Indonesia kekurangan tenaga ahli, tetapi tujuan sebagian penerima beasiswa LPDP kurang terarah sehingga potensi mencetak SDM unggul belum terwujud.
18 Mar 2025 10:15 WIB · Opini
Saya ingin menyampaikan beberapa masukan terkait pelaksanaan program beasiswa LPDP. Masukan ini didasarkan pada kekhawatiran bahwa arah dan tujuan sebagian penerima beasiswa masih kurang terarah sehingga potensi besar LPDP mencetak SDM unggul untuk Indonesia belum sepenuhnya terealisasi.
Indonesia menghadapi potensi kekurangan tenaga ahli yang serius. Menteri Ketenagakerjaan periode 2014-2019 Hanif Dhakiri pernah menyatakan bahwa pada 2030 Indonesia dapat kekurangan hingga 56 juta tenaga ahli dan setiap tahunnya Indonesia kekurangan sekitar 3,8 juta tenaga terampil (Bisnis.com, 11/11/2018). Situasi ini perlu ditangani secara serius melalui kebijakan dan program pendidikan yang tepat, salah satunya melalui beasiswa LPDP yang terarah.
Pernyataan mantan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro (CNN, 5/11/2024) bahwa penerima beasiswa LPDP tidak perlu pulang ke Indonesia karena ”kasihan ilmunya tinggi, tetapi tidak ada wadahnya” (Kompas.com, 6/11/2024) tampak bertolak belakang dengan kebutuhan nyata Indonesia akan tenaga ahli di dalam negeri. Justru, fakta kekurangan SDM spesialis ini menegaskan bahwa wadah berkontribusi seharusnya tersedia dan perlu diperkuat.
LPDP, sebagai pengelola dana pendidikan negara, diharapkan memiliki visi dan kerangka kebijakan yang jelas untuk membantu menyiapkan SDM unggul, sekaligus menjawab kebutuhan tenaga terampil di berbagai sektor. Apabila penerima beasiswa tidak didorong untuk kembali dan mengisi kekosongan tenaga ahli, tujuan utama meningkatkan daya saing bangsa menjadi sulit tercapai.
Saya mengusulkan agar setiap program beasiswa LPDP dirancang secara targeted, yaitu jelas arah dan tujuannya. Dengan demikian, penerima beasiswa sejak awal memiliki peta jalan yang konkret: setelah lulus, mereka akan mengabdi atau berkontribusi di bidang tertentu, baik di instansi pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat (NGO), maupun menjadi wirausahawan. Pendekatan ini membantu menghindari rencana kontribusi yang hanya berlandaskan angan-angan—menunggu menjadi sesuatu terlebih dahulu baru ingin berkontribusi.
Johan Gultom
Banjar Aur Utara, Sinunukan, Mandailing Natal
…
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/17/bda13fc1232a490fd038869a2702ff89-cropped_image.jpg)
Penulis:
Johan GultomEditor:
Johanes Waskita Utama, Yohanes Krisnawan