Tarif Impor AS Bakal Memukul Jutaan Petani Sawit dan Karet, Butuh Langkah Negosiasi Tepat

Pengusaha dikhawatirkan bakal membebankan kenaikan tarif kepada petani dengan cara menekan harga panen di kebun.

04 Apr 2025 14:45 WIB · Nusantara

Oleh Irma Tambunan

JAMBI, KOMPAS-Penerapan tarif bea masuk baru ke Amerika Serikat sebesar 32 persen pada Indonesia diprediksi bakal memukul rumah tangga jutaan petani sawit dan karet. Pengusaha berpotensi membebankan kenaikan tarif pada petani dengan cara menekan harga panen.

Pengamat ekonomi dan penasehat di Ikatan Alumni Universitas Jambi Usman Ermulan mengatakan, penerapan tarif bea masuk ke AS bakal segera berdampak pada jatuhnya harga-harga komoditas unggulan di daerah. Dia mencontohkan sawit hingga karet.

Padahal, saat ini, harga sejumlah komoditas unggulan tengah tinggi. Harga rata-rata buah sawit (TBS), misalnya, Rp 3.600 per kilogram serta harga getah karet mencapai 30.000 per kilogram. Itu merupakan harga tertinggi yang disambut antusias kalangan petani.

“Harga panen yang sedang bagus-bagusnya ini dikhawatirkan bakal segera terganggu oleh munculnya penerapan tarif impor AS,” ujar Usman, Jumat (4/4/2025).

Ia menyebut, luas kebun sawit di Jambi 1,3 juta hektar dan luas kebun karet lebih dari 700.00 hektar. Di Jambi, jumlah petani dan tenaga kerja di sektor perkebunan sawit dan karet mencapai lebih dari 2 juta.

“Artinya jika harga panen ikut terkoreksi akibat kenaikan tarif impor AS, jutaan keluarga petani akan terdampak,” lanjutnya.

Harga rata-rata buah sawit (TBS) tengah mencapai harga tertinggi, yakni Rp 3.600 per kilogram yang disambut antusias kalangan petani. Namun, harga tinggi ini dikhawatirkan bakal segera terkoreksi seiring munculnya penerapan tarif impor AS 32 persen. Petani karet di Desa Jambi Tulo, Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, 21 Februari 2025.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan daftar tarif dasar dan bea masuk baru kepada banyak mitra dagang, pada Rabu waktu setempat. Indonesia terkena tarif timbal balik sebesar 32 persen.

Selama ini, AS merupakan penyumbang surplus perdagangan nonmigas nasional tahun 2024. Angka surplus perdagangan Indonesia-AS sebesar 16,08 miliar dollar AS dari total surplus perdagangan nonmigas 2024, yaitu 31,04 miliar dollar AS. Ekspor nonmigas Indonesia ke AS antara lain garmen, peralatan listrik, alas kaki, dan minyak nabati.

Quote

Harga panen yang sedang bagus-bagusnya ini dikhawatirkan bakal segera terganggu oleh munculnya penerapan tarif impor AS.

Usman menyebut, kenaikan tarif impor tidak akan semata-mata hanya membebani pengusaha. Biasanya, pengusaha akan melimpahkan beban tersebut kepada petani. Caranya, dengan menekan harga panen di kebun.

Dampak lainnya adalah terjadi stagnasi perdagangan ke depan. Jika itu terjadi, dikhawatirkan bakal memukul perekonomian nasional.

Ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia bernegosiasi dengan AS. “Amerika kan butuh bahan baku dari Indonesia. Kalau kita hentikan pengiriman, mereka sendiri yang akan kesulitan. Pemerintah Indonesia harus bisa bernegosiasi,” ujarnya.

Harga rata-rata buah sawit (TBS) tengah mencapai harga tertinggi, yakni Rp 3.600 per kilogram yang disambut antusias kalangan petani. Namun, harga tinggi ini dikhawatirkan bakal segera terkoreksi seiring munculnya penerapan tarif impor AS 32 persen. Petani karet di Desa Jambi Tulo, Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, 21 Februari 2025.

Pada Januari 2025, nilai ekspor Provinsi Jambi ke AS mencapai 170,42 juta dolar AS, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi. Nilai ini turun 21,46 persen dibandingkan pada bulan sebelumnya. 

Beberapa komoditas yang menyebabkan penurunan ekspor tersebut di antaranya karet, migas, dan minyak nabati. Ekspor dari Jambi pada Januari lalu menyasar pada lima negara tujuan ekspor terbesar, yakni Singapura, Jepang, Thailand, AS, dan Malaysia.

Perkembangan Ekspor dan Impor Provinsi Jambi pada Januari 2025.

Kontribusi terbesar terhadap total ekspor di Jambi adalah ekspor kelompok pertambangan yaitu sebesar 58 persen, diikuti kelompok industri sebesar 37,7 persen, dan kelompok pertanian sebesar 3,8 persen.

Agus Sudibyo, Kepala BPS Provinsi Jambi, mengatakan, bila dirinci menurut komoditi, kelompok industri didominasi oleh karet dan olahannya yang memberikan kontribusi mencapai 18,59 persen.

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Irma Tambunan
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari