Pengganti Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran masih menjadi teka-teki. Salah satu nama yang menguat adalah Mojtaba Khamenei, putra kedua Khamenei.
02 Mar 2026 12:47 WIB · Internasional
AFP/ATTA KENARE
Iran telah membentuk Dewan Kepemimpinan Sementara pascagugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dewan ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan ulama senior dari Dewan Penjaga Konstitusi, Alireza Arafi. Namun, pengganti Khamenei masih menjadi teka-teki.
Sejumlah nama pun bermunculan, mulai dari garis keturunan Khamenei, tokoh keagamaan, komandan militer, hingga orang kepercayaan Khamenei. Semuanya belum pasti hingga Majelis Pakar memilih pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Yang jelas, Iran ingin melakukannya secepat mungkin di tengah perang melawan Amerika Serikat dan Israel.
”Menurut hukum, seorang pemimpin harus ditentukan secepat mungkin. Mengingat kondisi perang yang sedang terjadi, ini akan terjadi pada kesempatan paling awal,” ujar seorang juru bicara Dewan Penjaga Konstitusi Iran, Minggu (1/3/2026).
Hingga terpilihnya pemimpin tertinggi yang baru, kepemimpinan Iran akan dikendalikan oleh Dewan Kepemimpinan Sementara. Dewan transisi ini bekerja secara kolektif untuk menjalankan peran dan tugas pemimpin tertinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/01/d805c6f5-aacf-4de6-a5cc-51ebe3d133bf.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/01/857c3181-5d98-4679-83bd-48c494297076.jpg)
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, pemimpin tertinggi yang baru mungkin sudah terlihat pada 1-2 hari ke depan. Ia menyebutkan, sistem pemerintahan Iran disiapkan untuk menangani krisis kepemimpinan dan tidak bergantung pada individu.
”Kapan pun dibutuhkan, mereka (Majelis Pakar) akan memilih pemimpin tertinggi baru untuk negara ini. Persis seperti yang terjadi setelah wafatnya almarhum Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dalam waktu kurang dari 24 jam, majelis memilih pemimpin baru,” ucapnya.
Khomeini mendirikan Republik Islam Iran lewat revolusi pada 1979. Revolusi ini menggulingkan kepemimpinan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi. Khomeini kemudian memimpin Iran hingga akhir hayatnya pada 1989.
Setelah Khomeini wafat, Khamenei ditunjuk oleh Majelis Pakar sebagai penggantinya. Sejak saat itu, Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Khamenei terbunuh dalam serangan gabungan AS dan Israel, Sabtu (28/2/2026). Kediamannya di Teheran, ibu kota Iran, dihujani puluhan bom. Serangan itu juga menewaskan sejumlah tokoh penting, yakni Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammed Pakpour dan Menteri Pertahanan Iran Ali Shamkhani.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/02/38bb59da-6135-46aa-ba71-6cd2850032ab.jpg)
AS dan Israel menyatakan masih akan melancarkan serangan lanjutan. Sementara Iran membalasnya dengan menyerang Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Di tengah kondisi perang saat ini, Iran membutuhkan pemimpin tertinggi sekaligus untuk menentukan arah negara itu ke depan.
Pemimpin tertinggi adalah posisi puncak dalam hierarki politik dan agama Republik Islam Iran di bawah sistem vilayat-e faqih, prinsip perwalian ahli hukum Islam. Posisi ini merupakan panglima tertinggi angkatan bersenjata dan penentu keputusan akhir di negara itu. Ia berwenang menunjuk pejabat-pejabat penting di bidang peradilan, militer, dan media.
Pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Majelis Pakar. Majelis ini beranggotakan 88 orang yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun. Ketika posisi pemimpin tertinggi kosong, karena kematian atau pengunduran diri, majelis akan berkumpul untuk memilih penggantinya.
Sejumlah nama mencuat dalam suksesi kepemimpinan Iran. Dari keturunan Khamenei terdapat nama Mojtaba Khamenei, putra keduanya. Sementara dari keturunan Khomeini ada cucunya, Hassan Khomeini. Namun, kepemimpinan lewat garis keturunan direspons kurang baik di Iran, terutama setelah monarki Pahlavi yang didukung AS dilengserkan pada 1979.
Di tengah perang yang masih berkecamuk, dunia menantikan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Sosok tersebut tidak hanya menentukan arah negara itu ke depan, tetapi juga turut memengaruhi kondisi kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Al Jazeera, Mojtaba Khamenei termasuk di antara kandidat utama untuk menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Ia dikenal memiliki pengaruh yang signifikan di antara para administrator dan IRGC yang dikenal sebagai loyalis utama.
Mojtaba bertugas di angkatan bersenjata selama perang Iran-Irak dan disebut memiliki pengaruh di balik layar sebagai penjaga kekuasaan ayahnya. Ia secara luas dikenal sebagai anak Khamenei yang paling berpengaruh.
Kedekatan dengan IRGC menjadi modal penting untuk menjadi penerus ayahnya mengingat IRGC merupakan organisasi militer paling kuat di Iran. Tidak seperti militer biasa yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Iran, IRGC bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran.
Hassan Khomeini juga termasuk nama yang banyak dibicarakan di tengah suksesi kepemimpinan Iran. Hassan dikenal karena pandangannya yang cukup moderat tentang kehidupan dan kebijakan publik. Ia belum pernah memegang jabatan publik. Ia pernah mencoba mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Pakar pada 2016, tetapi dewan penyeleksi mendiskualifikasinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/696d909363ed5137194dc7ec4b65299d-20260301_OPINI_Pasca_Khamenei_Stabilitas_Iran_dan_Arah_Baru_Politik_Global.jpg)
Dari kalangan tokoh agama ada sejumlah nama, seperti Alireza Arafi, Mohammad Mehdi Mirbagheri, dan Gholam-Hossein Mohseni-Ejei. Arafi merupakan tokoh berpengaruh dalam lembaga keagamaan Iran. Ia menjabat Wakil Ketua Majelis sekaligus Imam Shalat Jumat di Qom, pusat keagamaan terpenting di Iran.
Sementara Mirbagheri adalah tokoh ulama garis keras di pemerintahan dan anggota Majelis Pakar. Ia dikenal luas karena pandangan yang kritis terhadap Barat. Saat ini, ia memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di kota Qom. Adapun Mohseni-Ejei merupakan ulama senior Iran yang pada 2021 diangkat oleh Khamenei untuk memimpin lembaga peradilan.
Nama lainnya yang beredar adalah Kamal Kharazi, salah satu orang kepercayaan Khamenei yang menjadi penasihatnya untuk kebijakan luar negeri. Ia memberikan banyak masukan selama perundingan nuklir baru-baru ini dengan AS. Mantan diplomat tersebut sebelumnya mewakili Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia telah memegang berbagai jabatan pemerintahan, diplomatik, dan akademisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/12/25/IRAN-MILITARY-DRILLS_100918528_1640412728.jpg)
Dari tokoh militer ada nama Ali Larijani, pensiunan perwira IRGC yang saat ini menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia juga pernah menjadi Ketua DPR Iran.
Di tengah perang yang masih berkecamuk, dunia menantikan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Sosok tersebut tidak hanya menentukan arah negara itu ke depan, tetapi juga turut memengaruhi kondisi kawasan Timur Tengah.
Khamenei dikenal memiliki permusuhan yang mendalam terhadap Israel dan Amerika Serikat. Iran membangun proksi di Timur Tengah, seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Kelompok-kelompok itu berulang kali menyerang kepentingan Israel.
Dilansir dari The New York Times, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House yang berbasis di London, Sanam Vakil, mengatakan, sepeninggalan Khamenei dan kehancuran hebat akibat serangan gabungan AS-Israel, pengaruh regional Iran akan melemah. Menurut dia, hal itu membuat kondisi Timur Tengah tidak akan lagi sama seperti sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
”Rezim tersebut mungkin akan dibubarkan dan sesuatu yang baru dan berbeda mungkin akan muncul. Kepemimpinan tersebut mungkin akan lebih tidak ramah terhadap Washington, terutama jika didominasi oleh IRGC,” ujarnya.
Sementara Direktur Program Kebijakan Luar Negeri Brookings Institution Suzanne Maloney menyebutkan, transisi kepemimpinan telah menjadi sumber ketidakpastian bagi Iran. Menurut dia, perubahan kepemimpinan di Iran dapat mengambil tiga jalur utama, yaitu keberlanjutan rezim, pengambilalihan oleh militer, atau keruntuhan rezim.
Akan tetapi, terlepas dari kecaman internal dan internasional, pemerintahan Iran saat ini tetap sangat kuat. Apalagi didukung oleh lembaga-lembaga yang telah menangani gangguan hebat dan berbagai protes, meskipun menggunakan kekerasan massal untuk tetap berkuasa.
”Oleh karena itu, perubahan apa pun di puncak kepemimpinan Iran tetap tidak cukup untuk menggulingkan sistem saat ini. Seiring waktu, gerakan politik yang mampu menantang rezim mungkin akan muncul, tetapi transisi kepemimpinan yang akan datang di Iran kemungkinan besar tidak akan menghasilkan perubahan yang fundamental,” tutur Maloney.
(AFP/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul