Keluarga Gamma Rizkynata Oktafandy (17) tak dilibatkan dalam rapat dengar pendapat di DPR terkait kasus penembakan. Keluarga bakal bersurat supaya didengarkan DPR.
03 Des 2024 20:32 WIB · Politik & Hukum
SEMARANG, KOMPAS — Keluarga Gamma Rizkynata Oktafandy (17) mengaku tidak dilibatkan saat Komisi III DPR menggelar rapat dengar pendapat di Jakarta, Selasa (3/12/2024), terkait kasus penembakan yang dilakukan polisi di Semarang. Mereka lantas bersurat ke DPR agar ada rapat serupa untuk mendengarkan keterangan dari sisi keluarga korban demi keberimbangan.
Pendamping hukum keluarga Gamma, Subambang, menyebut telah menyaksikan rapat itu. Dalam kegiatan tersebut, anggota Komisi III DPR hanya mendengarkan keterangan mengenai kasus penembakan dari polisi.
Hal itu sangat disayangkan keluarga besar Gamma. Padahal, sebelumnya, perwakilan dari Komisi III DPR telah menghubungi pihak keluarga. Mereka mengundang keluarga untuk mengikuti rapat tersebut secara daring.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/731b818b-e621-4c32-ab9e-4a9bee29869d_jpg.jpg)
”Kami sudah dikirimi link Zoom-nya, pukul 09.15. Tetapi, saat link-nya dibuka, tidak terbuka. Lalu, dari pihak sekretariat mengatakan bahwa untuk keluarga tidak ikut Zoom,” kata Subambang dalam konferensi pers, Selasa di Semarang.
Ia menambahkan, pihaknya tidak diberi tahu alasan di balik batalnya pihak keluarga ikut serta dalam rapat tersebut. ”Terus terang, kami kecewa. Semua sudah kami siapkan, tapi ternyata dibatalkan,” ucap Subambang.
Tak mau menyerah, pihak keluarga Gamma bakal menyurati Komisi III DPR agar mereka diberi kesempatan bersuara. Menurut Subambang, hal itu amat penting supaya Komisi III DPR mendapatkan pendapat dari sisi keluarga korban.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/03/8a778a36-49ec-44e2-b026-17c1b56bf0f8_jpg.jpg)
”Mudah-mudahan dengan surat yang kami kirimkan, di kesempatan berikutnya, kami diberi kesempatan bisa rapat dengar pendapat. Biar (informasinya) seimbang,” ucap Subambang.
Ia menyebutkan, keluarga Gamma ingin menyampaikan kejanggalan-kejanggalan yang mereka temukan dalam kasus penembakan. Subambang mencontohkan, kejanggalan itu terkait perbedaan keterangan mengenai lokasi penembakan.
Selain itu, dalam beberapa kesempatan, polisi disebut Subambang seperti sengaja menggiring opini publik mengenai tawuran yang disebut diinisiasi Gamma.
”Kepala Polrestabes ini memojokkan Gama, seolah-olah (Gamma) divonis sebagai pelaku. Yang mengajak tawuran (disebut) Gamma, yang membeli senjata (disebut) Gamma, seperti disetel. Ini perlu kami luruskan,” tutur Subambang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/03/0e7636d8d469ed9c3c6b9c328fecc04a-IMG_9535.JPG)
Agung (49), paman Gamma, mengatakan, pihaknya juga ingin mengetahui alasan polisi tak segera mengabarkan perihal kematian Gamma. Menurut Agung, keluarga baru mengetahui Gamma meninggal pada Minggu (24/11/2024) sekitar pukul 12.00 WIB.
Padahal, Gamma disebut sudah meninggal sejak Minggu pukul 01.00 WIB. Kepada keluarga, polisi mengaku tidak tahu identitas Gamma. Padahal, Gamma pergi membawa dompet yang di dalamnya berisi kartu tanda penduduk.
”Bahkan, kata tetangga, sejak Minggu pagi itu, polisi sudah beberapa kali mendatangi lingkungan rumah Gamma. Tujuannya, cari tahu di mana rumah Gamma. Oleh tetangga sudah ditunjukkan (lokasi rumah Gamma), tapi mereka tidak kunjung datang. Saat ditanya sama tetangga, apa alasan polisi tanya rumah Gamma, polisi tidak menjawab,” tutur Agung.
Andi Prabowo (44), ayah Gamma, berharap polisi segera mengembalikan barang-barang Gamma yang masih disita polisi. Barang yang masih disita adalah tas berisi dompet dan ponsel serta sepeda motor yang digunakan Gamma.
Menurut Andi, melalui ponsel Gamma tersebut, bisa diungkap terkait benar atau tidaknya klaim polisi bahwa Gamma menginisiasi tawuran hingga membeli senjata tajam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/03/d1714e32-fee0-4d6b-bc37-a22e624fb55f_jpg.jpg)
”Saya pribadi tidak percaya (Gamma terlibat tawuran) karena saya tahu kepribadian anak saya. Saya sangat sakit. Sangat terpukul. Sakit hati banget, anak saya sudah meninggal dunia malah difitnah,” ucap Andi dengan suara bergetar.
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman menyebut telah menyampaikan undangan kepada pihak keluarga Gamma. Namun, keluarga Gamma tidak hadir karena masih berduka. Ujungnya, Komisi III DPR hanya mendengarkan penjelasan satu pihak dari Polrestabes Semarang (Kompas.id, 3/12/2024).
”Keluarga mungkin masih dalam konsentrasi terkait musibah yang dialami. Mungkin ada pengajian dan lain sebagainya sehingga waktunya tidak sempat mereka hadir hari ini. Tetapi, atensi-atensi mereka sudah kami dapat semua, termasuk dari rekan-rekan media yang tadi disampaikan oleh anggota. Di antaranya yang terpenting adalah apakah malam itu terjadi tawuran atau tidak, tadi sudah dijelaskan,” kata Habiburokhman.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Cornelius Helmy Herlambang