ke permukaan untuk menandakan luasan dan ketebalan es yang menghilang. Pada 2010-2017, pemantauan langsung dilakukan di Puncak Jaya. Setelah tahun 2017, pemantauan secara visual melalui udara dengan flyover karena akses sampai ke puncak sudah tidak memungkinkan.

Menurut Staf Bidang Standardisasi Instrumen Meteorologi BMKG Najib Habibie, hasil monitoring tahun ini menunjukkan ketebalan es di Puncak Jaya hanya tinggal 4 meter. Data ini didapatkan setelah pada tahun 2023 sebanyak 14 stake sudah tersingkap.

”Ketebalan es sudah menyusut signifikan dari hasil pengukuran BMKG sebelumnya, yaitu 32 meter pada tahun 2010, dan 5,6 meter saat November 2015-Mei 2016,” sebut Najib.

Laporan riset Donaldi dan tim yang dipublikasikan di jurnal PNAS pada 2019 menyebut, dari tahun 2002 hingga 2015, luasan gletser di Puncak Jaya berkurang 1,45 kilometer (km) persegi atau 0,11 km persegi per tahun. Pengukuran pada 2018, luasan gletser tinggal 0,46 km persegi.

Turis menikmati pemandangan Gletser San Rafael di wilayah Aysen, Chili selatan, Minggu (13/2/2022). AFP/PABLO COZZAGLIO 13-02-2022 *** Local Caption *** People look at the San Rafael Glacier in the region of Aysen, southern Chile, on February 13, 2022. - The melting of the glaciers is a natural phenomena which climate change has accelerated significantly, told AFP Jorge O'Kuinghttons, chief of the Regional Unit of Glaciology of the General Water Directorate (DGA). (Photo by PABLO COZZAGLIO / AFP)

Selain luasan, ketebalan es terus menyusut dengan cepat. Saat pengukuran pada 3 November 2015 tebal lapisan es menipis hingga 5 meter dengan kecepatan 1,05 meter per tahun sejak 2010. Pengukuran berikutnya pada 31 Mei 2016 terjadi penipisan es 4,26 meter hanya dalam waktu 6 bulan.

Menurut kajian ini, penyusutan amat masif pada 2015-2016 itu disebabkan pada periode ini terjadi El Nino kuat. Pengukuran terakhir pada 23 November 2016, setelah El Nino melemah, terjadi penyusutan 1,43 meter dari penipisan es sejak Mei 2016. Ini mengonfirmasi penipisan es tahunan melambat setelah berakhirnya El Nino.

Secara rata-rata, penyusutan es di Puncak Jaya sekitar 2,7 kali lebih besar dari tingkat rata-rata dari tahun 2010 hingga 2015. El Nino yang kembali terjadi pada 2023 kembali mempercepat penyusutan lapisan es di tahun 2024 ini.

Penanda pemanasan global

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) 2007 mencatat bahwa gletser tropis telah mengalami penyusutan dari titik tertingginya pada pertengahan abad ke-19.

Remaja berjalan di atas Gletser Aletsch saat menemani ahli glasiologi Swiss Matthias Huss melakukan pengukuran terhadap ketinggian gletser terluas di Swiss tersebut. Menurut Huss, gletser seperti termometer raksasa yang menunjukkan kenaikan suhu melalui mencairnya es dan menyusutnya volume. *** Local Caption *** Teenagers walk on the Aletsch Glacier during a visit with Swiss glaciologist Matthias Huss (not pictured) on August 25, 2021. - After hiking for hours across the mountain and a vast expanse of white, Swiss glaciologist Matthias Huss crouches down near the middle of the massive glacier and checks the measurements. Analysis of the data gathered from Aletsch, the largest glacier in the Alps, paints a dire picture of the toll that climate change is taking on the behemoth. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP)

Laporan Andrew G Klein dan Joni L Kincaid dari Texas A&M University, College Station, di Journal of Glaciology menyebutkan, sejak 1970-an, bertepatan dengan dimulainya era satelit Landsat, gletser tropis di Pegunungan Papua telah menyusut dengan cepat.

Sebelumnya, hingga awal abad ke-20, empat area pegunungan Papua ini pernah memiliki gletser. Allison dan Peterson (1989) melaporkan, selain di Puncak Jaya (Carstenz), lapisan es pernah ditemukan di Ngga Pilimsit (Puncak Idenburg), terletak dalam jarak 20 km satu sama lain.

Lapisan es juga pernah ditemukan di Puncak Mandala (Puncak Juliana), terletak beberapa ratus kilometer ke arah timur Puncak Jaya, dan di Puncak Trikora (Wilhelminatop), yang diketahui menopang lapisan es kecil yang lalu menghilang selama periode 1939-1962. Gletser di Ngga Pilimsit dilaporkan telah hilang pada tahun 2003.

Penyusutan es di Puncak Jaya terjadi seiring kenaikan suhu global. Laporan Copernicus Climate Change Service (C3S) Uni Eropa, pekan lalu, menyebut suhu pada November 2024 lebih panas 1,62 derajat celsius di atas tingkat pra-1850, dan merupakan bulan ke-16 suhu permukaan udara global melebihi 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-Revolusi Industri.

Serangkaian penelitian sebelumnya, yang dikurasi oleh Donaldi dan tim, menunjukkan, total luas gletser di Puncak Jaya telah berkurang dari sekitar 19 km persegi pada sekitar tahun 1850 menjadi sekitar 1,8 km persegi pada tahun 2005.

Tak terbantahkan lagi, menurut Donaldi, ”Penyebab utama pencairan es di Puncak Jaya yaitu laju perubahan iklim yang kian tidak terkendali. Fenomena El Nino turut mempercepat kepunahan tutupan es ini.”

<p>Wisatawan mengunjungi gletser Perito Moreno yang berada di kawasan Taman Nasional Los Glaciares, El Calafate, Argentina, Selasa (2/11/2021). Isu pemanasan global dan perubahan iklim menjadi bahasan utama para pemimpin dunia dalam pertemuan  Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim atau COP26. </p><p>Tourists look at the Perito Moreno Glacier from a boat at Los Glaciares National Park near El Calafate, Argentina, Tuesday, Nov. 2, 2021. World leaders are gathered in Scotland at a United Nations climate summit, known as COP26, to push nations to ratchet up their efforts to curb climate change. Experts say the amount of energy unleashed by planetary warming could melt much of the planet&#8217;s ice, raise global sea levels and increase extreme weather events. (AP Photo/Natacha Pisarenko)</p>

Implikasi penyusutan es

Penyusutan es tidak hanya terjadi di Papua. Gletser pegunungan di seluruh dunia saat ini juga mencair, dan gletser di wilayah tropis seperti Puncak Jaya dan Kilimanjaro, Kenya, berada di garis terdepan yang bakal paling depan menghilang.

Di banyak tempat, pemanasan atmosfer telah diidentifikasi sebagai faktor utama yang memengaruhi hilangnya es di pegunungan.

Menurut kajian para peneliti dari Leeds University di jurnal The Cryosphere (2021) menyebut, setengah dari semua penyusutan es dalam kurun 23 tahun terakhir di Bumi terjadi di darat, termasuk 6,1 triliun ton dari gletser gunung, 3,8 triliun ton dari lapisan es Greenland, dan 2,5 triliun ton dari lapisan es antartika.

Pelelehan es ini berkontribusi menaikkan permukaan laut global. Data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut, permukaan laut global meningkat seabad terakhir, dengan laju meningkat beberapa dekade terakhir.

Kondisi lapisan es di Puncak Jaya, Papua pada 14 November 2024. Pemanasan global menyebabkan luasan maupun ketebalan es di salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia ini menyusut drastis dan diprediksi bakal hilang sepenuhnya sebelum tahun 2026.

Sebagai contoh, pada tahun 2014 permukaan laut global 6,6 sentimeter (cm) di atas rata-rata 1993. Permukaan laut terus naik dengan kecepatan sekitar 0,3 cm per tahun.

Diperkirakan, untuk tiap sentimeter, kenaikan permukaan laut sekitar 1 juta orang terancam kehilangan tempat tinggalnya di dataran rendah.

Tak hanya itu, permukaan laut lebih tinggi berarti gelombang badai yang mematikan dan merusak bakal mencapai lebih jauh ke daratan daripada sebelumnya, yang juga berarti lebih sering terjadi banjir.

Melelehnya gletser di gunung juga mengganggu cadangan sumber air tawar. Meski hanya menyimpan 1 persen dari total volume es Bumi, gletser berkontribusi pada hampir seperempat dari kehilangan es global, dengan semua wilayah gletser di seluruh dunia kehilangan es dan otomatis juga sumber air tawar.

Dampak langsung menghilangnya lapisan es di Puncak Jaya pada sistem hidrologi di kawasan sekitarnya belum banyak dikaji. Yang jelas, menghilangnya es dari puncak gunung tertinggi di Indonesia ini jadi penanda nyata pemanasan global yang terjadi di depan mata.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Evy Rachmawati