Tarif Trump Picu ”Black Monday” Bursa Global

Musim dingin ekonomi akibat perang nuklir ekonomi yang dipicu tarif Trump mendekat. Masih ada waktu memperbaiki sebelum kesuraman melanda.

07 Apr 2025 18:20 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

TOKYO, SENIN-Bursa saham global longsor sepanjang Senin (7/4/2025). Konglomerat menyebut dunia terancam musim dingin akibat ”perang nuklir” ekonomi yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Indeks Nikkei-225 di Bursa Tokyo, Jepang ditutup turun 7,83 persen. Indeks itu terus terpangkas sejak pengumuman Trump soal bea masuk impor (BMI) pada 2 April 2025 waktu Washington DC atau 3 April pagi waktu Tokyo.

Dari 35.695 poin di perdagangan Selasa, Nikkei-225 langsung terkoreksi ke 34.740 poin pada Rabu pekan lalu. Koreksi terus berlangsung sampai awal pekan ini.

"Saham anjlok karena kebijakan tarif tak masuk akal dari pemerintahan AS di bawah Donald Trump. Keriuhan di pasar tidak akan reda sampai kebijakan direvisi," kata ekonom kepala pada Sony Financial Group, Hiroshi Watanabe, sebagaimana dikutip Kyodonews.

Indeks yang terjun bebas itu memaksa manajemen bursa Tokyo menghentikan perdagangan beberapa waktu pada Senin. Manajemen bursa berusaha mengendalikan kepanikan para investor yang berlomba melepas saham di tengah kekhawatiran pada prospek suram kinerja perekonomian.

Pemangkasan hari ini mengingatkan pada koreksi parah dalam perdagangan Selasa, 20 Oktober 1987. Kala itu, bursa Tokyo terimbas fenomena global yang disebut "Black Monday". Istilah itu untuk menyebut bursa global rontok di awal pekan. Kini, bursa global juga rontok di awal pekan.

Analis pada Nomura Securities, Maki Sawada, menyebut bahwa yang terburuk belum datang. "Belum ada langkah tanggapan atas risiko pemburukan ekonomi global dan pendapatan perusahaan," ujarnya.

Di Korea Selatan, indeks Kospi terkoreksi 5,57 persen ke 2.328 poin. Penurunan tajam memaksa manajemen bursa Seoul menghentikan perdagangan sementara waktu.

Investor asing melepas saham senilai 2,09 triliun won. "Gejolak di bursa saham Korea didorong kebijakan tarif pemerintahan Trump yang di luar dugaan," kata analis pada Shinhan Securities, Park Seok-joong, sebagaimana dikutip Yonhap.

Di Australia, investor melepas saham setara 97 miliar dollar Australia. Indeks ASX 200 terkoreksi 4,2 persen ke 7.343 poin.

Penurunan itu salah satu yang terburuk sejak Mei 2020. Kala itu, di tengah pandemi Covid-19, investor melepas saham senilai 96,6 miliar dollar Australia. "Banyak yang tidak mengerti mengapa Trump tidak sadar pembantaian yang diciptakannya di Wall Street (bursa saham AS)," kata analis Bell Potter, Richard Coppleson, kepada The Australian Financial Review.

Berbagai bursa di beragam negara Asia dan Eropa juga anjlok. Pemangkasan indeks telah terjadi sejak Trump mengumumkan soal BMI pada Selasa lalu.

Seorang trader bekerja di lantai Bursa Efek New York, Amerika Serikat, Jumat (4/4/2025). Saham-saham Wall Street kembali mengalami aksi jual yang parah pada tanggal 4 April 2025 karena indeks-indeks utama merosot lebih dari lima persen menyusul kebijakan tarif agresif Presiden AS Donald Trump.

Protes konglomerat

Dalam pernyataan pada Minggu, Trump berkeras kebijakan tepat dan tidak mau mengubahnya. Ia menyebut, perekonomian AS sedang sakit dan berupaya disembuhkan. BMI salah satu caranya memperbaiki itu.

Sejak pengumuman Trump, indeks berbagai bursa AS merosot. Para investor kehilangan aset karena harga saham anjlok.

Sikap Trump itu memicu protes sejumlah pihak. Setidaknya dua konglomerat pendukung Trump, Elon Musk dan Bill Ackman, telah menyatakan ketidaksetujuan pada penerapan BMI massal.

Menurut Musk, Uni Eropa seharusnya tidak dikenai BMI satu persen pun. Sementara Ackman menyebut, kebijakan itu bisa menggerus kepercayaan.

Ackman tidak menyangkal bahwa banyak negara memanfaatkan AS dengan menikmati surplus neraca perdagangan. Walakin, penerapan BMI massal kepada sekutu serta mitra dan karenanya memicu perang ekonomi global sama saja dengan menghancurkan kepercayaan pada AS sebagai mitra dagang dan tempat investasi.

Trump, kata Ackman, telah melancarkan ”perang nuklir” ekonomi global. Dampaknya, investasi berhenti, konsumen berhenti belanja, dan kepercayaan pasar ke AS hancur lebur. "Akan butuh bertahun-tahun untuk memulihkannya," kata dia.

Infografik Tarif Perdagangan Baru Trump terhadap Negara Mitra

Para manajer dan pengambil keputusan di perusahana tak akan berani membuat keputusan bisnis. Dalam kondisi suram itu, perusahaan akan membatasi investasi dan memecat pekerja.

Ia mendesak Trump segera bertindak. Trump masih punya waktu sebelum BMI massal dengan tarif lebih tinggi berlaku pada 9 April 2025. Jika tidak, perekonomian dunia akan masuk musim dingin ”perang nuklir” ekonomi. (AFP/REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase