Tarian Bocah Pacu Jalur Jadi Tren, Bagaimana Kisah Tradisi asal Kuansing Itu?

Selain memberi semangat bagi para pendayung, tarian bocah ”togak luan” di haluan sampan pada pacu jalur juga berfungsi sebagai sinyal tim dalam posisi unggul.

04 Jul 2025 18:09 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Yola Sastra

Dengan kaki sedikit tertekuk, bocah laki-laki bersetelan teluk belanga, tanjak, dan kacamata hitam menari-nari pelan di haluan sampan. Gerakan tangannya sederhana, tetapi seirama dengan dayungan sampan puluhan pria dewasa di belakangnya. 

Mulanya, kedua tangan bocah itu bergantian menepuk-nepuk udara dan diselingi gerak tangan menggulung sebagai transisi pergantian. Selanjutnya, kedua tangannya bergantian mengayun depan-belakang. 

Begitulah sekilas tarian bocah yang berperan sebagai togak luan pada permainan pacu jalur asal Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Video tarian bocah itu akhir-akhir ini kembali viral dan jadi tren aura farming di media sosial, terutama Tiktok.

Aura farming merupakan konten yang berisi pose, sikap, atau aksi seseorang yang secara sederhana bisa memancarkan karisma atau aura sehingga terlihat keren atau cool. Di medsos, konten ini biasanya dilengkapi persentase aura yang dihasilkan.

Meskipun sederhana, koreografi bocah pacu jalur itu dianggap cool, keren, sehingga ramai ditiru atau diperagakan ulang oleh kreator konten atau akun-akun olahraga dunia. Di Tiktok, tren aura farming pacu jalur, antara lain, diikuti oleh akun NFL, AC Milan, PSG, dan Formula 1.

Akun PSG, misalnya, membandingkan selebrasi Hakimi, Neymar, Matuidi, dan Barcola dengan gerakan bocah penari pacu jalur. Sementara itu, AC Milan menampilkan maskot klub meniru tarian bocah pacu jalur.

Pacu jalur merupakan lomba pacu sampan asal Kuansing. Dalam bahasa lokal, jalur berarti sampan atau perahu. Permainan rakyat ini digelar setiap tahun di sepanjang Sungai Kuantan wilayah Kuansing.

Mahviyen Trikon Putra (48), praktisi pacu jalur, menjelaskan, bocah yang menari di haluan jalur dikenal dengan sebutan togak luan atau orang yang berdiri di haluan jalur. Togak berarti berdiri atau tegak, sedangkan luan berarti haluan. Sebutan lainnya adalah anak joki.

”Togak luan berperan sebagai penyemangat bagi pendayung yang sedang berpacu. Gerakannya sekaligus jadi isyarat bagi penonton. Kalau dia berdiri, tandanya haluan jalurnya sedang unggul atas lawannya,” kata Mahviyen ketika dihubungi dari Padang, Jumat (4/7/2025).

Bocah yang berperan sebagai togak luan di tim Rajo Bujang menari di haluan sampan dalam pacu jalur di Sungai Kuantan di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, 2023. Sumber: Instagram @rajo_bujang.official

Selain togak luan, ada tiga peran lain dalam tim pacu jalur, yaitu pendayung, timbo ruang, dan tukang onjai. Timbo ruang di bagian tengah jalur berperan sebagai pemberi komando, sedangkan tukang onjai di belakang jalur berperan sebagai penunjuk arah. Adapun kendali laju jalur berada di tangan para pendayung.

Satu balapan dalam pacu jalur biasanya diikuti oleh dua jalur dengan sistem gugur. Perahu kayu sepanjang 30-35 meter itu berpacu di sungai dengan panjang lintasan 800-1.000 meter. Satu tim biasanya terdiri atas 45-60 orang, termasuk satu togak luan, satu timbo ruang, dan satu tukang onjai.

Menurut dia, posisi togak luan memang diisi oleh anak usia 8-13 tahun dan berlangsung sejak permainan ini ada di Kuansing pada abad ke-17. Selain pertimbangan bobot dan kegesitan, ini juga bermakna masyarakat Rantau Kuantan sedari kecil punya keberanian.

”Syarat menjadi togak luan yaitu pandai berenang, punya keseimbangan tubuh yang baik—berdiri di atas haluan selebar 15-20 cm saat jalur melaju kencang—dan harus punya mental yang kuat,” kata Mahviyen, yang semasa kecil pernah jadi togak luan.

Tidak ada gerakan baku dalam aksi togak luan. Ia menyebut, aksi bocah-bocah itu merupakan inisiatif dan kreativitas masing-masing. Namun, ekspresi natural togak itulah yang justru menjadi salah satu daya tarik pacu jalur ini.

Togak luan tidak selalu berdiri di sepanjang balapan. Bocah ini baru berdiri dan menari-nari saat timnya unggul. Jika tim tertinggal, togak luan biasanya duduk. Bahkan, pada momen tertentu, saat jalurnya tertinggal, togak luan melompat ke sungai.

”Itu biasanya bagian dari strategi. Sekarang, ada pertimbangan aerodinamis dalam pacu. Togak luan terjun untuk mengurangi beban jalurnya supaya bisa mengejar lawan,” kata pria yang kini berperan sebagai timbo ruang di tim Jalur Rajo Bujang dari Desa Padang Tanggung Pangean ini.

Foto tangkapan layar tren ”aura farming” pacu jalur yang diunggah oleh akun resmi Tiktok AC Milan, klub sepak bola papan atas Italia, Juli 2025.

Sekilas sejarah

Hasbullah, dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau, menyebut, pada awal abad ke-17, jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan—daerah di sepanjang Sungai Kuantan di antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di bagian hilir.

Penjelasan itu termuat dalam artikel ”Pacu Jalur dan Solidaritas Sosial Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi”. Artikel ini terbit dalam jurnal Toleransi: Media Komunikasi Umat Beragama, Volume 7, Nomor 2 Juli-Desember 2015.

Menurut Hasbullah, saat itu transportasi darat belum berkembang. Perahu atau jalur pun jadi alat angkut dan transportasi penting bagi warga desa. Jalur dipakai untuk mengangkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta manusia dengan kapasitas sekitar 40 orang.

Tidak jelas kapan pacu jalur dimulai. Namun, hampir dipastikan pacu jalur dikenal penduduk Rantau Kuantan sekitar tahun 1900. Pada masa ini, jalur yang dipacukan kebanyakan perahu-perahu besar yang digunakan sehari-hari.

Kegiatan pacu jalur masa itu, lanjutnya, diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai/Batang Kuantan untuk memperingati dan merayakan sejumlah hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, dan Tahun Baru Islam.

Waktu itu, beberapa kampung tidak memberi hadiah bagi jalur yang menang. Namun, selesai balapan, biasanya ada makan bersama hidangan tradisional setempat, seperti konji, godok, lopek, paniaram, lida kambiang, buah golek, dan buah malako.

Bocah yang berperan sebagai togak luan menari di haluan sampan dalam pacu jalur di Sungai Kuantan di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, 2023. Sumber: wonderfulimages.kemenparekraf.go.id

Sebelum kedatangan Belanda, Rantau Kuantan dikuasai oleh pemuka adat tiap-tiap suku. Pada masa ini, pemenang pacu jalur biasanya diberi hadiah oleh penghulu berupa marewa (sejenis bendera segitiga dari kain warna-warni) dari peringkat pertama hingga keempat.

Pada masa berikutnya, di Teluk Kuantan dan sekitarnya, jalur yang digunakan mulai dihiasi ukiran dengan motif kepala binatang pada haluan, seperti kepala ular, buaya, dan harimau, dengan muatan jalur 40 orang. Selain untuk pacu, jalur bermotif ini juga digunakan sebagai transportasi pemuka adat dan bangsawan.

”Jalur yang bermotif kepala binatang mulai mempergunakan dukun/pawang jalur dan kegiatan pacu jalur dengan motif semacam ini diperkirakan muncul ketika kedatangan Belanda sekitar tahun 1903,” tulis Hasbullah. Model jalur bermotif ini bertahan hingga sekarang.

Pacu jalur masa itu menjadi kegiatan yang disenangi masyarakat di wilayah Rantau Kuantan. Hampir setiap kampung atau desa memiliki jalur masing-masing. Bahkan, satu kampung bisa memiliki dua-tiga jalur.

Saat Belanda masuk ke Rantau Kuantan dan menduduki kota Teluk Kuantan tahun 1905, tulis Hasbullah, Belanda memanfaatkan pacu jalur sebagai kegiatan perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina setiap 31 Agustus dan tak lagi digelar saat hari besar Islam. Oleh sebab itu, masih ada warga yang menyebut kegiatan ini sebagai Tambaru. 

Pada masa Belanda ini, hadiah bagi peringkat pertama hingga keempat berganti menjadi tonggol. Tonggol merupakan marewa yang diperbesar dan lebih diperindah serta ditulisi nomor pemenang.

Tim Rajo Bujang melaju dalam pacu jalur di Sungai Kuantan di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, 2023.

Pacu jalur terabaikan dan tak digelar pada zaman pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda I dan II. Kondisi ini bertahan hingga sekitar tahun 1950. Walakin, beberapa waktu kemudian, saat kondisi stabil dan ekonomi warga pulih, pacu jalur kembali dihidupkan. 

Pada tahun 1951-1952, kata Hasbullah, muncul pacu perahu bermuatan 7-15 orang, kemudian bertambah besar menjadi 25 orang, hingga akhirnya pacu jalur digelar seperti sediakala dan diadakan dalam perayaan HUT Republik Indonesia setiap 17 Agustus.

Festival pacu jalur 

Setelah melewati berbagai lika-liku, pacu jalur bertahan hingga sekarang. Menurut Mahviyen, kini pacu jalur diadakan secara bergilir di 12 kecamatan di sepanjang Sungai Kuantan mulai dari Mei hingga Agustus. Kegiatan ini pun masuk dalam daftar sepuluh teratas Karisma Event Nusantara (KEN).

”Puncak kegiatannya di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, ibu kota Kuansing, pada 20-25 Agustus, sesuai kalender event nasional,” kata pria yang juga menjabat Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kuantan Singingi ini.

Ia menyebut, pacu jalur pun menjadi identitas dan penjaga marwah suatu desa di Kuansing. Setiap desa punya jalur masing-masing, bahkan jika penduduknya banyak bisa punya 2-3 jalur.

Tim Rajo Bujang melaju meninggalkan lawannya dalam pacu jalur di Sungai Kuantan di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, 2023.

Jalur tiap-tiap desa dibuat masyarakat secara gotong royong. Kata Mahviyen, jalur sepanjang puluhan meter itu dibuat dari kayu utuh. Hanya kayu tertentu yang bisa dibuat jadi jalur, antara lain meranti, mersawa, banio, dan kuras.

Kemenangan dalam pacu jalur akan mengangkat nama dan marwah desa. Sementara itu, jika ada desa yang tidak punya jalur, akan muncul anekdot, ”apa tidak ada laki-laki di desa itu?”. ”Jadi, pacu jalur ini juga menyangkut harga diri masyarakat,” ujarnya.

Zaman dulu, pemenang pacu jalur hanya mendapat umbul-umbul atau tonggol dari peringkat pertama hingga kesepuluh. Sekarang, selain tonggol, pemenang pertama hingga kesepuluh juga mendapatkan hadiah uang tunai.

Pemberian uang tunai diperlukan karena pacu jalur semakin kompetitif dan menjurus ke olahraga. ”Setiap sore, tim ada latihan sehingga butuh konsumsi, ekstra fooding, dan lainnya,” ujarnya.

Terkait viralnya pacu jalur di medsos, ia berharap semakin banyak kunjungan wisatawan ke Kuansing, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Meningkatnya kunjungan makin meningkatkan perputaran ekonomi daerah yang tentu berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Riau Roni Rakhmat, dilansir mediacenter.riau.go.id, mengatakan, viralnya pacu jalur Kuansing membuktikan kearifan lokal di Riau memiliki daya tarik universal dan bisa bersaing di panggung global.

”Fenomena ini juga menjadi momentum emas untuk semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke Riau dan Kuantan Singingi, sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat lokal terhadap budayanya sendiri,” kata Roni.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yola Sastra
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti