Industri padat karya yang memproduksi 10 komoditas ekspor ke Amerika Serikat terancam efek domino akibat tarif bea masuk hingga 32 persen.
06 Apr 2025 16:31 WIB · Nusantara
BANDUNG, KOMPAS — Presiden Donald Trump menetapkan tarif bea masuk produk Indonesia ke Amerika Serikat sebesar 32 persen. Kebijakan ini dinilai akan berdampak besar bagi usaha 10 komoditas utama dari Jawa Barat yang selama ini diekspor ke Amerika Serikat.
Dari data Badan Pusat Statistik hingga Januari 2025, negara tujuan ekspor yang terbesar dari Jawa Barat adalah Amerika Serikat (AS). Nilai ekspor sebesar 499,53 juta dollar AS atau setara Rp 8,2 triliun dengan nilai kurs saat ini.
Terdapat 10 komoditas ekspor terbesar dari Jabar dari ke AS, antara lain, barang rajutan dan aksesori pakaian, alas kaki, karet, pakaian jadi, mesin dan perlengkapan elektrik, serta mesin dan peralatan mekanis.
”Komoditas lainnya, perabot rumah, mainan, barang-barang dari kulit serta kendaraan dan bagiannya,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Nining Yuliastiani, Minggu (6/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/14c3cf93033ea1b51e8166442189dbfc-IMG_20250228_192326.jpg)
Nining mengatakan, kebijakan tarif Trump dapat menyebabkan harga barang ekspor menjadi lebih mahal di AS sehingga berpotensi mengurangi daya saing. Akibatnya, permintaan terhadap produk Indonesia di AS bisa menurun, terutama pada sektor tekstil, alas kaki, dan otomotif.
Ia pun menilai, Jabar sebagai provinsi yang mempunyai potensi ekspor di sektor tekstil, alas kaki, dan otomotif serta industri manufaktur lainnya akan terdampak cukup besar.
”Kebijakan ini juga berdampak Indonesia akan dibanjiri produk impor karena menjadi target negara pesaing yang terkena tarif masuk lebih tinggi ke pasar AS,” tuturnya.
Menurut Nining, kebijakan tarif Trump juga harus ditangkap sebagai suatu peluang. Sebab, kenaikan tarif yang dipasang AS untuk Indonesia lebih rendah dari sejumlah negara lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/02/10/7424e3e8-78b3-4089-9d02-4be13668128f.jpg)
Ia berpendapat, seharusnya produk Indonesia memiliki daya saing lebih tinggi di pasar AS. ”Tarif bea masuk produk kita lebih rendah dari China sebesar 34 persen, Thailand sebesar 36 persen, Vietnam 46 persen, dan Kamboja 49 persen,” paparnya.
Kebijakan ini juga berdampak Indonesia akan dibanjiri produk impor karena menjadi target negara pesaing yang terkena tarif masuk lebih tinggi ke pasar AS.
Nining menyatakan, Pemprov Jabar mendukung pemerintah pusat bernegosiasi dengan AS untuk mendapat akses dan skema perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Ia menambahkan, sejumlah kebijakan yang ditempuh Pemprov Jabar setelah kebijakan tarif Trump, antara lain, penyederhanaan regulasi agar produk lebih kompetitif di pasar global dan mendorong 360 perusahaan eksportir yang terdampak kebijakan AS melakukan diversifikasi tujuan pasar ekspor baru.
Upaya lainnya, mendorong eksportir memperluas mitra dagang ekspor dan meningkatkan efisiensi produksi tanpa melakukan pemangkasan tenaga kerja industri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/b6dcbb64-a870-4973-9914-1e5ba1f3a84e.jpg)
”Upaya lainnya mendorong eksportir dari Jabar untuk bernegosiasi dengan calon pembeli di AS untuk berbagi beban tarif atau penyesuaian harga,” tambahnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat Ning Wahyu Astutik akan memberikan tekanan serius bagi industri di Jawa Barat, yang dikenal sebagai pusat industri padat karya dan ekspor nasional.
Ning mengungkapkan, industri yang bergantung pada pasar AS akan terpaksa mengurangi produksi. Efek lanjutannya adalah pengurangan jam kerja dan bahkan pemutusan hubungan kerja, khususnya di sektor garmen, sepatu, dan mebel yang banyak beroperasi di wilayah Bandung, Cimahi, dan Bekasi.
Ia berharap Pemerintah Indonesia menempuh upaya negosiasi ulang perjanjian dagang dengan AS dan melindungi industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan pasar ekspor.
”Kami meminta pemerintah pusat dan daerah segera hadir dengan kebijakan stimulus, fasilitasi akses pasar alternatif, dan dukungan peningkatan nilai tambah produk lokal,” ucapnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul