Tantangan Target Lebih Tinggi bagi Pelari Gawang Dina Aulia

Dina Aulia ditantang bisa bersaing di level Asia pada Asian Games dan menembus level dunia dengan lolos limit Olimpiade. Hasil di Kejuaraan Dunia 2025 jadi evaluasi.

14 Sep 2025 17:14 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

TOKYO, MINGGU — Dina Aulia, satu-satunya wakil Indonesia di Kejuaraan Dunia Atletik 2025 Tokyo, Jepang, belum meraih hasil yang diinginkan. Namun, pencapaian di Tokyo jadi lecutan Dina untuk menaklukkan tantangan bersaing di level Asia dan dunia.

Dina Aulia menandai penampilan di Kejuaraan Dunia Atletik 2025 pada nomor spesialisasinya, lari gawang 100 meter, dari babak penyisihan, Minggu (14/9/2025) pagi waktu setempat. Dina dikirim sebagai satu-satunya wakil ”Merah Putih” setelah mendapatkan satu kuota undangan karena tidak ada atlet Indonesia yang lolos limit kualifikasi.

Berlomba di Stadion Nasional Jepang, Tokyo, pada heat kedua, Dina finis pada posisi ke-6 dengan catatan waktu 13,28 detik. Hanya tiga pelari gawang tercepat pada tiap-tiap heat yang bisa melaju ke semifinal. Alhasil, langkah Dina di Kejuaraan Dunia pun terhenti.

Selepas perlombaan, pelatih lari gawang pelatnas atletik Indonesia, Fitri ”Ongky” Haryadi, mengatakan, hasil yang diraih Dina memang tidak sesuai target untuk menajamkan rekor nasional. Dina saat ini memegang rekor nasional dengan catatan waktu 13,11 detik.

Pelari gawang 100 meter putri potensial Dina Aulia dan pelatihnya, Fitri "Ongky" Haryadi berpose usai latihan di pelatnas PB PASI di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Jumat (22/4/2022). Dina Aulia sejatinya berpeluang besar meraih medali di SEA Games Vietnam 2021. Dengan catatan waktu terbaik 13,88 detik, dia bisa menggenggam perunggu ajang itu kalau berpatokan dengan hasil SEA Games Filipina 2019. Sayangnya, mimpi atlet berusia 18 tahun itu kandas karena kebijakan efisiensi Kementerian Pemuda dan Olahraga atau Kemenpora. (KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH)

Namun, Ongky tetap bersyukur dan bangga karena Dina menampilkan performa yang baik kendati terganggu masalah di luar perlombaan, yakni penerbangan yang tertunda dan waktu istirahat yang singkat. Ongky dan Dina baru tiba di Tokyo sehari sebelum berlomba dan baru bisa istirahat pada sore hari.

Padahal, rencana awal, mereka sudah di Tokyo dua hari sebelum perlombaan. Ongky mengatakan, apa yang mereka alami di Kejuaraan Dunia jadi pelajaran dalam mempersiapkan diri pada perlombaan selanjutnya.

”Walaupun pasti ada pengaruh pada psikologinya, Dina tetap berjuang, jadi saya tetap senang karena Dina tidak ambil pusing dengan gangguan yang terjadi,” kata Ongky saat dihubungi dari Jakarta.

Selain pembelajaran untuk mengatur perjalanan sebelum perlombaan, hasil di Kejuaraan Dunia juga jadi evaluasi dan lecutan bagi Ongky dan Dina. Apalagi, mereka saat ini sedang menjalani program pemusatan latihan di Jepang sejak pekan lalu.

Pelari Kalimantan Selatan Dina Aulia (kiri) finish di urutan pertama pada cabor atletik nomor lari 100 meter putri di PON Aceh-Sumut 2024 di Stadion Madya Atletik Sumut Sport Center, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu (15/9/2024). Dina Aulia memecahkan rekor PON dengan catatan waktu 11.62 detik, selisih 5 detik dari rekor sebelumnya yang dipegang pelari Jabar Tyas Murtingingsih dengan waktu 11.67 detik. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 15-09-2024

Mereka menjadi bagian dari atlet dan pelatih yang diberangkatkan untuk menjalani pemusatan latihan di Aoshima, Miyazaki, Jepang. Program ini membuat mereka bisa lebih fokus meningkatkan performa.

Terpenting, mereka juga jadi punya kesempatan untuk banyak mengasah diri dengan berlomba. Setiap perlombaan, kata Ongky, akan memberi catatan evaluasi sekaligus mengasah kemampuan.

Selama sepekan ini, Ongky melihat latihan Dina sudah berada di jalur yang seharusnya. Dia juga mengungkapkan sudah berdiskusi dengan pelatih Jepang yang anak asuhnya sudah mencapai limit Olimpiade Paris 2024, 12,77 detik.

Dari diskusi itu, mereka menemukan ada beberapa teknik Dina yang bisa diperbaiki untuk memangkas waktu. Salah satunya adalah teknik saat mendarat.

Apabila gerakan ini bisa diperbaiki, Ongky optimistis catatan waktu Dina akan semakin tajam. Dengan performa Dina yang juga terus berkembang dan usianya yang baru menginjak 22 tahun, Ongky yakin Dina bisa menjadi pelari gawang pertama Indonesia yang menembus waktu 12 detik.

Pelari gawang 100 meter putri potensial Dina Aulia menjalani latihan di pelatnas PB PASI di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Jumat (22/4/2022). Dina Aulia sejatinya berpeluang besar meraih medali di SEA Games Vietnam 2021. Dengan catatan waktu terbaik 13,88 detik, dia bisa menggenggam perunggu ajang itu kalau berpatokan dengan hasil SEA Games Filipina 2019. Sayangnya, mimpi atlet berusia 18 tahun itu kandas karena kebijakan efisiensi Kementerian Pemuda dan Olahraga atau Kemenpora. (KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH)

Tak hanya itu, Dina pun bisa mewujudkan target lebih tinggi yang diberikan kepadanya, yakni mencapai level Asia dan dunia. ”Pak Luhut (Ketua Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan) menantang Dina lari 12,7 detik atau 12,8 detik. Dina menyanggupi itu,” ucap Ongky.

”Ini tantangan juga buat saya sebagai pelatih. Saya percaya diri, Dina juga percaya diri. Jadi, targetnya sudah Asia di Asian Games dan dunia dengan lolos limit Olimpiade,” tuturnya.

Dina sebenarnya sudah mulai memasuki persaingan Asia. Ketika mengukir rekor nasional 13,11 detik, Dina mencapainya pada Kejuaraan Asia Atletik 2025 di Gumi, Korea Selatan, Mei lalu.

Kendati belum berhasil meraih medali, Dina mampu menembus final dan finis di peringkat keempat. Pelari gawang asal Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, itu unggul atas pelari Asia Tenggara lain.

Pelari gawang 100 meter putri potensial Dina Aulia rehat sejenak di sela latihan di pelatnas PB PASI di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Jumat (22/4/2022). Dina Aulia sejatinya berpeluang besar meraih medali di SEA Games Vietnam 2021. Dengan catatan waktu terbaik 13,88 detik, dia bisa menggenggam perunggu ajang itu kalau berpatokan dengan hasil SEA Games Filipina 2019. Sayangnya, mimpi atlet berusia 18 tahun itu kandas karena kebijakan efisiensi Kementerian Pemuda dan Olahraga atau Kemenpora. (KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH)

Di level Asia Tenggara, terutama pada SEA Games Kamboja 2023, Dina memang belum berhasil meraih emas. Dina meraih medali perunggu pada nomor lari gawang 100 meter dengan waktu 13,59 detik.

Namun, dengan catatan waktunya yang kian tajam, bukan tidak mungkin Dina bisa melampaui prestasi itu di SEA Games Thailand 2025. Pada Kejuaraan Asia, Dina unggul atas pelari Vietnam yang sama-sama masuk final, tetapi finis pada peringkat ke-7, Thi My Tien Hynh.

Jepang dan Kenya

Selain Dina, atlet atletik lain yang juga menjalani pemusatan latihan di Jepang adalah sprinter putra Lalu Muhammad Zohri. Zohri didampingi Pelatih Achmad Sumarsono Sakeh. Mereka juga didampingi fisioterapis Sahid Prasetia.

Menurut keterangan PB PASI, lokasi pemusatan latihan di Sportsland Miyazaki menawarkan lintasan berstandar internasional, fasilitas pemulihan modern, serta lingkungan kondusif untuk sprinter elite. Cuaca di sana juga cenderung stabil dan terdapat koneksi langsung ke fasilitas olahraga utama.

Atas alasan-alasan itulah, lokasi ini dipilih untuk pemusatan latihan nasional atlet Indonesia. Mereka akan menjalani pemusatan latihan hingga 2 Desember 2025.

Indonesia's Lalu Muhammad Zohri reacts after competing in the men's 100m heat of the athletics event at the Paris 2024 Olympic Games at Stade de France in Saint-Denis, north of Paris, on August 3, 2024. (Photo by Jewel SAMAD / AFP)

Pada nomor atletik lain, yaitu lari jarak jauh, Odekta Elvina Naibaho dan Robi Syianturi juga dikirim untuk menjalani pemusatan latihan di luar negeri. Bersama Pelatih Dwijanarto dan masseur Wildan Wahyudin, mereka berlatih di Complete Sports Athletics Training Centre, Eldoret, Kenya.

Berlokasi pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut, Eldoret dikenal sebagai pusat pelatihan daya tahan dan pelatihan atletik terbaik di Afrika. Selain lingkungan tenang, terdapat pula fasilitas rehabilitasi dan nutrisi yang terintegrasi untuk memaksimalkan performa pelari jarak jauh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti