Kekalahan Indonesia di kandang Australia membuat kans Indonesia lolos langsung ke Piala Dunia 2026 melalui putaran ketiga kualifikasi nyaris tertutup.
22 Mar 2025 02:00 WIB · Opini
Era kepelatihan Patrick Kluivert di tim nasional Indonesia berawal dengan buruk. Tim ”Garuda” besutan pelatih asal Belanda itu kalah telak 1-5 dari Australia pada laga ketujuh Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Sydney, Australia, Kamis (20/3/2025). Kekalahan itu memecah gelembung ekspektasi terhadap timnas dan Kluivert.
Kluivert ditunjuk menggantikan pelatih Shin Tae-yong dengan target membawa Indonesia lolos langsung ke Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kedatangannya memicu kontroversi. Terlebih, Shin baru saja membawa Indonesia memetik hasil positif pada laga kualifikasi, yaitu mengalahkan Arab Saudi dengan skor 2-0 di Jakarta, 19 November 2024.
Kluivert resmi ditunjuk sebagai pelatih pada 8 Januari, atau sekitar dua setengah bulan sebelum pertandingan Indonesia melawan Australia. Jeda ini terlihat cukup lama, tetapi sesungguhnya sangat mepet bagi pelatih berusia 48 tahun ini.
Apalagi, selama itu pula, Kluivert tidak bisa mengumpulkan para pemain untuk berlatih atau melakukan uji coba karena mereka masih memperkuat klub masing-masing di kompetisi. Praktis, semua pemain yang dipanggil baru bisa berkumpul lengkap sekitar dua hari sebelum laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/20/9a86c424a1c7bf6e66043da1c8f37a79-AP25079344961273.jpg)
Untuk tidak menyebut blunder, penggantian pelatih ini bisa dibilang dilakukan pada waktu yang kurang tepat. Tak ada waktu bagi Kluivert untuk menerapkan skema permainannya.
Kluivert lebih suka memakai skema 4-2-3-1, berbeda dengan pola 3-4-3 dan 5-4-1 yang biasa dipakai Shin. Tak mengherankan jika Indonesia tampil tak laiknya sebuah tim. Tak heran jika koordinasi permainan tim Garuda, terutama di lini belakang, tak berjalan. Lima gol pun bersarang ke gawang Maarten Paes.
Tambahan empat pemain naturalisasi dan layanan para asisten pelatih tidak bisa menolong Kluivert. Kemewahan skuad dengan nilai pasar tertinggi dalam sejarah Indonesia, Rp 634,86 miliar, jauh lebih mahal daripada Australia (Rp 412,8 miliar), menjadi tidak ada artinya.
Indonesia kini menempati posisi keempat Grup C dengan enam poin, tertinggal empat poin dari Australia di peringkat kedua. Arab Saudi menggusur Indonesia dari peringkat ketiga dengan sembilan poin berkat kemenangan 1-0 atas China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/6712a91f-c0dc-4753-a25d-cec27a25eaff_jpg.jpg)
Kans Indonesia untuk lolos langsung ke Piala Dunia sebagai dua tim teratas Grup C pun nyaris tertutup. Melihat tiga lawan tersisa, Jay Idzes dan kawan-kawan secara realistis maksimal mengemas 12 poin, dengan catatan menyapu bersih dua gim kandang lawan Bahrain dan China. Hampir mustahil mengharapkan Garuda memetik hasil positif dari gim terakhir di kandang ”Samurai Biru”.
Mimpi Indonesia masih terjaga untuk merebut dua tiket langsung tersisa melalui putaran keempat. Syaratnya, Indonesia harus mampu mengakhiri putaran ketiga di peringkat ketiga atau keempat. Inilah jalan paling realistis saat ini.
Kekalahan telak Indonesia dari Australia harus menjadi pelajaran bahwa membentuk tim nasional yang tangguh tak semudah mencari pemain naturalisasi atau mengganti pelatih. Tidak ada jalan pintas menuju Piala Dunia.
Penulis:
KompasEditor:
Kompas