Ratap Tangis Terdengar Lagi di Gaza

Gagalnya perundingan gencatan senjata tahap kedua antara Israel dan Hamas mengobarkan kembali perang terbuka.

19 Mar 2025 10:58 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Tidak lagi terlihat deretan panjang meja kursi yang tertata setiap menjelang waktu berbuka puasa. Suara riang tawa dan canda anak-anak berlarian di reruntuhan bangunan di sepanjang jalanan di Gaza kini berubah menjadi jerit ketakukan saat Israel kembali membombardir daerah tersebut. 

Kedamaian yang dirasakan warga Palestina sejak 9 Januari 2025, sejak disepakati gencatan senjata di antara dua pihak yang bertikai, berakhir kemarin, 18 Maret 2025. 

Warga Palestina duduk di meja besar saat mereka berkumpul untuk berbuka puasa, makanan puasa, selama bulan Ramadhan di Kota Gaza, Kamis 6 Maret 2025.

Belasan pesawat tempur Israel menembakkan rudal ke target di kota Gaza, Rafah, dan Khan Younis. 

Ini adalah gelombang serangan udara terbesar di Gaza sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari silam. 

Warga Palestina berjalan di tengah reruntuhan rumah dan bangunan yang hancur di Jabaliya, Jalur Gaza utara, pada Jumat (14/3/2025).
Seorang pria menyajikan makanan untuk anak-anak saat waktu berbuka puasa di Jalan Beit Lahia, Jalur Gaza utara, Sabtu (15/3/2025).
Anak-anak Palestina berjuang mendapatkan makanan di pusat distribusi di Beit Lahiya, Jalur Gaza, Minggu (16/3/2025).
Pemuda Palestina bermain dengan kembang api merayakan bulan suci Ramadhan di Jalur Gaza tengah pada Jumat (14/3/2025).
Tentara Israel melewati dinding beton dengan pesan yang menuntut pembebasan sandera yang ditahan oleh Hamas, di jalan dekat perbatasan Israel-Gaza di Israel selatan, Selasa (18/3/2025).
Poster dengan foto dan nama tahanan Palestina di Israel, di Gaza, di kota Tepi Barat Ramallah Selasa (18/3/ 2025).
Einav Zangauker, ibu dari Matan, yang masih disandera oleh Hamas di Jalur Gaza, mencoba melewati kawat berduri untuk mendekati pagar perbatasan Gaza, di Israel selatan, Selasa (18/3/2025).
Kerabat sandera yang ditahan oleh Hamas di Jalur Gaza duduk di pagar perbatasan Israel-Gaza, dikawal oleh tentara Israel. Mereka menyerukan pembebasan sandera yang masih ditahan, Selasa (18/3/2025).

Di tengah alotnya perundingan untuk usaha gencatan senjata tahap kedua, meneruskan 90 hari perdamaian di gencatan senjata pertama, Israel mengambil langkah untuk kembali menyerang musuhnya. 

Pertempuran terbuka sejak 7 Oktober 2023 kini berlanjut. Kala itu Hamas berhasil merangsek, masuk ke Israel, menewaskan dan menyandera ratusan warga Israel. Lebih dari 40.000 warga Palestina terbunuh dalam aksi balasan Israel atas serangan Hamas itu. 

Warga Palestina memeriksa kerusakan di Sekolah Al-Tabi'in di Jalur Gaza setelah serangan udara Israel, Selasa (18/3/2025).
Sebuah ledakan terlihat di Jalur Gaza, Selasa (18/3/2025).
Mayat Muhammad Akrad, salah satu dari tiga orang yang tewas dalam serangan udara Israel pada hari Senin, dibawa untuk dimakamkan di Masjid Omary di Daraa, Suriah selatan, Selasa (18/3/2025).
Warga Palestina meninggalkan Jalur Gaza setelah serangan udara Israel yang menargetkan bagian utara dan bagian lain dari Gaza pada 18 Maret 2025 dini hari. Tentara Israel kembali melepaskan serangan yang mematikan, yang paling intens sejak gencatan senjata bulan Januari lalu.
Seorang ibu membawa mayat anaknya ke Rumah Sakit Al-Ahli setelah serangan udara Israel di kota Gaza, Selasa (18/3/2025).

Perdamaian yang hanya terjadi selama 90 hari, dimulai Januari 2025 sampai 1 Maret 2025, karena kesepakatan gencatan senjata, gagal dilanjutkan ke tahap kedua. Baik Israel maupun Hamas saling menyalahkan dalam kesepakatan pertukaran sandera. 

Kini Gaza kembali porak-poranda. Rumah sakit kembali dibanjiri mayat dan korban yang terluka. Jerit tangis kembali terdengar.

Seorang wanita menangis di samping mayat warga Palestina yang tewas dalam serangan udara tentara Israel dibawa ke Rumah Sakit Al-Ahli di Kota Gaza, Selasa, 18 Maret 2025.

Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji