TAJUK RENCANA

Tata Kelola Kita Bermasalah

Kita tidak ingin semua ini berlarut-larut. Kita perlu melakukan perbaikan dari berbagai sisi.

09 Feb 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Redaksi

(FILES) This illustration photograph shows screens displaying the logo of the rating agency Moody's Analytics and signs of the ratings used by rating agencies, in Toulouse on March 18, 2025. France's credit rating update issued by US business and financial services company Moody's is expected on October 24, 2025. (Photo by Lionel BONAVENTURE / AFP)

Peringatan dari berbagai lembaga internasional yang berhubungan dengan investasi menunjukkan tata kelola kita bermasalah. Sebaiknya sejumlah masalah segera diperbaiki.

Moody’s Investors Service menurunkan prospek peringkat kredit 19 perusahaan di Indonesia, dari stabil ke negatif. Ini merupakan konsekuensi dari langkah Moody’s sebelumnya yang juga menurunkan prospek peringkat kredit Pemerintah Indonesia ke negatif. Keputusan ini menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap kestabilan kebijakan pemerintah yang bisa berdampak pada kemampuan perusahaan mendapatkan pendanaan dengan biaya rendah (Kompas.id, 8/2/2026).

S&P juga telah menyatakan, pelemahan kondisi fiskal lebih lanjut akan memberikan tekanan penurunan terhadap peringkat kredit negara Indonesia. Terakhir kali S&P mengumumkan peringkat kredit Indonesia pada Juli 2025, yakni di level BBB dengan prospek stabil. Beberapa pekan lalu Morgan Stanley Capital International telah membekukan penilaian ulang saham Indonesia, termasuk kebijakan terkait dengan penilaian free float.

Tidak mungkin semua lembaga itu memberikan peringatan yang mirip terhadap Indonesia jika tidak ada masalah besar. Mereka memang masih memberikan peringatan. Oleh karena itu, bahasanya sangat halus dan tak berkesan menunjuk langsung kesalahan kita. Akan tetapi, pada saat yang sama kita bisa dengan mudah melihat masalah yang diangkat oleh lembaga-lembaga internasional itu.

Dari keseluruhan pandangan lembaga internasional, kita menemukan benang merah masalah utama, yaitu tata kelola. Dalam bahasa sehari-hari bisa diterjemahkan, ada tata cara atau aturan yang sudah disusun dan disepakati bersama, tetapi mereka melihat semua itu ada yang didiamkan, tidak dijalankan, dan bahkan ditabrak. Sudah barang tentu investor cemas dan khawatir terhadap perkembangan itu. Kecemasan bertambah ketika sejumlah indikator ekonomi tidak meyakinkan mereka.

Konferensi Otoritas Jasa Keuangan yang dipimpin Mahendra Siregar bersama Self Regulatory Organization Pasar Modal menanggapi isu MSCI dan volatilitas pasar di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Perbaikan

Kita tidak ingin semua ini berlarut-larut. Bila saja tanpa perbaikan, lembaga internasional itu akan berlanjut dengan memberikan penilaian pada pengelolaan ekonomi oleh pemerintah melalui berbagai indikator, menurunkan peringkat utang, dan juga langkah reklasifikasi Indonesia dari peringkat emerging market ke frontier market yang berarti kembali ke kondisi masa lalu. Jika ini terjadi, kita tak beda dengan Rusia, Argentina, dan Pakistan.

Kita perlu melakukan perbaikan dari berbagai sisi. Kepercayaan pasar harus dipulihkan dengan memastikan bahwa berbagai langkah yang tidak tepat tidak terjadi lagi di pasar modal. Apa pun, pasar modal adalah indikator perilaku investor di pasar.

Pengelolaan fiskal juga harus dijalankan dengan hati-hati, mulai dengan menaikkan pendapatan melalui cara-cara yang ramah pembayar pajak, pengeluaran yang memberi dampak pada investasi alias bukan dihambur-hamburkan untuk tujuan populis, serta pengelolaan utang yang meyakinkan untuk tujuan produktif.

Kunci semua ini adalah kita perlu mengembalikan tata kelola yang benar di dalam semua aspek pengelolaan ekonomi dan bisnis. Kepercayaan investor bisa merosot kalau tidak ada perbaikan. Kita berharap segera dilakukan perbaikan sehingga kecemasan gejolak ekonomi ke depan bisa teratasi. Kita tidak bisa lagi membiarkan tata kelola dilanggar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Marcellus Hernowo, Andreas Maryoto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji