Longsor dan Banjir Melanda Jateng, Belasan Warga Meninggal

Lebih dari 5.000 rumah di Jawa Tengah terendam banjir dan sekitar 1.500 jiwa mengungsi. Sebelas orang dilaporkan meninggal akibat tanah longsor.

21 Jan 2025 13:02 WIB · Nusantara

Oleh Kristi Dwi Utami

SEMARANG, KOMPAS — Hujan deras yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah sejak Senin (20/1/2025) petang hingga malam memicu sejumlah bencana, seperti tanah longsor dan banjir. Akibat bencana tersebut, ribuan orang mengungsi dan belasan warga meninggal.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat, banjir terjadi di 15 kabupaten/kota di wilayahnya. Sementara tanah longsor dilaporkan terjadi di empat kabupaten, yakni Pekalongan, Kendal, Banjarnegara, dan Kabupaten Semarang.

Di Kabupaten Pekalongan, tanah longsor terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Petungkriyono. Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan M Yulian Akbar menuturkan, bencana tanah longsor paling parah menimpa Desa Kasimpar. Di wilayah ini, longsor memutus akses jalan yang menghubungkan Kecamatan Petungkriyono dan Kecamatan Doro.

Petugas gabungan, sukarelawan dan warga mengevakuasi korban meninggal dunia akibat tertimbun longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Akibat bencana itu, sebanyak 11 orang dilaporkan meninggal dunia.

Material longsor dari sebuah tebing di Desa Kasimpar menimbun sejumlah mobil yang tengah melintas. Selain itu, longsor juga menimbun sebuah kafe dan rumah warga.

”Informasi sementara, ada 11 korban meninggal akibat longsor tersebut. Hingga saat ini, sudah ditemukan 4 orang, (korban) yang lain masih dalam proses evakuasi,” kata Yulian saat dihubungi, Selasa (21/1/2025) siang.

Selain mengevakuasi korban meninggal yang masih tertimbun longsor, petugas gabungan dari berbagai instansi serta sukarelawan bencana juga membersihkan material longsor. Alat berat pun dikerahkan agar jalanan bisa dilalui kembali.

Sebuah mobil terbawa material longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Akibat bencana itu, sebanyak 11 orang dilaporkan meninggal dunia

Menurut Yulian, wilayah Petungkriyono yang berada di dataran tinggi Pekalongan termasuk salah satu daerah rawan longsor. Kondisi jadi semakin parah karena hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Senin (20/1/2025) petang hingga malam.

Tak hanya tanah longsor di daerah dataran tinggi, hujan juga disebut Yulian memicu banjir di daerah bawah Kabupaten Pekalongan. Banjir dengan ketinggian hingga 1 meter dilaporkan merendam sejumlah desa di Kecamatan Doro, Lebakbarang, Talun, Karanganyar, Kedungwuni, Wonopringgo, Wiradesa, dan Tirto. Hingga Selasa siang, sejumlah titik disebut Yulian masih tergenang.

”Akibat banjir tersebut, ada sejumlah warga yang mengungsi. Namun, masih didata jumlah dan titiknya. Kami juga akan mendirikan dapur-dapur umum di sekitar wilayah terdampak,” kata Yulian.

Penjabat Bupati Brebes Djoko Gunawan (perahu belakang) beserta rombongan meninjau banjir di wilayahnya dengan menaiki perahu, Senin (20/1/2025). Banjir merendam sejumlah titik di Brebes dan mengakibatkan sedikitnya 328 jiwa mengungsi.

Selain di Kabupaten Pekalongan, banjir melanda sejumlah wilayah di Jateng, seperti Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Brebes, Pemalang, Kendal, Batang, dan Kabupaten Semarang. Banjarnegara, Kota Semarang, Kota Surakarta, Sukoharjo, Sragen, Grobogan, dan Demak yang juga dilaporkan terendam banjir.

Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, ada 9.179 unit rumah yang terendam banjir di belasan wilayah tersebut. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 1.590 jiwa dilaporkan mengungsi. Seorang warga di Brebes meninggal setelah hanyut saat banjir.

”BPBD di kabupaten/kota masih dalam proses penanganan bencana-bencana tersebut. Kami dari sejumlah dinas di provinsi juga membantu dan menangani titik-titik yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi, misalnya melakukan pembersihan material longsor di jalan provinsi dan juga menambal tanggul sungai yang jebol,” kata Bergas.

Banjir merendam rel kereta api di Kilometer 32+5/7 antara Stasiun Gubug - Stasiun Karangjati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025) pagi. Akibatnya, dua perjalanan kereta api dibatalkan dan rekayasa pola operasi kereta diubah.

Jalur kereta

Banjir yang melanda Grobogan turut merendam rel kereta api di Kilometer 32+5/7 antara Stasiun Gubug dan Stasiun Karangjati. Akibat banjir tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Daerah Operasi 4 Semarang membatalkan dua perjalanan kereta api.

”Perjalanan kereta api yang dibatalkan antara lain kereta api Kedungsepur dengan nomor 546/545 relasi Semarang Poncol-Ngrombo dan kereta api Ambarawa Ekspres dengan nomor 230/233 relasi Semarang Poncol-Surabaya Pasarturi. KAI memohon maaf atas pembatalan perjalanan kereta api imbas banjir yang saat ini terjadi. Pelanggan yang terdampak dapat membatalkan tiketnya di stasiun dan bea tiket akan dikembalikan 100 persen di luar bea pemesanan,” ujar Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo.

Menurut Franoto, pihaknya telah mengerahkan satu rangkaian kereta api pengangkut batu kricak beserta material lainnya, seperti pasir, bantalan rel, dan besi. Material ini digunakan petugas prasarana untuk memperbaiki jalur dan mengatasi luapan air di lokasi terdampak.

Lokomotif disel yang menarik gerbong penumpang bagi peserta tur 156 tahun perjalanan kereta api pertama di jawa di Stasiun Tawang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (10/8/2023). Tur tersebut diselenggarakan untuk mengenang kembali perjalanan kereta api pertama kali di jawa pada 10 Agustus 1867 dari Stasiun Kemijen Semarang menuju Stasiun Tanggung. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 10-08-2023 *** Local Caption ***

Demi kelancaran operasional dan keselamatan, KAI Daop 4 Semarang memberlakukan rekayasa pola operasi dengan pengalihan rute perjalanan. Kereta api dari Surabaya menuju Semarang yang semula melalui rute Surabaya-Cepu-Gubug-Brumbung-Semarang, sementara dialihkan menjadi Surabaya-Cepu-Gambringan-Gundih-Kedungjati-Brumbung-Semarang.

Rekayasa pola operasi juga berlaku sebaliknya. Kereta-kereta yang semula melalui rute Semarang- Brumbung-Gubug-Cepu-Surabaya dialihkan rutenya menjadi Semarang-Brumbung-Kedungjati-Gundih-Gambringan-Cepu-Surabaya.

”Kereta api pertama yang menerapkan pola operasi jalan memutar ini adalah kereta nomor 227 Blora Jaya dengan relasi Cepu-Semarang Poncol. Untuk selanjutnya, kereta api yang akan menerapkan pola operasi pengalihan rute, yakni kereta api 61 Sembrani menjadi relasi Surabaya-Gambringan-Gundih-Semarang-Jakarta dan kereta api 1 Argo Bromo Anggrek menjadi relasi Surabaya-Madiun-Solo Jebres-Semarang-Jakarta,” imbuh Franoto.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari