AS terancam inflasi, kerugian bisnis, dan pemberhentian tenaga kerja. Rantai pasokan global akan berubah.
08 Agt 2025 14:34 WIB · Internasional
Artikel ini telah mendapat pembaruan dengan penambahan sub judul ”Indonesia”.
WASHINGTON DC, JUMAT — Tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi berlaku. Isu inflasi, kerugian bisnis, beserta pemberhentian kerja akibat tarif mengintai perekonomian AS dan negara terdampak. Perdagangan global terpaksa harus beradaptasi.
Tarif Trump mulai berlaku pada Kamis (7/8/2025) waktu setempat atau Jumat (8/8/2025) WIB. Sekitar 100 negara mendapat tarif sebesar 10-50 persen. Indonesia mendapat tarif 19 persen. Adapun barang yang sudah dalam perjalanan ke AS sebelum 7 Agustus 2025 dan tiba sebelum 5 Oktober 2025 tidak akan terkena tarif.
”Tarif mengalir ke AS pada tingkat yang tidak terpikirkan sebelumnya!” tulis Trump di media sosial Truth Social, Kamis.
Pemberlakuan tarif membuat reaksi pasar saham ditutup beragam. Indeks saham S&P 500 ditutup melemah 0,1 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,5 persen, dan Nasdaq Composite menguat 0,3 persen. Di luar negeri, perdagangan awal minim reaksi. DAX Jerman naik 0,9 persen, CAC 40 Perancis naik 0,8 persen, dan Nikkei 225 Jepang naik 0,7 persen.
Tarif Trump bertujuan untuk menghidupkan kembali industri manufaktur dan mengurangi defisit perdagangan AS. Namun, banyak ekonom khawatir tarif dapat memicu inflasi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi domestik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/22/f03e2785-c336-42c2-96e3-457357cc3c97_jpg.jpg)
Budget Lab di Yale, lembaga penelitian kebijakan, mencatat, tarif impor Trump merupakan yang tertinggi sejak tahun 1934. Warga AS diproyeksikan akan membayar produk impor rata-rata 18,3 persen lebih mahal.
Profesor di Georgetown University, Marc Busch, memperkirakan, bisnis AS akan mengalihkan beban tarif kepada konsumen nanti. ”Persediaan menipis dan tidak mungkin perusahaan akan menyerap biaya tanpa batas waktu,” katanya.
Data Departemen Perdagangan AS, pekan lalu, menunjukkan, semakin banyak bukti bahwa tarif mendorong kenaikan harga di AS, termasuk untuk barang rekreasi dan kendaraan bermotor. Perusahaan-perusahaan AS juga mencatat kenaikan biaya operasional, termasuk Caterpillar, Marriott, Molson Coors, dan Yum Brands.
Kegelisahan pun menerpa pebisnis AS. Koalisi Toasts not Tariffs (Bersulang Bukan Tarif) meminta Trump agar minuman keras Uni Eropa bebas dari tarif timbal balik. Menurut koalisi yang terdiri dari 57 asosiasi pekerja bidang minuman beralkohol ini, tarif 15 persen untuk UE dapat membuat lebih dari 25.000 pekerja AS kehilangan pekerjaan. Penjualan juga dapat menelan kerugian hampir 2 miliar dollar AS.
”Rantai pasokan global akan mengalami penataan ulang. Akan ada keseimbangan baru. Harga di AS akan naik, tetapi butuh waktu lama agar dampaknya terlihat secara signifikan,” kata William Reinsch, peneliti senior dan pakar perdagangan di Center for Strategic and International Studies, Washington.
Pada Juli 2025, BBC memberitakan, perusahaan edukasi Learning Resource di AS mempertimbangkan pemindahan pabrik dari China ke India dan Vietnam. Sementara produsen minyak zaitun Oro del Desierto asal Spanyol ingin mengalihkan fokus ke pasar lainnya di 33 negara di luar AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/10/af9a78025ae500ac30db6bacc53d1e62-Airlangga.jpeg)
Meskipun mendapat penetapan tarif sebesar 19 persen, Indonesia disebutkan masih menggunakan tarif dasar, yaitu 10 persen. Pemerintah Indonesia dikabarkan masih menggelar perundingan lanjutan dengan AS.
Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anne Patricia Sutanto menegaskan, kepastian kebijakan tarif resiprokal AS akan memberi arah yang lebih jelas bagi dunia usaha meski tetap diharapkan adanya ruang negosiasi lebih lanjut dari Pemerintah Indonesia.
Para pelaku usaha juga sudah mengantisipasi tarif resiprokal Trump sejak Pemerintah Indonesia dan AS membuat pernyataan bersama beberapa waktu yang lalu.
”Dengan pengumuman ini, ketidakpastian menjadi lebih pasti. Dunia usaha tetap berharap pemerintah menegosiasikan produk-produk yang tidak atau sedikit diproduksi AS,” ujar Anne.
Selama hampir 90 hari terakhir, Apindo bersama pelaku usaha telah menyampaikan berbagai masukan berbasis data dan bukti melalui forum resmi ataupun tertulis kepada pemerintah. Setidaknya ada tiga langkah konkret yang diusulkan Apindo untuk merespons kebijakan tarif tersebut.
Pertama, mendorong skema yang saling menguntungkan melalui peningkatan impor komoditas strategis dari AS, seperti kapas, jagung, produk susu, kedelai, dan minyak mentah. Kedua, memperkuat strategi diversifikasi pasar dengan memperluas ekspor ke pasar nontradisional, sekaligus mengoptimalkan efisiensi dan daya saing di sepanjang rantai pasok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/08/c861aa92c65050145b4cb86839ef5919-20250808RZF02.JPG)
Ketiga, mempercepat penyederhanaan regulasi di dalam negeri guna mendorong kemudahan berusaha, disertai penguatan instrumen trade remedies untuk melindungi industri nasional.
Anne menekankan, kondisi ini seharusnya dimaknai sebagai peluang untuk mempercepat reformasi struktural. ”Percepatan deregulasi lintas kementerian dan lembaga harus dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Fokus utama diberikan pada industri padat karya dan rantai pasoknya yang paling rentan terhadap tekanan tarif dan persaingan global,” ujarnya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengharapkan tarif yang dikenakan Trump bersifat sementara dan dapat diturunkan ke level yang lebih ideal. ”Yang perlu diantisipasi adalah persaingan produk yang sama sesama negara ASEAN mengingat tarifnya yang sama. Pemerintah dan pelaku usaha berkolaborasi untuk melanjutkan kesepakatan dagang yang selama ini sudah terjalin dengan berbagai pelaku usaha di Amerika,” kata Sarman.
Di sisi lain, Sarman melihat peluang dari kebijakan tarif 0 persen untuk produk asal AS. Kebijakan ini dapat dimanfaatkan untuk menjamin pasokan bahan baku, seperti kedelai dan gandum.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/8189c205c7d32dfaa75f3fc193ae37db-FILES_INDIA_US_TRADE_TARIFF_131579241.jpg)
Dari banyak negara, Brasil dan India mendapat tarif tertinggi, yaitu 50 persen. Para pemimpin di kedua negara berjanji tidak akan terintimidasi oleh langkah Trump meski negosiasi terus berlangsung.
Dalam kasus Brasil, Trump secara langsung mengaitkan keputusan tarifnya karena situasi politik Brasil. Dia tidak setuju temannya, mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, tersangkut kasus politik sehingga menjadi tahanan rumah.
Menurut Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), perdagangan barang AS-Brasil mencapai 91,5 miliar dollar AS pada 2024. Washington mencatat surplus perdagangan 6,8 miliar dollar AS. AS juga surplus perdagangan di bidang jasa.
Brasil telah meminta konsultasi di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait tarif Trump. ”Amerika Serikat telah secara terang-terangan melanggar komitmen utama yang telah disepakati negara tersebut di WTO,” kata Kementerian Luar Negeri Brasil dalam sebuah pernyataan.
Untuk India, Trump awalnya memberikan tarif 25 persen. Namun, ia baru-baru ini memberi tarif tambahan 25 persen yang akan berlaku pada 27 Agustus 2025. Trump kesal karena India tetap membeli minyak dari Rusia yang terus menyerang Ukraina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/08/0edf309d-a477-49a8-9f10-5f6f81e14667_jpg.jpg)
Perdagangan barang AS-India sebesar 128,9 miliar dollar AS pada 2024. Washington mencatat defisit perdagangan 45,8 miliar dollar AS. Konsumen dan bisnis AS membeli obat-obatan farmasi, batu mulia, tekstil, dan pakaian jadi dari India.
Sebuah badan eksportir terkemuka India mengatakan, tarif terbaru AS akan berdampak pada hampir 55 persen ekspor India ke AS. Eksportir India terancam kehilangan pelanggan. ”Menyerap eskalasi biaya yang tiba-tiba ini sama sekali tidak layak. Margin keuntungan sudah tipis," ujar SC Ralhan, Presiden Federasi Organisasi Ekspor India.
AS juga terus bernegosiasi dengan negara-negara lain tentang tarif, seperti Swiss, China, dan Afrika Selatan. Sejauh ini, Washington sudah mencapai kesepakatan dengan delapan mitra dagang, antara lain Inggris, Indonesia, Filipina, Jepang, dan Uni Eropa. Namun, walau kesepakatan telah tercapai, pertanyaan tentang detail kesepakatan tetap tersisa.
Jepang dan AS tampaknya sedang berselisih mengenai ketentuan perjanjian mereka. Kedua negara sepakat atas tarif 15 persen. Masalahnya, Gedung Putih belum mengumumkan kapan akan menurunkan bea impor otomotif yang sekarang sebesar 25 persen. Tokyo jadi gelisah.
Meskipun ada potensi ketidakpastian, Gedung Putih tetap percaya diri dengan kebijakan tarif itu. Pemerintahan Trump yakin tarif akan memacu pertumbuhan industri manufaktur AS beserta pemasukan negara.
”Miliaran dollar AS, sebagian besar berasal dari negara-negara yang telah mengambil keuntungan dari Amerika Serikat selama bertahun-tahun, akan mulai mengalir ke AS,” kata Trump di media sosial sebelum batas waktu tarif berlaku.
Lutnick memperkirakan, tarif impor Trump dapat menghasilkan pendapatan bulanan negara sebesar 50 miliar dollar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/a9ae659a-dacb-4022-8271-bcc60aaf3aa9_jpg.jpg)
Negosiator perdagangan utama Trump, Jamieson Greer, mengatakan, AS sedang berupaya membalikkan kebijakan yang telah melemahkan kapasitas manufaktur dan tenaga kerja AS selama puluhan tahun. Negara lain juga memiliki kekhawatiran yang sama tentang ketidakseimbangan makroekonomi.
”Aturan perdagangan internasional tidak bisa menjadi pakta bunuh diri. Dengan mengenakan tarif untuk menyeimbangkan kembali defisit perdagangan dan menegosiasikan reformasi signifikan yang membentuk dasar sistem internasional baru, AS telah menunjukkan kepemimpinan yang berani,” kata Greer dalam sebuah kolom di The New York Times.
Untuk sementara, Trump mengecualikan tarif farmasi dan semikonduktor. Namun, pada Rabu (6/8/2025) ia berencana mengenakan ”tarif sekitar 100 persen” pada impor semikonduktor. Perusahaan yang berkomitmen investasi atau berinvestasi di negaranya tidak akan terkena tarif.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria Leba, Aguido AdriEditor:
Fransisca Romana Ninik W, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra