Taktik yang Terlarang bagi Iran, tetapi Boleh untuk AS
AS diduga memakai taktik ”kapal hantu” dan ”pindah muatan” untuk mengeluarkan minyak dari Teluk Persia. Selama ini, AS memburu kapal Iran yang memakai taktik itu.
Amerika Serikat menekan dan mengejar Iran karena taktik ”kapal hantu” dan ”pindah muatan” untuk menghindari sanksi. Ternyata, beberapa bulan terakhir AS dan sekutunya diduga menerapkan taktik itu.
Dugaan itu diungkap dalam laporan Reuters yang disiarkan pada Selasa (16/6/2026) malam. Sebelumnya, The New York Times pada 31 Maret 2026 juga mengulas hal tersebut.
Sementara pada 10 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump menyebutkan, AS diam-diam mengeluarkan jutaan barel minyak dari Teluk Persia. Trump mengungkap itu setelah tersiar kabar ada helikopter Apache AS jatuh di Teluk Persia.
”Tahukah Anda bahwa kami telah mengambil jutaan barel minyak? Tidak ada yang tahu. Tahukah Anda siapa yang tidak tahu tentang itu? Iran—sampai saat ini. Kami mengambil, tadi malam, 22 kapal, larut malam, tanpa lampu, karena mereka tidak memiliki radar, karena kami membombardirnya habis-habisan,” ujar Trump.
Presiden Council on Foreign Relations di AS, Michael Froman, mengulas fenomena yang disebutnya ironis itu. Ia menyebutkan, AS menerapkan taktik yang selama ini dipakai berbagai pihak untuk menghindari sanksi AS dan sekutunya. ”Ketika aturan lama melemah, sungguh ironis bahwa AS sekarang mengambil satu halaman dari buku pedoman China, Rusia, Korea Utara, dan bahkan Iran,” tulis Froman.
Reuters melaporkan, militer AS mengawasi perpindahan muatan-muatan tanker di tengah laut. Pengawasan itu bagian dari upaya minyak dan gas bumi bisa terus mengalir dari Teluk Persia.
Reuters mewawancarai delapan narasumber yang menolak identitasnya diungkap. Salah satunya kontraktor keamanan yang terlibat dalam operasi tersebut. Para narasumber mengatakan, militer AS jadi pengendali operasi itu.
Soal helikopter yang jatuh, Reuters melaporkan bahwa Apache itu terlibat dalam misi pengiriman minyak diam-diam. Reuters mewawancarai empat narasumber untuk mengonfirmasi soal helikopter tersebut.
Bersamaan dengan jatuhnya Apache itu, citra satelit menunjukkan enam pasang tanker bergerombol di area kecil di lepas Pelabuhan Sohar, Oman. Lokasi ini terdeteksi sebagai salah satu titik pemindahan minyak antarkapal. Sejauh ini, belum dapat dipastikan peran Apache itu di operasi itu.
Titik lain teridentifikasi di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab. Dua lokasi pemindahan minyak itu diidentifikasi oleh 11 orang yang mengetahui operasi itu. Kedua titik itu berdekatan dengan batas yang digariskan Otoritas Selat Teluk Persia, badan baru Iran yang dibentuk untuk mengelola Selat Hormuz.
Tanker-tanker itu secara harfiah beroperasi dalam gelap. Tidak menyalakan lampu. Kapal itu menjalankan mode hantu. Perangkat pemancar sinyal posisi (AIS) dimatikan sehingga tidak terlacak. Dalam gelap, tanker berlayar menuju titik temu. Jarak antartanker berkisar 3-4 kilometer.
Setelah melewati Selat Hormuz, tepat di luar zona yang digariskan Iran sebagai wilayah di bawah kendalinya, tanker merapat ke kapal penerima. Banyak kapal penerima merupakan very large crude carriers (VLCC), tanker raksasa pengangkut minyak mentah.
Pemindahan minyak berlangsung 24-40 jam. Tanker yang sudah kosong kemudian kembali melewati selat. VLCC yang sudah terisi melanjutkan pelayaran. Pola itu menyerupai teknik ulang-alik yang lama digunakan Iran untuk menghindari sanksi AS.
Pengawasan AS
Menurut laporan Reuters, operasi kapal gelap di tepi Selat Hormuz itu berlangsung sejak awal Mei 2026. AS disebut memakai pengawasan udara, pesawat nirawak, kapal nirawak, dan helikopter untuk memandu konvoi kapal menuju tanker yang menunggu.
Kapal-kapal itu diarahkan melalui titik temu, titik koordinat, dan jendela transit. Jalannya operasi ini dipantau kantor militer AS di Bahrain. Salah satu sumber mengatakan AS mengawasi sepanjang waktu.
Operator yang ingin masuk ke sistem tersebut harus menjalani pemeriksaan kepatuhan secara ketat. Proses itu mencakup penyerahan informasi kepada kantor Naval Cooperation and Guidance for Shipping milik Angkatan Laut AS di Bahrain. Mereka tetap berhubungan dengan kantor militer itu sepanjang pelayaran.
Berdasarkan citra satelit dan penghitungan kapasitas tanker, sejak 2 Mei hingga 11 Juni 2026 itu, sedikitnya 90 juta barel minyak mentah dan produk petroleum telah bergerak melalui jaringan lepas pantai sejak awal Mei. Jumlahnya masih kecil dibandingkan rata-rata sebelum perang, yakni sekitar 20 juta barel per hari yang melewati Selat Hormuz.
Sedikitnya ada 116 kapal telah terlibat. Hingga Selasa (16/6/2026) pagi, 12 pasang kapal terlihat berdampingan di Teluk Oman. Delapan pasang kapal berada di lepas Sohar. Empat pasang lainnya berada dekat Fujairah.
Temuan ini belum dikonfirmasi baik oleh AS maupun Iran. Namun, seorang pejabat pertahanan AS mengatakan, tidak ada pasukan Komando Tengah AS (Centcom) yang ikut dalam operasi pemindahan.
Sementara itu, Gedung Putih mengalihkan pertanyaan ke Centcom. Pemerintah Iran juga tidak menanggapi permintaan komentar.
Dari penelusuran, operasi ini didominasi tanker dari negara teluk dan kapal internasional. Ekspor UEA menyumbang bagian besar dalam operasi pemindahan minyak itu. ADNOC, perusahaan minyak nasional UEA, disebut termasuk yang paling aktif.
Perusahaan Kuwait Oil Tanker Company juga disebut aktif. Pada 6 Juni 2026, sekitar 2,3 juta barel minyak mentah dipindahkan dari salah satu kapalnya di lepas pantai Sohar. Pemerintah UEA, ADNOC, dan Kuwait Oil Tanker Company tidak menanggapi permintaan komentar.
Salah satu kapal penerima adalah Sea Ruby. Kapal ini terlihat lima hari kemudian di lepas pantai barat daya India. Kapal itu mengarah ke China. Muatan diperkirakan akan dibongkar di China.
Operasi itu bisa berjalan karena ada pengirim minyak yang tetap berani melewati Selat Hormuz meski Iran memberlakukan blokade. Namun, risikonya tetap besar.
Noam Raydan, peneliti senior Washington Institute yang berfokus pada risiko maritim, mengatakan, reaksi Iran sulit dipastikan. ”Kita tidak pernah tahu kapan Iran mungkin memutuskan untuk mulai menggunakan pesawat nirawak atau bahkan kapal meriam untuk mencegah kapal-kapal itu melintasi selat,” katanya.
Ironi AS
Teknik pemindahan minyak antarkapal serupa telah digunakan Iran selama bertahun-tahun. Tujuannya adalah menyamarkan sumber minyak sehingga dapat menghindari sanksi AS.
Namun, Iran biasanya mengoperasikan dalam kapasitas kecil, yaitu satu pasang kapal pada satu waktu. Operasi yang dipimpin AS itu berbeda karena melibatkan pemindahan massal.
Selama ini, tindakan AS ke Iran sangat keras. Selain memblokade pelabuhan Iran, AS menjatuhkan serangkaian sanksi baru terhadap tanker minyak dan infrastruktur minyak China.
Menurut laporan media The Wall Street Journal, akhir Mei 2026, AS juga mengirim Pasukan Khusus ke geladak dua tanker bayangan di Samudra Hindia. Tanker itu yang ketiga yang disita AS terkait Iran di Samudra Hindia. Sebelumnya, kapal itu sempat berada di lepas pantai Malaysia.
Namun, tekanan AS belum menghentikan armada yang dihubungkan dengan minyak Iran itu. Kegagalan Washington menghentikan armada kapal-kapal ”hantu” diduga menjadi faktor kuat mengapa rezim Iran tetap bertahan.
Menurut Komisi Kajian Ekonomi dan Keamanan AS-China, Iran meraup sekitar 31 miliar dolar AS dari penjualan minyak ke China pada 2025. Penjualan itu mencakup sekitar 90 persen minyak yang dijual Iran ke luar negeri dan menyumbang sekitar 45 persen anggaran Pemerintah Iran.
Sebagian besar minyak dari Iran itu diduga memang menuju China. Namun, dalam data resmi bea cukai China, tidak ada impor minyak mentah dari Iran sejak 2022. Dikutip dari kantor berita Xinhua awal Mei 2026, Kementerian Perdagangan China bahkan secara eksplisit memerintahkan pihak-pihak di China untuk tidak mematuhi sanksi AS.
Perairan Asia Tenggara dan Asia Selatan menjadi simpul penting armada kapal hantu itu. Titik terbesar ada di Eastern Outer Port Limits (EOPL), sekitar 45 mil dari pantai Malaysia.
Kawasan itu berada di zona ekonomi eksklusif Malaysia, tetapi di luar laut teritorialnya. Menurut United Against Nuclear Iran, jumlah transfer antarkapal yang teramati di EOPL naik dari 280 pada 2023 menjadi 679 pada 2025.
Pejabat senior penjaga pantai Malaysia, Laksamana Madya Maritim Saiful Lizan bin Ibrahim, mengakui keberadaan armada kapal hantu di dekat Malaysia. Namun, penindakan sulit dilakukan.
Sebab, kapal-kapal berada di luar yurisdiksi Malaysia. Kapal juga berpindah lokasi setiap kali tekanan penegakan hukum meningkat.
Di perairan Indonesia, VLCC Iran, MT Arman 114, disita di Laut Natuna Utara pada pertengahan Juli 2023. Bakamla menyita karena diduga terlibat pemindahan minyak mentah ilegal ke MT S Tinos berbendera Kamerun.
Kapal itu juga disebut memanipulasi sistem identifikasi otomatis (AIS). Sinyalnya menunjukkan kapal berada di Laut Merah, padahal kapal itu berada di Laut Natuna Utara. (REUTERS)
Amerika Serikat menekan dan mengejar Iran karena taktik ”kapal hantu” dan ”pindah muatan” untuk menghindari sanksi. Ternyata, beberapa bulan terakhir AS dan sekutunya diduga menerapkan taktik itu.
Dugaan itu diungkap dalam laporan Reuters yang disiarkan pada Selasa (16/6/2026) malam. Sebelumnya, The New York Times pada 31 Maret 2026 juga mengulas hal tersebut.
Sementara pada 10 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump menyebutkan, AS diam-diam mengeluarkan jutaan barel minyak dari Teluk Persia. Trump mengungkap itu setelah tersiar kabar ada helikopter Apache AS jatuh di Teluk Persia.
”Tahukah Anda bahwa kami telah mengambil jutaan barel minyak? Tidak ada yang tahu. Tahukah Anda siapa yang tidak tahu tentang itu? Iran—sampai saat ini. Kami mengambil, tadi malam, 22 kapal, larut malam, tanpa lampu, karena mereka tidak memiliki radar, karena kami membombardirnya habis-habisan,” ujar Trump.
Serial Artikel
Drone Iran Diduga Jatuhkan Apache, AS Kembali Serang Iran
AS kembali menyerang Iran setelah ”drone” Shahed dilaporkan menjatuhkan Apache di Selat Hormuz. Iran menyatakan akan membalas.
Presiden Council on Foreign Relations di AS, Michael Froman, mengulas fenomena yang disebutnya ironis itu. Ia menyebutkan, AS menerapkan taktik yang selama ini dipakai berbagai pihak untuk menghindari sanksi AS dan sekutunya. ”Ketika aturan lama melemah, sungguh ironis bahwa AS sekarang mengambil satu halaman dari buku pedoman China, Rusia, Korea Utara, dan bahkan Iran,” tulis Froman.
Reuters melaporkan, militer AS mengawasi perpindahan muatan-muatan tanker di tengah laut. Pengawasan itu bagian dari upaya minyak dan gas bumi bisa terus mengalir dari Teluk Persia.
Reuters mewawancarai delapan narasumber yang menolak identitasnya diungkap. Salah satunya kontraktor keamanan yang terlibat dalam operasi tersebut. Para narasumber mengatakan, militer AS jadi pengendali operasi itu.
Soal helikopter yang jatuh, Reuters melaporkan bahwa Apache itu terlibat dalam misi pengiriman minyak diam-diam. Reuters mewawancarai empat narasumber untuk mengonfirmasi soal helikopter tersebut.
Bersamaan dengan jatuhnya Apache itu, citra satelit menunjukkan enam pasang tanker bergerombol di area kecil di lepas Pelabuhan Sohar, Oman. Lokasi ini terdeteksi sebagai salah satu titik pemindahan minyak antarkapal. Sejauh ini, belum dapat dipastikan peran Apache itu di operasi itu.
Titik lain teridentifikasi di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab. Dua lokasi pemindahan minyak itu diidentifikasi oleh 11 orang yang mengetahui operasi itu. Kedua titik itu berdekatan dengan batas yang digariskan Otoritas Selat Teluk Persia, badan baru Iran yang dibentuk untuk mengelola Selat Hormuz.
Tanker-tanker itu secara harfiah beroperasi dalam gelap. Tidak menyalakan lampu. Kapal itu menjalankan mode hantu. Perangkat pemancar sinyal posisi (AIS) dimatikan sehingga tidak terlacak. Dalam gelap, tanker berlayar menuju titik temu. Jarak antartanker berkisar 3-4 kilometer.
Setelah melewati Selat Hormuz, tepat di luar zona yang digariskan Iran sebagai wilayah di bawah kendalinya, tanker merapat ke kapal penerima. Banyak kapal penerima merupakan very large crude carriers (VLCC), tanker raksasa pengangkut minyak mentah.
Pemindahan minyak berlangsung 24-40 jam. Tanker yang sudah kosong kemudian kembali melewati selat. VLCC yang sudah terisi melanjutkan pelayaran. Pola itu menyerupai teknik ulang-alik yang lama digunakan Iran untuk menghindari sanksi AS.
Pengawasan AS
Menurut laporan Reuters, operasi kapal gelap di tepi Selat Hormuz itu berlangsung sejak awal Mei 2026. AS disebut memakai pengawasan udara, pesawat nirawak, kapal nirawak, dan helikopter untuk memandu konvoi kapal menuju tanker yang menunggu.
Kapal-kapal itu diarahkan melalui titik temu, titik koordinat, dan jendela transit. Jalannya operasi ini dipantau kantor militer AS di Bahrain. Salah satu sumber mengatakan AS mengawasi sepanjang waktu.
Operator yang ingin masuk ke sistem tersebut harus menjalani pemeriksaan kepatuhan secara ketat. Proses itu mencakup penyerahan informasi kepada kantor Naval Cooperation and Guidance for Shipping milik Angkatan Laut AS di Bahrain. Mereka tetap berhubungan dengan kantor militer itu sepanjang pelayaran.
Berdasarkan citra satelit dan penghitungan kapasitas tanker, sejak 2 Mei hingga 11 Juni 2026 itu, sedikitnya 90 juta barel minyak mentah dan produk petroleum telah bergerak melalui jaringan lepas pantai sejak awal Mei. Jumlahnya masih kecil dibandingkan rata-rata sebelum perang, yakni sekitar 20 juta barel per hari yang melewati Selat Hormuz.
Sedikitnya ada 116 kapal telah terlibat. Hingga Selasa (16/6/2026) pagi, 12 pasang kapal terlihat berdampingan di Teluk Oman. Delapan pasang kapal berada di lepas Sohar. Empat pasang lainnya berada dekat Fujairah.
Temuan ini belum dikonfirmasi baik oleh AS maupun Iran. Namun, seorang pejabat pertahanan AS mengatakan, tidak ada pasukan Komando Tengah AS (Centcom) yang ikut dalam operasi pemindahan.
Sementara itu, Gedung Putih mengalihkan pertanyaan ke Centcom. Pemerintah Iran juga tidak menanggapi permintaan komentar.
Dari penelusuran, operasi ini didominasi tanker dari negara teluk dan kapal internasional. Ekspor UEA menyumbang bagian besar dalam operasi pemindahan minyak itu. ADNOC, perusahaan minyak nasional UEA, disebut termasuk yang paling aktif.
Perusahaan Kuwait Oil Tanker Company juga disebut aktif. Pada 6 Juni 2026, sekitar 2,3 juta barel minyak mentah dipindahkan dari salah satu kapalnya di lepas pantai Sohar. Pemerintah UEA, ADNOC, dan Kuwait Oil Tanker Company tidak menanggapi permintaan komentar.
Salah satu kapal penerima adalah Sea Ruby. Kapal ini terlihat lima hari kemudian di lepas pantai barat daya India. Kapal itu mengarah ke China. Muatan diperkirakan akan dibongkar di China.
Operasi itu bisa berjalan karena ada pengirim minyak yang tetap berani melewati Selat Hormuz meski Iran memberlakukan blokade. Namun, risikonya tetap besar.
Noam Raydan, peneliti senior Washington Institute yang berfokus pada risiko maritim, mengatakan, reaksi Iran sulit dipastikan. ”Kita tidak pernah tahu kapan Iran mungkin memutuskan untuk mulai menggunakan pesawat nirawak atau bahkan kapal meriam untuk mencegah kapal-kapal itu melintasi selat,” katanya.
Serial Artikel
Trump: Selat Hormuz Dibuka Kembali pada Jumat
Semua kapal bakal bebas melewati Selat Hormuz tanpa ”biaya tol”. Dunia berharap lalu lintas di selat itu segera kembali normal seperti sebelum perang.
Teknik pemindahan minyak antarkapal serupa telah digunakan Iran selama bertahun-tahun. Tujuannya adalah menyamarkan sumber minyak sehingga dapat menghindari sanksi AS.
Namun, Iran biasanya mengoperasikan dalam kapasitas kecil, yaitu satu pasang kapal pada satu waktu. Operasi yang dipimpin AS itu berbeda karena melibatkan pemindahan massal.
Selama ini, tindakan AS ke Iran sangat keras. Selain memblokade pelabuhan Iran, AS menjatuhkan serangkaian sanksi baru terhadap tanker minyak dan infrastruktur minyak China.
Menurut laporan media The Wall Street Journal, akhir Mei 2026, AS juga mengirim Pasukan Khusus ke geladak dua tanker bayangan di Samudra Hindia. Tanker itu yang ketiga yang disita AS terkait Iran di Samudra Hindia. Sebelumnya, kapal itu sempat berada di lepas pantai Malaysia.
Namun, tekanan AS belum menghentikan armada yang dihubungkan dengan minyak Iran itu. Kegagalan Washington menghentikan armada kapal-kapal ”hantu” diduga menjadi faktor kuat mengapa rezim Iran tetap bertahan.
Menurut Komisi Kajian Ekonomi dan Keamanan AS-China, Iran meraup sekitar 31 miliar dolar AS dari penjualan minyak ke China pada 2025. Penjualan itu mencakup sekitar 90 persen minyak yang dijual Iran ke luar negeri dan menyumbang sekitar 45 persen anggaran Pemerintah Iran.
Sebagian besar minyak dari Iran itu diduga memang menuju China. Namun, dalam data resmi bea cukai China, tidak ada impor minyak mentah dari Iran sejak 2022. Dikutip dari kantor berita Xinhua awal Mei 2026, Kementerian Perdagangan China bahkan secara eksplisit memerintahkan pihak-pihak di China untuk tidak mematuhi sanksi AS.
Perairan Asia Tenggara dan Asia Selatan menjadi simpul penting armada kapal hantu itu. Titik terbesar ada di Eastern Outer Port Limits (EOPL), sekitar 45 mil dari pantai Malaysia.
Kawasan itu berada di zona ekonomi eksklusif Malaysia, tetapi di luar laut teritorialnya. Menurut United Against Nuclear Iran, jumlah transfer antarkapal yang teramati di EOPL naik dari 280 pada 2023 menjadi 679 pada 2025.
Pejabat senior penjaga pantai Malaysia, Laksamana Madya Maritim Saiful Lizan bin Ibrahim, mengakui keberadaan armada kapal hantu di dekat Malaysia. Namun, penindakan sulit dilakukan.
Serial Artikel
Tanker Iran Beraksi Lagi di Perairan Indonesia
Tanker berbendera Iran ditangkap karena memindahkan muatan minyak mentah ke tanker berbendera Kamerun. Hal serupa juga pernah terjadi pada tahun 2021, yang sampai melibatkan operasi intelijen.
Sebab, kapal-kapal berada di luar yurisdiksi Malaysia. Kapal juga berpindah lokasi setiap kali tekanan penegakan hukum meningkat.
Di perairan Indonesia, VLCC Iran, MT Arman 114, disita di Laut Natuna Utara pada pertengahan Juli 2023. Bakamla menyita karena diduga terlibat pemindahan minyak mentah ilegal ke MT S Tinos berbendera Kamerun.
Kapal itu juga disebut memanipulasi sistem identifikasi otomatis (AIS). Sinyalnya menunjukkan kapal berada di Laut Merah, padahal kapal itu berada di Laut Natuna Utara. (REUTERS)