KETENAGAKERJAAN

Tak Ada Istilah ”Leha-leha” bagi Pekerja Lulusan Sarjana

Kesenjangan pengeluaran dan kenaikan gaji yang timpang membuat pekerja lulusan perguruan tinggi harus merelakan waktu luang untuk mencari cuan tambahan.

28 Feb 2026 16:30 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Priyombodo (PRI)

Oleh Fajar Ramadhan, Albertus Krisna, M Paschalia Judith J, Margaretha Puteri Rosalina

Selama 15 tahun terakhir, lonjakan biaya hidup jauh melampaui pertumbuhan upah pekerja profesional kelas menengah. Kondisi ini membuat mereka harus berjibaku mencari penghasilan tambahan hingga mengorbankan waktu istirahat.

Selama periode 2010-2025, rata-rata pengeluaran bulanan per kapita dari Badan Pusat Statistik (BPS) melonjak 217,3 persen. Sementara kenaikan upah pekerja berpendidikan tinggi yang memiliki pekerjaan sampingan hanya 87,3 persen.

Calon penumpang menanti kereta commuter line di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan pada hari pertama masuk kerja untuk karyawan swasta, Senin (7/4/2025). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Dengan tanggungan keluarga mencapai dua hingga tiga orang, gaji mereka kerap tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini memaksa para pekerja profesional untuk mencari penghasilan tambahan dari berbagai sektor.

Olahan data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional BPS yang dianalisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menunjukkan, jumlah pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan melonjak 69 persen selama 15 tahun terakhir. Lonjakan paling signifikan terjadi pada kelompok pekerja profesional, yang meningkat 11,5 kali lipat.

Dari sisi pendidikan, pekerja bergelar Diploma IV dan Strata I yang memiliki pekerjaan sampingan naik 4,5 kali lipat. Adapun lulusan Strata II dan Strata III yang memiliki pekerjaan tambahan juga meningkat hampir empat kali lipat.

Perwakilan wisudawan menerima ijazah saat upacara wisuda Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada di halaman Balairung UGM, Yogyakarta, Rabu (21/10/2020). Upacara tersebut digelar secara daring dan luring dengan menghadirkan  20 perwakilan  wisudawan. Upacara wisuda yang baru pertama kali digelar UGM selama pandemi ini dilangsungkan dengan protokol kesehatan ketat dan diikuti 3.004 wisudawan program pascasarjana. 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
21-10-2020

Tekanan tersebut akhirnya mendorong kelas menengah bekerja melampaui batas normal. Analisis Kompas menunjukkan, jumlah pekerja calon kelas menengah dan kelas menengah yang bekerja lebih dari 49 jam per minggu melonjak 2,5 kali lipat dalam 15 tahun terakhir. Padahal, ketentuan jam kerja normal dalam Undang-Undang Cipta Kerja menetapkan 40 jam per minggu. 

Sebagian pekerja bahkan tercatat bekerja lebih dari 21 jam per hari selama tujuh hari dalam seminggu. Survei daring Kompas pada awal 2026 menunjukkan, lebih dari 70 persen responden kelas menengah mengaku mengambil pekerjaan tambahan demi menambah penghasilan. Mayoritas juga mengaku mengalami stres akibat beban kerja berlapis.

Pengemudi ojek daring berbincang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (25/2/2026). KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 25-02-2026

Ketidakpastian kerja  

Fenomena meroketnya tren pekerjaan sampingan ini turut didasari oleh kepastian kerja lulusan sarjana yang kian rapuh. Publikasi BPS ”Indikator Pekerja Layak di Indonesia” menunjukkan rata-rata masa kerja (job tenure) lulusan perguruan tinggi ini menurun dari 9,5 tahun pada 2010 menjadi 9,2 tahun pada 2025. Penurunan ini menjadi satu-satunya yang terjadi pada kelompok pendidikan tinggi, sementara jenjang pendidikan lain justru mengalami peningkatan masa kerja. 

Di sisi lain, semakin banyak pekerja yang mengisi pekerjaan di sektor informal sehingga stabilitas kerja mereka kurang terjamin. Data BPS menunjukkan, jumlah pekerja di sektor informal meningkat 72,6 persen selama 7 tahun terakhir. Kenaikan ini jauh lebih besar ketimbang peningkatan jumlah pekerja formal yang hanya 16,6 persen.

Pekerja berada di antara instalasi gas yang didistribusikan untuk rumah tangga dan industri di area PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (28/7/2025). Perluasan jaringan distribusi tersebut didorong pertumbuhan pelanggan dan memenuhi kebutuhan pabrik di kawasan industri Kendal dan Batang. Kompas/Raditya Mahendra Yasa 28-07-2025 *** Local Caption ***

Dalam situasi ekonomi yang serba tak pasti ini, perusahaan juga cenderung menghindari komitmen jangka panjang dalam merekrut pekerja. Mereka lebih memilih skema kerja jangka pendek (short term) dan berbasis proyek (project base) untuk merekrut pekerja yang siap pakai.

Seperti apa ulasan lengkapnya? Nantikan liputannya di Koran Kompas dan Kompas.id mulai Senin (2/3/2026)! 


Kerabat Kerja

Penulis:

Fajar Ramadhan, Albertus Krisna, M Paschalia Judith J, Margaretha Puteri Rosalina
 | 

Editor:

Margaretha Puteri Rosalina
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase