LUCAS dan Shahed memang paling banyak disebut sebagai pesawat nirawak di tengah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran. Padahal, ada pesawat-pesawat lain berperan tak kalah penting dalam pertempuran yang membentang di palagan lebih dari 2.000 kilometer itu.
Pada Kamis (5/3/2026), kembali terdengar ledakan di Manama, Bahrain, dan Doha, Qatar. Doha mengaku mencegat rudal-rudal Iran. Sementara Manama mengaku mencegat rudal dan pesawat nirawak Iran. Tak dijelaskan apa jenis pesawat yang dicegat.
Sejak membalas serangan AS-Israel, Iran telah menerbangkan lebih dari 1.000 unit pesawat nirawak serang satu arah (OWA). Mayoritas adalah varian Shahed-136 atau Geran-2. Pesawat ini telah unjuk kebolehan di Ukraina setidaknya dalam tiga tahun terakhir.
Perbedaan Shahed-136 dan Shahed-131 adalah fungsinya. Shahed-136 terutama untuk menyerang karena bisa membawa peledak sampai 50 kilogram. Sementara Shahed-131 terutama untuk mengecoh pendeteksi dan penangkis serangan udara.
Menteri Perang AS Pete Hegseth dan Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine menyebut Shahed menimbulkan masalah lebih besar dari yang diperkirakan. Terbang rendah dan lambat menjadi keuntungan. Pesawat itu lebih mudah menghindari pencegat dibandingkan rudal balistik.
Pernyataan kepada anggota parlemen AS itu menjadi pengakuan tertinggi soal kesulitan AS menghadapi pesawat-pesawat nirawak Iran. Seri 131 dan seri 136 bermesin baling-baling. Pesawat di keluarga Shahed bisa terbang sampai 2.000 kilometer dengan kecepatan hingga 180 kilometer per jam.
Ada anggota keluarga lain di Shahed, Shahed-191 atau Saegheh-2. Belum ada bukti pesawat nirawak bermesin jet telah dipakai dalam perang kali ini. Ini pesawat nirawak dengan teknologi siluman atau sulit terdeteksi radar lawan.
Selain untuk menyerang dan mengecoh, ada dua keluarga Shahed untuk pengintai-serang, yakni seri 149 atau Gaza dan seri 129. Seri 149 adalah pesawat nirawak Iran paling canggih yang diduga tiruan dari MQ-9 buatan AS. Selama beberapa tahun terakhir, Iran diduga mendapatkan MQ-9 yang jatuh di Timur Tengah dan palagan Ukraina.
Seri 149 bisa terbang sampai 4.000 km dan membawa sampai 13 bom. Sementara seri 129 disebut bisa membawa rudal Sadid-1.
Untuk fungsi khusus intai dan bidik, Iran punya Mohajer-6. Pesawat ini terbang tinggi dan menjadi mata Iran.
Ada sejumlah informasi Iran juga menggunakan pesawat nirawak Arash. Pesawat nirawak ini bisa mengangkut sampai 150 kilogram peledak. Mehr News pernah menyiarkan, Arash dirancang untuk menyerang kota-kota Israel di tepi Laut Mediterania.
Di antara semua pesawat itu, seri 136 dan 131 paling banyak diproduksi. Harga satuannya maksimum 50.000 dolar AS. Sejumlah pihak menyebut, Iran bisa memproduksi sampai 10.000 unit per bulan.
”Hitungannya jelas lebih berpihak ke Iran dalam strategi menggerus karena kita tak tahu berapa pastinya pesawat Shahed yang mungkin mereka simpan. Hal yang jelas, lebih banyak dari total rudal pencegat,” kata peneliti pertahanan di Stimson Center AS, Kelly Grieco.
Intai cegat
Selain dari darat, AS-Israel dan mitranya juga mencegat pembalasan Iran dengan rudal udara. MQ-9 Reaper AS dilaporkan telah menembakkan rudal AGM-114 Hellfire ke rudal dan pesawat nirawak Iran.
Harga Hellfire sampai 150.000 dolar AS per unit. Lebih murah dari Patriot PAC-3 yang berharga sampai 5 juta dolar AS per unit.
Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS mengungkap MQ-9 salah satu pesawat nirawak yang dipakai menyerang Iran. Ada juga LUCAS. LUCAS berfungsi sama dengan Shahed, OWA alias penyerang satu arah.
Panglima CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyebut, LUCAS meniru Shahed. ”Kami membuatnya lebih baik,” katanya.
AS juga disebut mengerahkan Switchblade. Pesawat ini sama fungsinya seperti Shahed-136.
Belum ada bukti AS menggunakan pesawat nirawak lain dalam serangan yang dinamai Operasi Epic Fury itu. Berbeda dengan Israel yang terdeteksi menggunakan begitu banyak varian pesawat nirawak.
Israel, seperti dilaporkan The Jerusalem Post, mengandalkan Hermes 900 dalam berbagai varian. Israel tak menyangkal atau membenarkan laporan sejumlah Hermes 900 jatuh selama menyerang Iran.
Hermes menjadi pengintai sekaligus penyerang. Israel terutama menerbangkan Hermes untuk mengintai lokasi-lokasi peluncuran rudal dan pesawat nirawak Iran. Begitu ketahuan, segera diserang.
Pesawat itu lebih kecil dari Heron TP, pesawat nirawak paling canggih milik Israel. Heron TP bisa terbang sampai 40 jam dengan bobot lepas landas 5,3 ton. Seperti Hermes, Heron TP juga bisa menjadi pengintai dan penyerang. Bedanya, Heron bisa terbang lebih tinggi dan lebih lama.
Sementara pesawat Israel yang berfungsi sama dengan Shahed seri 136 adalah SkyStriker dan Harop. Pesawat ini lebih kecil dibandingkan Hermes atau Harop.
Ada juga dugaan Israel mengerahkan RA-01 yang, menurut AS, tiruan dari RQ-170 sentinel dan RQ-180 buatan Lockheed Martin. Pesawat ini begitu rahasia sampai Israel pun tak membukanya ke AS.
RA-01 disebut beroperasi berdampingan dengan F-35I Adir, versi F-35 khusus untuk Israel, selama serangan ke Iran. RA-01 menyediakan peringatan dini dan pembidik ke sasaran-sasaran di Iran. RA-01 mencari dan membidik sasaran, F-35I Adir menembaknya.
Sementara Financial Times melaporkan, sejumlah negara Arab sedang berunding dengan Ukraina. Mereka akan membeli pesawat nirawak Ukraina. Pesawat Ukraina dirancang khusus menangkis pesawat nirawak yang diluncurkan Rusia. Ukraina punya Merop dan Sting.
”Kami terbuka. Jika perwakilan mereka datang, kami akan memberikan keahlian tersebut. Terutama karena ada juga permintaan dari Eropa dan Amerika Serikat. Permintaan telah datang kepada kami untuk berbagi pengalaman kami dengan mitra di Timur Tengah,” kata Presiden Ukraina Volodymy Zelenskyy.
Di sisi lain, ia mengingatkan Ukraina juga butuh senjata karena masih harus menghadapi serangan Rusia. ”Ratusan atau ribuan Shahed tidak dapat dicegat dengan rudal Patriot – itu terlalu mahal. Tentu saja, tidak ada yang terlalu berlebihan bagi rakyat, tetapi mereka tidak memiliki rudal sebanyak itu,” lanjutnya.
Ia mengisyaratkan pertukaran. Ukraina memberi pesawat nirawak pencegat. Sementara AS dan sekutunya memberi rudal pencegat.
(AP/AFP)
LUCAS dan Shahed memang paling banyak disebut sebagai pesawat nirawak di tengah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran. Padahal, ada pesawat-pesawat lain berperan tak kalah penting dalam pertempuran yang membentang di palagan lebih dari 2.000 kilometer itu.
Pada Kamis (5/3/2026), kembali terdengar ledakan di Manama, Bahrain, dan Doha, Qatar. Doha mengaku mencegat rudal-rudal Iran. Sementara Manama mengaku mencegat rudal dan pesawat nirawak Iran. Tak dijelaskan apa jenis pesawat yang dicegat.
Serial Artikel
”Drone” Iran Hantam Kantor CIA di Riyadh
Mengantisipasi serangan lanjutan, misi Washington di Saudi mengingatkan warga AS di wilayah itu untuk tidak mengunjungi kedutaan dan kantor perwakilan lain di Saudi.
Sejak membalas serangan AS-Israel, Iran telah menerbangkan lebih dari 1.000 unit pesawat nirawak serang satu arah (OWA). Mayoritas adalah varian Shahed-136 atau Geran-2. Pesawat ini telah unjuk kebolehan di Ukraina setidaknya dalam tiga tahun terakhir.
Perbedaan Shahed-136 dan Shahed-131 adalah fungsinya. Shahed-136 terutama untuk menyerang karena bisa membawa peledak sampai 50 kilogram. Sementara Shahed-131 terutama untuk mengecoh pendeteksi dan penangkis serangan udara.
Menteri Perang AS Pete Hegseth dan Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine menyebut Shahed menimbulkan masalah lebih besar dari yang diperkirakan. Terbang rendah dan lambat menjadi keuntungan. Pesawat itu lebih mudah menghindari pencegat dibandingkan rudal balistik.
Pernyataan kepada anggota parlemen AS itu menjadi pengakuan tertinggi soal kesulitan AS menghadapi pesawat-pesawat nirawak Iran. Seri 131 dan seri 136 bermesin baling-baling. Pesawat di keluarga Shahed bisa terbang sampai 2.000 kilometer dengan kecepatan hingga 180 kilometer per jam.
Ada anggota keluarga lain di Shahed, Shahed-191 atau Saegheh-2. Belum ada bukti pesawat nirawak bermesin jet telah dipakai dalam perang kali ini. Ini pesawat nirawak dengan teknologi siluman atau sulit terdeteksi radar lawan.
Selain untuk menyerang dan mengecoh, ada dua keluarga Shahed untuk pengintai-serang, yakni seri 149 atau Gaza dan seri 129. Seri 149 adalah pesawat nirawak Iran paling canggih yang diduga tiruan dari MQ-9 buatan AS. Selama beberapa tahun terakhir, Iran diduga mendapatkan MQ-9 yang jatuh di Timur Tengah dan palagan Ukraina.
Serial Artikel
Shahab dan Shahed, Andalan Iran Menembus Lapisan Iron Dome hingga THAAD
Rudal Iran menjangkau Israel dalam rentang 10-15 menit sejak diluncurkan. Kecepatan itu mengindikasikan Iran menembakkan rudal hipersonik.
Seri 149 bisa terbang sampai 4.000 km dan membawa sampai 13 bom. Sementara seri 129 disebut bisa membawa rudal Sadid-1.
Untuk fungsi khusus intai dan bidik, Iran punya Mohajer-6. Pesawat ini terbang tinggi dan menjadi mata Iran.
Ada sejumlah informasi Iran juga menggunakan pesawat nirawak Arash. Pesawat nirawak ini bisa mengangkut sampai 150 kilogram peledak. Mehr News pernah menyiarkan, Arash dirancang untuk menyerang kota-kota Israel di tepi Laut Mediterania.
Di antara semua pesawat itu, seri 136 dan 131 paling banyak diproduksi. Harga satuannya maksimum 50.000 dolar AS. Sejumlah pihak menyebut, Iran bisa memproduksi sampai 10.000 unit per bulan.
”Hitungannya jelas lebih berpihak ke Iran dalam strategi menggerus karena kita tak tahu berapa pastinya pesawat Shahed yang mungkin mereka simpan. Hal yang jelas, lebih banyak dari total rudal pencegat,” kata peneliti pertahanan di Stimson Center AS, Kelly Grieco.
Intai cegat
Selain dari darat, AS-Israel dan mitranya juga mencegat pembalasan Iran dengan rudal udara. MQ-9 Reaper AS dilaporkan telah menembakkan rudal AGM-114 Hellfire ke rudal dan pesawat nirawak Iran.
Harga Hellfire sampai 150.000 dolar AS per unit. Lebih murah dari Patriot PAC-3 yang berharga sampai 5 juta dolar AS per unit.
Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS mengungkap MQ-9 salah satu pesawat nirawak yang dipakai menyerang Iran. Ada juga LUCAS. LUCAS berfungsi sama dengan Shahed, OWA alias penyerang satu arah.
Panglima CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyebut, LUCAS meniru Shahed. ”Kami membuatnya lebih baik,” katanya.
AS juga disebut mengerahkan Switchblade. Pesawat ini sama fungsinya seperti Shahed-136.
Serial Artikel
Debut Dua Rudal dalam Serangan AS-Israel ke Iran
Rudal PrSM buatan AS untuk menyerang Iran. Arhanud Cheongung-II dari Korsel untuk mencegat pembalasan Iran.
Belum ada bukti AS menggunakan pesawat nirawak lain dalam serangan yang dinamai Operasi Epic Fury itu. Berbeda dengan Israel yang terdeteksi menggunakan begitu banyak varian pesawat nirawak.
Israel, seperti dilaporkan The Jerusalem Post, mengandalkan Hermes 900 dalam berbagai varian. Israel tak menyangkal atau membenarkan laporan sejumlah Hermes 900 jatuh selama menyerang Iran.
Hermes menjadi pengintai sekaligus penyerang. Israel terutama menerbangkan Hermes untuk mengintai lokasi-lokasi peluncuran rudal dan pesawat nirawak Iran. Begitu ketahuan, segera diserang.
Pesawat itu lebih kecil dari Heron TP, pesawat nirawak paling canggih milik Israel. Heron TP bisa terbang sampai 40 jam dengan bobot lepas landas 5,3 ton. Seperti Hermes, Heron TP juga bisa menjadi pengintai dan penyerang. Bedanya, Heron bisa terbang lebih tinggi dan lebih lama.
Sementara pesawat Israel yang berfungsi sama dengan Shahed seri 136 adalah SkyStriker dan Harop. Pesawat ini lebih kecil dibandingkan Hermes atau Harop.
Ada juga dugaan Israel mengerahkan RA-01 yang, menurut AS, tiruan dari RQ-170 sentinel dan RQ-180 buatan Lockheed Martin. Pesawat ini begitu rahasia sampai Israel pun tak membukanya ke AS.
RA-01 disebut beroperasi berdampingan dengan F-35I Adir, versi F-35 khusus untuk Israel, selama serangan ke Iran. RA-01 menyediakan peringatan dini dan pembidik ke sasaran-sasaran di Iran. RA-01 mencari dan membidik sasaran, F-35I Adir menembaknya.
Serial Artikel
Ukraina Butuh Pertahanan Udara yang Lebih Ampuh
Selama seminggu, Rusia kirim 800 bom udara berpemandu, 460 pesawat nirawak serang, dan 20 rudal, termasuk Oreshnik. Ukraina butuh sistem pertahanan udara ampuh.
Sementara Financial Times melaporkan, sejumlah negara Arab sedang berunding dengan Ukraina. Mereka akan membeli pesawat nirawak Ukraina. Pesawat Ukraina dirancang khusus menangkis pesawat nirawak yang diluncurkan Rusia. Ukraina punya Merop dan Sting.
”Kami terbuka. Jika perwakilan mereka datang, kami akan memberikan keahlian tersebut. Terutama karena ada juga permintaan dari Eropa dan Amerika Serikat. Permintaan telah datang kepada kami untuk berbagi pengalaman kami dengan mitra di Timur Tengah,” kata Presiden Ukraina Volodymy Zelenskyy.
Di sisi lain, ia mengingatkan Ukraina juga butuh senjata karena masih harus menghadapi serangan Rusia. ”Ratusan atau ribuan Shahed tidak dapat dicegat dengan rudal Patriot – itu terlalu mahal. Tentu saja, tidak ada yang terlalu berlebihan bagi rakyat, tetapi mereka tidak memiliki rudal sebanyak itu,” lanjutnya.
Ia mengisyaratkan pertukaran. Ukraina memberi pesawat nirawak pencegat. Sementara AS dan sekutunya memberi rudal pencegat.