Dari tiga edisi ”el clasico” musim ini, tergambar jelas perjalanan kesuksesan Barcelona dan kejatuhan Real Madrid. Gelar kali ini terasa begitu mudah bagi Barca.
11 Mei 2026 18:05 WIB · Olahraga
AFP
Kata pepatah, mempertahankan lebih sulit daripada meraih sesuatu. Itu mungkin benar, tetapi tidak relevan bagi Barcelona di Liga Spanyol musim ini. Tim asuhan pelatih Hansi Flick itu mempertahankan gelar liga tanpa mengeluarkan keringat lebih, tidak seperti mendapatkannya pada musim lalu.
Warga Kota Barcelona menjalani hari yang benar-benar sempurna. Tim andalan mereka berhasil memastikan gelar juara liga di Stadion Camp Nou, Senin (11/5/2026) dini hari WIB. Istimewanya, kepastian itu didapat setelah Lamine Yamal dan rekan-rekan menumbangkan Madrid 2-0.
Sudah bertakhta di puncak singgasana, skuad Barca juga menjadikan tim rival abadi sebagai pijakan. Mereka keluar sebagai juara dengan liga yang masih menyisakan tiga laga. Barca sudah mencapai 91 poin, saat Madrid yang berada di peringkat kedua tertahan hanya dengan koleksi 77 poin.
Kami bermain sangat baik, bertahan sangat baik, dan mencetak dua gol. Saya berterima kasih kepada skuad ini, presiden klub, dan semua yang telah mendukung kami.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/cbb01dbff4b329b3aa445874e047a40f-Spain_La_Liga_Soccer_1_.jpeg)
“Itu adalah laga yang berat dan saya tidak akan pernah melupakan hari ini,” kata Flick seusai el clasico. “Kami bermain sangat baik, bertahan sangat baik, dan mencetak dua gol. Saya berterima kasih kepada skuad ini, presiden klub, dan semua yang telah mendukung kami,” lanjut pelatih asal Jerman tersebut.
Duel el clasico mungkin berat bagi Barca, tetapi tidak sama halnya dengan persaingan gelar musim ini. Madrid tidak bisa lagi mengganggu tim rival seperti yang terjadi musim lalu, saat hanya tertinggal empat poin di akhir musim. Barca seolah melaju sendirian untuk mencapai garis akhir.
Gelar juara Barca sekaligus memecah tren kompetitif di liga yang sudah berlangsung selama sewindu terakhir. Sejak 2018, juara Liga Spanyol selalu berganti-ganti. Tim terakhir yang bisa mempertahankan gelar adalah Barcelona, musim 2017-18, lalu baru terulang lagi pada musim ini.
Apakah Barca sangat dominan di musim ini? Tidak terlalu jika melihat prestasi di seluruh kompetisi walaupun mereka memang terbilang konsisten di liga. Meskipun begitu, gelar liga ke-29 Barca tidak lepas dari bantuan Madrid yang benar-benar kehilangan pijakan selama sepanjang musim.
El clasico edisi pertama, Oktober 2025, adalah buktinya. Madrid menang atas Barca 2-1 untuk unggul lima poin di puncak klasemen. Madrid memperlihatkan proyek besar bersama pelatih baru Xabi Alonso berada di jalur yang tepat. Masalahnya, momen itu justru menjadi titik kejatuhan “El Real”.
Menurut The Athletic, muncul isu keretakan di ruang ganti Madrid. Penyerang sayap Vinicius Junior merasa frustrasi setelah ditarik di paruh kedua. Isu ketidakharmonisan Vinicius dengan Alonso yang sudah tercium sejak awal musim pun semakin memanas sejak itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/21ec505f36246cabff92cab637804064-Spain_La_Liga_Soccer.jpg)
Puncaknya, Alonso dipecat pada awal Januari setelah el clasico kedua, saat Madrid takluk 2-3 dari Barca dalam final Piala Super Spanyol. Dia terdepak karena alasan tren hasil buruk walaupun Madrid masih bersaing juara di tiga kompetisi sekaligus. Alonso dikabarkan sudah kehilangan ruang ganti.
Konflik itu menjadi awal kejatuhan Madrid. Rentetan drama belakang layar terus berlanjut di rezim pelatih Alvaro Arbeloa. Mulai dari rumor kesalahan diagnosis tim medis terhadap cedera Kylian Mbappe sampai perkelahian antara Aurelian Tchouameni dan Ferderico Valverde.
Semua peristiwa negatif itu memperlihatkan, Madrid sedang tidak baik-baik saja. “Seperti yang sudah saya katakan berulang kali, kami perlu melangkah maju bersama-sama dan memprioritaskan kolektivitas dibandingkan individu. Itu pasti akan menjadi pelajaran berharga buat kami,” kata Arbeloa.
Bukan kebetulan, paceklik prestasi Madrid dimulai sejak kedatangan megabintang dari Perancis pada musim lalu, yaitu Mbappe. Mereka tidak kunjung menemukan formula untuk menghasilkan tim terbaik. Bahkan pelatih yang terkenal andal menangani kumpulan bintang, Carlo Ancelotti, tidak mampu mengatasinya.
Masalah serupa, soal ego pemain, sebenarnya juga dihadapi oleh Flick di Barca. Dia sampai mengingatkan para pemainnya setelah ditahan imbang Rayo Vallecano 1-1 pada awal musim. “Ego akan membunuh kesuksesan,” kata Flick untuk membangunkan tim dari sindrom musim kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/b22a15a493424f140ee4e99d3714eeb2-Spain_La_Liga_Soccer.jpeg)
Bedanya, Flick mampu meredam ego para pemain. Dia bisa mencadangkan penyerang tim nasional Inggris Marcus Rashford tanpa banyak drama dan menekan sindrom popularitas sang “bocah ajaib” Yamal. Saat bersamaan, petinggi klub juga mendukung penuh kebijakan dari sang pelatih, tidak seperti di Madrid.
Hasil dalam dua musim terakhir pun menjadi tamparan paling keras bagi Madrid. Jika tidak segera berbenah, mereka akan melihat tim rival terus berpesta di jalur yang sunyi pada beberapa tahun ke depan. Tanpa gangguan dari Madrid, Barca seolah pelari maraton yang berlomba sendirian. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase