Gagalnya perundingan gencatan senjata tahap kedua antara Israel dan Hamas mengobarkan kembali perang terbuka.
19 Mar 2025 10:58 WIB · Foto
Tidak lagi terlihat deretan panjang meja kursi yang tertata setiap menjelang waktu berbuka puasa. Suara riang tawa dan canda anak-anak berlarian di reruntuhan bangunan di sepanjang jalanan di Gaza kini berubah menjadi jerit ketakukan saat Israel kembali membombardir daerah tersebut.
Kedamaian yang dirasakan warga Palestina sejak 9 Januari 2025, sejak disepakati gencatan senjata di antara dua pihak yang bertikai, berakhir kemarin, 18 Maret 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/1ffde0dd-2647-4f15-97b0-ddb6f5ca3d5e_jpg.jpg)
Belasan pesawat tempur Israel menembakkan rudal ke target di kota Gaza, Rafah, dan Khan Younis.
Ini adalah gelombang serangan udara terbesar di Gaza sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari silam.
Di tengah alotnya perundingan untuk usaha gencatan senjata tahap kedua, meneruskan 90 hari perdamaian di gencatan senjata pertama, Israel mengambil langkah untuk kembali menyerang musuhnya.
Pertempuran terbuka sejak 7 Oktober 2023 kini berlanjut. Kala itu Hamas berhasil merangsek, masuk ke Israel, menewaskan dan menyandera ratusan warga Israel. Lebih dari 40.000 warga Palestina terbunuh dalam aksi balasan Israel atas serangan Hamas itu.
Perdamaian yang hanya terjadi selama 90 hari, dimulai Januari 2025 sampai 1 Maret 2025, karena kesepakatan gencatan senjata, gagal dilanjutkan ke tahap kedua. Baik Israel maupun Hamas saling menyalahkan dalam kesepakatan pertukaran sandera.
Kini Gaza kembali porak-poranda. Rumah sakit kembali dibanjiri mayat dan korban yang terluka. Jerit tangis kembali terdengar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/b73c18bf-c92e-4351-b83e-a5a2e148a0ca_jpg.jpg)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji