Tiada Kekalahan Ketujuh Beruntun bagi Zheng Qin Wen dari Sabalenka

Zheng Qin Wen melaju ke semifinal turnamen tenis WTA 1000 Roma. Dia menyingkirkan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka.

15 Mei 2025 10:44 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

ROMA, RABU — Terinspirasi dari kutipan terkenal mantan petenis Amerika Serikat, Vitas Gerulaitis, Zheng Qing Wen akhirnya mengalahkan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, setelah enam kali kalah beruntun. Kemenangan itu mengantarkan Zheng untuk bertemu Cori Gauff, petenis yang juga selalu mengalahkannya.

Sebelum bertemu pada perempat final turnamen WTA 1000 Roma, Rabu (14/5/2025) waktu setempat, Zheng tak pernah bisa mengalahkan Sabalenka dalam enam kali pertemuan, termasuk ketika memiliki peluang terdekat pada final WTA 1000 Wuhan 2024. Di depan publiknya sendiri, petenis putri China itu kalah 3-6, 7-5, 3-6. Momen itu menjadi kekalahan keempat Zheng sejak mereka bertemu di arena Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2023.

Pada upaya ketujuh dalam persaingan pertama di luar lapangan keras, barulah Zheng bisa menaklukkan Sabalenka. Di lapangan tanah liat Foro Italico, Roma, Italia, Zheng menang dengan skor 6-4, 6-3.

Momen kemenangan Zheng dibandingkan dengan persaingan sesama petenis putra AS, Gerulaitis dan Jimmy Connors, pada era 1970-an. Setelah selalu kalah dalam 16 pertemuan, Gerulaitis akhirnya mengalahkan Connors pada semifinal turnamen Piala Masters 1979 yang digelar pada awal 1980.

Seusai kemenangan itu, komentar Gerulaitis pun menjadi kutipan terkenal: ”Tak ada yang mengalahkan Gerulaitis 17 kali beruntun”.

Petenis China, Zheng Qin Wen, merayakan kemenangannya atas Aryna Sabalenka (Belarus) pada babak perempat final WTA 1000 Roma di Italia, Rabu (14/5/2025) waktu setempat. Zheng menang dengan skor 6-4, 6-3.

Zheng melakukan hal yang sama dalam melawan Sabalenka meskipun dia ”baru” kalah enam kali. Kenyamanan bermain di lapangan tanah liat, dikatakan Zheng, menjadi kunci kemenangannya.

”Selama ini saya mencoba mengalahkannya dan beberapa kali sudah sangat dekat. Ini pertama kalinya kami bertemu di lapangan tanah liat. Saya rasa, saat bermain di tanah liat, saya lebih nyaman karena punya pengalaman baik,” kata Zheng.

Momen terbaik petenis berusia 22 tahun itu di tanah liat adalah ketika meraih medali emas Olimpiade Paris 2024. Dia mendapatkannya di Roland Garros, Paris, lapangan yang biasa digunakan untuk Grand Slam Perancis Terbuka. Salah satu kemenangannya diraih atas petenis terbaik di tanah liat, Iga Swiatek, di semifinal.

Bermain di tanah liat, yang memantulkan bola lebih lambat dibandingkan dengan di lapangan keras dan rumput, Zheng bisa lebih sabar. Kesabaran dalam menahan reli justru membuat Sabalenka membuat banyak kesalahan. Sabalenka membuat 27 unforced error, hampir dua kali lipat dari 15 winner-nya.

Quote

Setelah beberapa kali kalah di semifinal di sini, saya berharap bisa melaju ke final.

Performa tersebut membuat Zheng bisa melewati perempat final, babak yang selalu membuatnya tertahan di WTA Roma dalam dua tahun terakhir. Berikutnya, kenyamanan dan kesabaran Zheng akan diuji oleh Cori Gauff.

Ekspresi petenis Belarus, Aryna Sabalenka, saat menghadapi petenis China, Zheng Qin Wen, pada babak perempat final WTA 1000 Roma di Italia, Rabu (14/5/2025) waktu setempat. Zheng menang dengan skor 6-4, 6-3.

Petenis AS yang lebih sering disapa dengan nama Coco itu selalu menang atas Zheng dalam dua pertemuan, salah satunya, terjadi di turnamen dan tempat yang sama, setahun lalu. Ketika itu, Coco mengalahkan Zheng di perempat final dengan skor 7-6 (4), 6-1.

Coco mendapat tiket semifinal setelah mengalahkan Mirra Andreeva. Kemenangan dengan skor 6-4, 7-6 (5) tak hanya membuat statistik kemenangannya bertambah menjadi 4-0 atas petenis Rusia berusia 18 tahun tersebut, tetapi juga akan mengantarkan Coco ke peringkat kedua dunia. Coco akan naik satu tingkat, menggeser Swiatek, pada peringkat WTA yang akan dikeluarkan awal pekan depan seusai turnamen.

Coco pernah menempati posisi tersebut pada pertengahan Juni 2024. Akan tetapi, setelah itu, dia selalu berada di bawah Sabalenka dan Swiatek. Kembalinya Coco ke peringkat kedua dipengaruhi pula kegagalan Swiatek dalam mempertahankan gelar juara WTA Roma setelah tersingkir pada babak ketiga.

Selama lima bulan musim kompetisi 2025 berjalan, Swiatek gagal mempertahankan empat gelar juara dari level WTA 1000, yaitu di Doha, Indian Wells, Madrid, dan Roma. Petenis yang pernah menempati puncak peringkat dunia itu pun kehilangan banyak poin hingga peringkatnya dipastikan turun.

Petenia Polanda, Iga Swiatek, memukul bola saat menghadapi Danielle Collins (Amerika Serikat) pada babak 32 besar WTA 1000 Roma di Italia, Sabtu (10/5/2025) lalu. Laga itu dimenangi Swiatek.

Rivalitas petenis muda

Perempat final Coco melawan Andreeva menjadi laga antara dua petenis termuda dalam peringkat sepuluh besar dunia. Andreeva, yang akan naik dari peringkat ketujuh menjadi keenam, berusia 18 tahun dan mengikuti langkah Coco (21 tahun) yang menjadi kompetitor petenis top dunia sejak remaja.

Andreeva membuat kejutan dengan menjuarai WTA 1000 secara beruntun pada tahun ini saat tampil di Doha dan Indian Wells. Di Indian Wells, dia mengalahkan Swiatek dan Sabalenka dalam semifinal dan final.

Namun, Andreeva belum bisa menemukan cara untuk mengalahkan Coco. Penampilannya di Roma sebenarnya lebih baik dibandingkan ketika dia kalah dari Coco pada perempat final WTA Madrid, dua pekan lalu. Akan tetapi, Andreeva kalah solid pada momen penting seperti saat tie break. Coco bisa bertahan dalam reli dengan lebih baik yang membuat Andreeva gagal mendapat poin karena kesalahannya.

”Pada akhirnya, siapa yang bisa bertahan lebih baik, dia yang menang. Kami bermain ketat saat tie break. Hari ini saya tidak bermain baik pada beberapa faktor, tetapi saya senang masih bisa bertahan,” tutur Coco dalam laman resmi WTA.

Petenis Amerika Serikat, Coco Gauff, merayakan kemenangannya atas Mirra Andreva (Rusia) pada perempat final turnamen WTA 1000 Roma, Rabu (14/5/2025) di Roma, Italia.

Semifinal melawan Zheng menjadi yang ketiga bagi Coco di Roma setelah 2021 dan 2023. Di WTA Roma 2021, saat peringkat atas tenis putri masih ditempati Ashleigh Barty, Naomi Osaka, dan Simona Halep, Coco membuat kejutan dengan melaju ke babak empat besar.

Dia menyingkirkan Sabalenka pada babak ketiga, Barty di perempat final, sebelum dihentikan Swiatek. Swiatek kembali mengalahkan Coco pada semifinal 2023 dan menjadi juara untuk ketiga kalinya setelah 2020 dan 2021.

”Setelah beberapa kali kalah di semifinal di sini, saya berharap bisa melaju ke final,” ujar Coco.

Semifinal lain mempertemukan andalan tuan rumah, Jasmine Paolini, dengan Peyton Stearns. Bagi kedua petenis, semifinal ini menjadi yang pertama di Roma. Stearns, bahkan, untuk pertama kalinya menembus semifinal WTA 1000.

Petenis AS non-unggulan itu menyingkirkan unggulan dan dua juara Grand Slam dalam perjalanan ke semifinal. Dia mengalahkan juara Australia Terbuka yang menjadi unggulan kelima, Madison Keys, pada babak ketiga. Setelah itu, Stearns menang atas empat kali juara Grand Slam, Naomi Osaka, pada babak keempat, diikuti dengan kemenangan atas unggulan ke-16, Elina Svitolina, pada perempat final.

Carlos Alcaraz konsisten

Dalam persaingan petenis putra di tempat yang sama pada level ATP Masters 1000, Carlos Alcaraz mempertahankan konsistensinya bermain di lapangan tanah liat. Dia melaju ke semifinal setelah mengalahkan Jack Draper 6-4, 6-4.

Alcaraz bertanding di Roma setelah bermain baik pada dua turnamen tanah liat lain. Dia menjuarai Monte Carlo Masters dan mencapai final ATP 500 Barcelona meskipun kalah dari Holger Rune.

Lawannya pada semifinal adalah Lorenzo Musetti, petenis tuan rumah yang dikalahkannya di final Monte Carlo Masters. Musetti menyingkirkan unggulan kedua, Alexander Zverev, 7-6 (1), 6-4.

Adapun tiket semifinal lain yang diperebutkan melalui perempat final, Kamis. Petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, akan melawan juara Madrid Masters, Casper Ruud, sementara Hubert Hurkacz berhadapan dengan Taylor Fritz. (AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .