PIALA DUNIA 2026

Tak Semua Suka ”Amerikanisasi” Sepak Bola

Dari ”marching band” hingga ”cheerleaders”, tradisi olahraga Amerika ini diadopsi ke dalam pertandingan sepak bola di stadion. Tak semua penonton menyukainya.

25 Jun 2026 14:55 WIB · Olahraga

Getty Images via AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto dari New York, AS

Teriakan huuu....huuu....ribuan suporter Norwegia terdengar ketika jeda hidrasi saat laga Norwegia lawan Senegal di Stadion MetLife, New Jersey, Senin (22/6/2026). Bukannya terhibur, mereka justru merasa terganggu dengan penampilan marching band yang membawakan sebuah lagu saat jeda itu.

”Sudah break-nya ayo main lagi,” teriak seorang suporter. Mereka menyatakan kekesalan karena sepak bola ikut-ikutan sering berhenti seperti olahraga Amerika yang memang sering kali berjalan ”stop and go” karena ada permintaan time out.

Hiburan band hanyalah satu dari sejumlah tradisi olahraga Amerika yang diadopsi pada Piala Dunia kali ini. Marching band adalah jantung utama atmosfer pertandingan NCAA (liga kampus AS). Mereka biasanya tampil saat parade masuk stadion sebelum laga dimulai, pertunjukan paruh waktu, atau memandu partisipasi penonton.

Secara tradisi, band akan memainkan lagu mars kebanggaan sekolah (fight songs) setiap kali ada tim yang mencetak skor, selama jeda waktu (time-out), dan di antara sela-sela permainan untuk membakar semangat penonton di stadion. Itu yang dirasa sangat canggung oleh para penggemar sepak bola dari Eropa yang tak terbiasa dengan hal itu.

Adopsi lainnya yang dimasukkan ke dalam Piala Dunia selain marching band adalah penampilan cheerleaders atau pemandu sorak saat jeda paruh babak. Salah satunya terjadi saat laga Brasil lawan Haiti di Philadelphia, Jumat (19/6/2026). Para pemandu sorak yang tampil merupakan pemandu sorak klub NFL Philadelphia Eagles. Mereka menari mengikuti irama musik saat jeda babak.

Aksi band pada jeda hidrasi memancing cemoohan pendukung Norwegia pada laga antara Norwegia dan Senegal di Stadion MetLife, New Jersey, Senin (22/6/2026).

Tradisi pemandu sorak dalam sepak bola Amerika dan juga basket adalah hal lumrah. Menjadi tidak lumrah ketika itu terjadi pada pertandingan sepak bola Piala Dunia. Tidak semua menikmati pertunjukan tersebut. Ada penonton yang cuek saja, ada juga yang menyorakinya.

Di balik gegap gempita Piala Dunia 2026 ini, memang ada sejumlah hal baru yang terkadang membuang penggemar sepak bola internasional mengernyitkan mata. ”Amerikanisasi” sepak bola saat Piala Dunia ini dilakukan juga pada berbagai hal lain di lapangan. Memang wajar, adopsi tradisi lokal tuan rumah dilakukan untuk memperkuat keterikatan dengan warga lokal, terutama di negara di mana sepak bola bukan sebagai olahraga utama.

Budaya olahraga di Amerika memainkan peran besar dalam membentuk pengalaman para pendukung yang hadir dari seantero jagat. Sebagai salah satu pusat hiburan dunia, Amerika terlihat berusaha agar pertandingan selama 90 menit itu juga menjadi acara hiburan.

Pemakaian stadion raksasa kandang klub NFL seperti MetLife, SoFi, dan AT&T tidak hanya meningkatkan kapasitas penonton dan mengintensifkan atmosfer pertandingan, tetapi juga dirancang sebagai pusat hiburan modern yang dilengkapi dengan sistem suara mutakhir serta teknologi pencahayaan kelas tinggi. Teknologi menjadi jantung dari pengalaman para penggemar di dalam stadion.

Layar raksasa yang terpasang di dalam stadion tidak sekadar menampilkan skor pertandingan, melainkan menyajikan tayangan ulang instan, statistik pemain, analisis mendalam, hingga konten interaktif yang melibatkan penonton secara langsung.

VANCOUVER, BRITISH COLUMBIA - JUNE 24: The big screen displays the attendance of 52,497 during the FIFA World Cup 2026 Group B match between Switzerland and Canada at BC Place Vancouver on June 24, 2026 in Vancouver, British Columbia.   Alex Grimm/Getty Images/AFP (Photo by ALEX GRIMM / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Pendekatan ini sangat dipengaruhi oleh model hiburan ala Super Bowl, di mana pertandingan olahraga dipadukan secara apik dengan elemen pertunjukan global. Mulai dari upacara pembukaan dengan standar produksi tinggi, penampilan selebritas papan atas, musik langsung, hingga hiburan saat jeda pertandingan, semuanya dikemas untuk memastikan penonton terus terhibur sejak sebelum sepak mula hingga laga usai.

Beberapa Piala Dunia terakhir memang melahirkan sejumlah perubahan dan kemudian diadopsi secara permanen. Piala Dunia 2014 di Brasil misalnya, selain diingat karena kekalahan Brasil 1-7 dari Jerman, juga meninggalkan warisan berupa vanishing spray (semprotan busa pembatas) yang dipakai wasit untuk menandai titik pelanggaran atau membatasi pagar pemain. Kemudian pada Piala Dunia 2022 di Qatar, teknologi asisten wasit video (video assistant referees/VAR) diperkenalkan dan masih memicu banyak perdebatan hingga kini.

Amerikanisasi sepak bola pada Piala Dunia 2026 lainnya adalah pada tradisi penyiaran yang sangat melekat dengan budaya menonton olahraga di Amerika. Saat jeda hidrasi (hydration break) yang diwajibkan oleh FIFA demi meminimalkan dampak cuaca panas ekstrem terhadap para pemain, alih-alih menyaksikan Kylian Mbappe meneguk minuman isotonik, penonton justru disuguhi tayangan iklan, persis seperti gaya siaran olahraga di Amerika. Ini beberapa kali mengundang sorakan penonton saat iklan ditayangkan di layar raksasa yang terdapat di stadion.

Bagi penonton di Amerika Serikat, interupsi iklan seperti ini adalah hal biasa. Akan tetapi menjadi aneh bagi penggemar sepak bola dari negara lain. Menonton sepak bola adalah menonton laga dua kali 45 menit. Tetapi, dengan adanya dua kali hidrasi, penonton bola seolah-olah menyaksikan sepak bola dalam empat babak. Ini mirip dengan olahraga basket di AS yang terbagi menjadi empat babak atau empat kuarter. Dan setiap jeda kuarter ini, ada tayangan iklan. Jeda hidrasi ini dijadwalkan tepat pada menit ke-22 dan ke-67, tanpa memedulikan kondisi cuaca apakah panas atau mendung.

Tradisi olahraga Amerika memang dirancang dengan jeda-jeda permainan yang dimanfaatkan sebagai ladang iklan. Mengutip laman Fortune, rata-rata pertandingan sepak bola Amerika (NFL) atau bola basket, terdapat puluhan jeda komersial yang memakan porsi hingga sepertiga waktu siaran. Di Eropa, hal ini mustahil dilakukan karena sepak bola mengutamakan permainan yang mengalir tanpa waktu jeda (time-out). Jeda karena pengambilan keputusan VAR yang sedikit lama saja sudah memancing protes keras, apalagi kalau jeda untuk iklan.

England former soccer star David Beckham is shown on a large screen during the World Cup Group L soccer match between England and Ghana in Foxborough, Mass., near Boston, Tuesday, June 23, 2026. (AP Photo/Martin Meissner)

Bagi penonton Piala Dunia 2026, tampaknya mereka harus terbiasa dengan berbagai ”amerikanisasi” ini. Dengan estimasi penonton global mencapai 6 miliar orang, slot enam menit di setiap pertandingan dari total 104 laga Piala Dunia kali ini menjadi ”lahan basah” yang sangat bernilai bagi para pengiklan. Sebagai gambaran, pada final Piala Dunia 2022, para pengiklan di AS rela merogoh kocek hingga 1 juta dolar AS (sekitar Rp 17 miliar) hanya untuk slot iklan berdurasi 30 detik.

Meskipun ada yang tidak suka, sejumlah ”amerikanisasi” yang diadopsi di sepak bola cukup bisa diterima meskipun awalnya juga terasa aneh. Wawancara pelatih atau pemain saat jeda paruh babak, kamera televisi yang menyorot ruang ganti, hingga wasit yang harus menjelaskan keputusannya kepada penonton, adalah hal-hal yang biasa dalam tradisi olahraga Amerika.

Wawancara saat jeda dan pengumuman keputusan wasit itu sudah diadopsi terlebih dulu di Liga Inggris. Pada olahraga profesional AS, semisal NFL, wasit setiap kali harus menjelaskan kepada penonton jika ia melakukan keputusan, semisal pelanggaran atau perubahan keputusan setelah tinjauan video. Wawancara terhadap pemain atau pelatih pada paruh babak juga hal yang jamak.

South Korea's forward #18 Oh Hyeon-gyu (L) hidrates during a hydration break during the 2026 World Cup Group A football match between South Africa and South Korea at the Monterrey Stadium in Guadalupe, Mexico, on June 24, 2026.  (Photo by Yuri CORTEZ / AFP)

Soal wawancara paruh babak di Piala Dunia 2026 ini sempat ramai ketika asisten pelatih Inggris Anthony Barry memberikan jawaban blak-blakan soal permainan Inggris melawan Kroasia, 17 Juni lalu. Ia mengkritik mentalitas para pemain Inggris yang disebutnya terjebak pada pola ketakutan sehingga sering membuat keputusan yang salah. Wawancara itu pun disambut oleh pendukung Inggris sebagai sesuatu yang menyegarkan karena memberikan pemahaman terkait dinamika tim Inggris.

Wajar, setiap hal baru selalu memancing perdebatan atau kontroversi. Ada yang suka, ada yang tidak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto dari New York, AS
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase