TENIS WTA DOHA

Tantangan Janice Tjen untuk Diri Sendiri

Janice Tjen berhadapan dengan Iga Swiatek di WTA 1000 Doha. Kemampuan Janice diukur saat melawan pemilik enam gelar Grand Slam itu.

11 Feb 2026 10:19 WIB · Olahraga

AFP/Karim Jaafar

Oleh Yulia Sapthiani

DOHA, SELASA — Untuk pertama kalinya, Janice Tjen bertemu petenis peringkat sepuluh besar dunia. Laga melawan Iga Swiatek pada babak kedua WTA 1000 Doha bukan hanya persoalan berhadapan dengan petenis dengan enam gelar Grand Slam, melainkan juga menjadi tantangan untuk diri sendiri.

Pertandingan tersebut digelar di Khalifa International Tennis and Squash Complex, Doha, Qatar, Selasa (10/2/2026) sore waktu setempat atau Selasa malam waktu Indonesia. Bermain di lapangan utama karena berhadapan dengan unggulan teratas, Janice kalah dengan skor 0-6, 3-6.

Meski Swiatek berusia hanya setahun lebih tua dari Janice yang berusia 23 tahun, perjalanannya di arena tenis profesional sudah menaiki tangga yang tinggi. Sejak bermain dalam persaingan tenis profesional pada 2016, Swiatek memiliki enam gelar juara dari tiga Grand Slam, kecuali Australia Terbuka.

Petenis Polandia ini pernah menempati puncak peringkat dunia selama 125 pekan dalam rentang 2022-2024. Adapun di Doha, Swiatek juara 2022-2024 dengan level WTA 500 pada 2023.

Petenis Polandia, Iga Swiatek, mengembalikan pukulan Janice Tjen (Indonesia) pada babak kedua WTA 1000 Doha, Qatar, Selasa (10/2/2026). Swiatek mengalahkan Janice, 6-0, 6-3.

Adapun Janice memasuki kompetisi profesional sejak 2018, tetapi berhenti pada 2023 hingga pertengahan 2024 karena kuliah di Universitas Pepperdine, Amerika Serikat. Setelah meniti kembali karier sebagai petenis profesional pada Juni 2024 dengan mengikuti turnamen ITF secara rutin, dia menjalani debut di arena Grand Slam dengan mengikuti Amerika Serikat Terbuka 2025. Menjalani persaingan sejak babak kualifikasi, Janice kalah dari Emma Raducanu pada babak kedua.

Sekitar dua bulan sebelum Janice tampil untuk pertama kalinya di Grand Slam, Swiatek menjuarai Wimbledon yang merupakan gelar keenam dalam turnamen profesional level tertinggi tersebut.

Perbedaan level ini pun tampak ketika mereka bertemu di Doha, terutama pada set pertama. Janice kesulitan mengimbangi Swiatek, bahkan saat memegang servis. Pengembalian servis Swiatek yang begitu kencang dan membuat bola jatuh di sekitar baseline, membuat Janice tertekan.

Setiap perebutan poin berlangsung singkat dan reli panjang, sebanyak 19 pukulan, baru terjadi pada gim kelima. Janice mengeluarkan pukulan andalan, slice, yaitu pukulan yang membuat bola melaju pelan hingga jatuh di dekat net.

Swiatek tak menduga arah pukulan ini, tetapi masih bisa mengantisipasinya dengan berlari dari baseline. Pada set pembuka ini, Janice hanya mendapat delapan dari 33 poin yang diperebutkan dan tiga servisnya dipatahkan Swiatek.

”Saya harus menyesuaikan diri dengan ritme permainan dia yang sering berubah. Dia memilih ingin memiliki gaya pukulan seperti Ash Barty dan itu mengingatkan saya pada pertandingan kami. Jadi, saya tahu apa yang akan saya hadapi dan saya sudah siap untuk itu,” tutur Swiatek dalam laman resmi WTA.

Petenis Polandia, Iga Swiatek, melakukan servis saat melawan Janice Tjen (Indonesia) pada babak kedua WTA 1000 Doha, Qatar, Selasa (10/2/2026). Swiatek mengalahkan Janice, 6-0, 6-3.

Ashleigh Barty, yang disebutkan Swiatek, adalah mantan petenis Australia dengan tiga gelar Grand Slam. Swiatek dua kali berhadapan dengan mantan petenis nomor satu dunia itu pada 2021 dan 2022 dan selalu kalah.

Bagi Janice, Barty adalah salah satu sumber inspirasinya. Ciri khas Barty adalah pola main variatif dengan pukulan slice yang sering mengecoh lawan. Ini pula yang dicoba untuk dikuasai Janice. Dia pun berusaha bermain dengan cara itu di Doha, tetapi belum terlalu sempurna karena masih bisa diantisipasi Swiatek.

Baru pada set kedua, Janice mulai bisa menyesuaikan diri dengan permainan level tinggi Swiatek, salah satunya lebih siap dan agresif saat mengembalikan servis. Janice mematahkan servis Swiatek pada gim pertama meski lawan langsung membalas pada gim berikutnya. Janice bisa menahan imbang Swiatek hingga gim keenam, dengan skor 3-3, sebelum lawan merebut tiga berikutnya secara beruntun.

Pelatih Janice, Chris Bint, menuturkan, bertanding melawan petenis elite, seperti Swiatek, punya nilai sangat penting bagi Janice. ”Iga adalah salah satu petenis terbaik saat ini. Pertandingan ini penting bagi Janice untuk menantang dirinya sendiri dan melihat di mana level kemampuannya,” ujar Bint yang dihubungi Kompas.

Pelatih asal Inggris itu juga menyebutkan bahwa dia dan Janice memperlakukan pertandingan melawan Swiatek sama seperti pertandingan lain. ”Dari pertandingan itu, kami melihat sejauh mana kemampuan Janice dalam menerapkan taktik,” ucap Bint yang juga menyatakan gembira bahwa ada pendukung Janice yang datang ke stadion.

WTA Doha menjadi turnamen WTA 1000 kedua bagi Janice setelah WTA Beijing, September 2025. Saat itu, dia bersaing sejak babak kualifikasi, lalu kalah di babak pertama.

Petenis Indonesia, Janice Tjen, saat tampil pada babak kedua WTA 1000 Doha, Qatar, Selasa (10/2/2026). Janice kalah dari Iga Swiatek.

Setelah menutup musim kompetisi 2025 dengan gelar juara tunggal dan ganda putri dari WTA 250 Chennai, hasil yang didapat Janice pada awal 2026 tidak begitu baik. Dia kalah pada babak pertama dalam dua turnamen pemanasan Australia Terbuka, di Auckland, Selandia Baru, dan di Hobart, Australia.

Di Australia Terbuka, Janice membuat kejutan dengan mengalahkan finalis AS Terbuka 2021, Leylah Fernandez, pada babak pertama, tetapi kalah dari Karolina Pliskova pada babak kedua.

Pada pekan pertama Februari, Janice mendapat kesempatan menjalani debut dalam turnamen level WTA 500, yaitu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dia tersingkir pada babak kedua di nomor tunggal, tetapi mampu menembus semifinal ganda bersama petenis Filipina, Alex Eala.

Setelah Doha, Janice akan melanjutkan perjalan pada turnamen di Timur Tengah lainnya, yaitu WTA 1000 Dubai, 15-21 Februari. Hingga saat ini, dia tercatat dalam daftar peserta yang harus bertanding sejak babak kualifikasi.

Gauff tersingkir

Selain Swiatek, enam petenis ranking sepuluh besar dunia lainnya juga tampil di Doha, termasuk juara Australia Terbuka, Elena Rybakina. Petenis ranking ketiga yang menjadi unggulan kedua ini mengalahkan Wang Xin, 6-2, 6-4, pada babak kedua dan akan berhadapan dengan petenis China lainnya di babak ketiga, Zheng Qinwen.

Cori Gauff saat melakukan servis pada babak kedua WTA 1000 Doha, Qatar, Selasa (10/2/2026). Gauff tersingkir.

Sementara itu, unggulan keempat, Cori Gauff, disingkirkan Elisabetta Cocciaretto, 4-6, 2-6. ”Saya mencoba bermain lebih agresif, tetapi banyak melakukan unforced error. Saat saya mencoba lebih pasif, dia memukul bola dengan lebih cepat. Saya kesulitan bermain melawan petenis dengan pukulan yang sangat datar dan bisa melakukan semuanya dengan cepat,” tutur Gauff.

Petenis lain yang memenangi babak kedua dan akan berhadapan pada babak ketiga adalah dua remaja, Mirra Andreeva dan Victoria Mboko. Andreeva, yang berusia 18 tahun, menang atas Mboko (19) pada satu pertemuan sebelumnya, yaitu dalam final WTA Adelaide, Januari.

(AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra