Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke China akan diikuti dengan kerja sama ekonomi bernilai investasi lebih dari 10 miliar dollar AS.
09 Nov 2024 13:30 WIB · Politik & Hukum
BEIJING, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto diterima oleh Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Kongres Rakyat Nasional China atau NPC Zhao Leji di Aula Besar Rakyat atau Great Hall of The People, Beijing, China, Sabtu (9/11/2024) waktu setempat. Dalam dua pertemuan terpisah itu, Prabowo menyampaikan keinginan untuk mendiskusikan formula baru dalam kerja sama kedua negara. Rumusan baru itu dinilai akan menjadi penentu nasib Indonesia di tengah dinamika situasi internasional.
Presiden Prabowo beserta rombongan anggota Kabinet Merah Putih tiba di Aula Besar Rakyat, Beijing, pada Sabtu pukul 10.00 waktu setempat. Saat memasuki gedung yang biasa digunakan Pemerintah China untuk menerima tamu negara itu, Presiden Prabowo dan rombongan langsung menuju ke ruang pertemuan dengan Ketua NPC Zhao Leji yang berada di lantai dua. Setelah pertemuan selama satu jam, Presiden Prabowo berpindah ke ruangan yang terletak di lantai satu untuk menemui PM Li Qiang.
Baik kepada Zhao Leji maupun Li Qiang, Prabowo menekankan bahwa ini merupakan kunjungan kenegaraan pertamanya setelah dilantik sebagai presiden. Bagi Indonesia, China merupakan negara sahabat sekaligus mitra penting, bukan hanya saat ini melainkan juga di masa depan.
Saya kira ini merupakan pesan bahwa saya berkomitmen untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dan China.
Selain itu, ia berterima kasih atas sikap persahabatan yang ditunjukkan oleh China. Tidak hanya karena diterima, tetapi China juga menugaskan Wakil Presiden Han Zheng sebagai utusan khusus pemerintah untuk menghadiri pelantikannya pada 20 Oktober 2024. Bahkan, sebelum Prabowo dilantik, Presiden Xi Jinping pun telah mengundangnya untuk datang ke China.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/09/73800450-de33-4e18-b067-47764f9a0e0b_jpeg.jpg)
”Kunjungan ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama saya ke luar Indonesia, dalam waktu kurang dari satu bulan setelah pelantikan. Saya kira ini merupakan pesan bahwa saya berkomitmen untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dan China,” tutur Prabowo.
Selain menemui pimpinan eksekutif dan legislatif, kata Prabowo, dirinya juga akan menemui Presiden Xi Jinping pada hari yang sama. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo ingin mendiskusikan soal rumusan kerja sama Indonesia-China yang akan dibangun ke depan.
”Saya juga akan melakukan diskusi dengan Presiden Xi Jinping untuk menemukan formula bagaimana meningkatkan kerja sama kedua negara di masa depan,” tuturnya.
Sebab, kata Prabowo, Indonesia memiliki banyak hubungan kerja sama dengan China. Dalam bidang ekonomi, misalnya, perusahaan-perusahaan China berinvestasi besar ke Indonesia. Hal itu pun bakal ditindaklanjuti dengan sejumlah langkah praktis.
”Besok siang (Minggu, 10/11/2024), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) kami akan mengadakan acara di mana akan ada kontrak antara perusahaan China dan Indonesia yang jumlah (investasinya) lebih dari 10 miliar dollar AS,” ungkap Prabowo.
Tak hanya itu, Prabowo mengapresiasi perkembangan pesat China dalam 30 tahun terakhir. Dari pengalaman itu, Prabowo ingin mempelajari bagaimana China mampu memberantas kemiskinan dan mengakselerasi pendidikan. ”Kami ingin mengirim lebih banyak mahasiswa kami untuk belajar di perguruan tinggi China,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Li Qiang juga mengapresiasi langkah politik luar negeri Prabowo yang menjadikan China sebagai negara pertama yang dikunjungi setelah menjadi presiden. Menurut dia, hubungan kedua negara terus meningkat dan telah memasuki tahapan baru dan lebih tinggi dalam membangun komunitas yang memiliki masa depan bersama. ”Tidak peduli bagaimana perubahan situasi internasional, China bersedia untuk selalu menjadi tetangga dan mitra yang baik bagi Indonesia,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Li, Presiden Xi Jinping bakal menemui Prabowo untuk menyusun cetak biru baru pengembangan hubungan China-Indonesia. China bersedia untuk meneruskan persahabatan, hubungan politik, dan memperluas kerja sama praktis dalam berbagai bidang.
”(Pengembangan kerja sama itu) Dapat memberikan dukungan yang kuat bagi kedua negara untuk bekerja sama menemukan dan mengambil jalan yang baik menuju modernisasi dan mempromosikan kontribusi kawasan dan dunia terhadap pembangunan dan kesejahteraan,” ujar Li.
Dihubungi terpisah, Associate Professor di Institut Studi Internasional Fudan University, Xue Song, mengatakan, kunjungan dan pertemuan Prabowo dengan Xi Jinping menunjukkan tingkat kepercayaan politik yang tinggi di antara kedua negara.
Hal tersebut diharapkan bisa membuka babak baru kerja sama antara Indonesia dan China. Apalagi, hubungan kedua negara baru dinormalisasi setelah periode 1990-an sehingga perkembangan hubungan bilateral pun baru berlangsung selama tiga dekade terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/09/8a8cad8e-8846-47f3-9adc-72268f4298de_jpeg.jpeg)
Dalam konteks tersebut, kata Xue, dinamika situasi internasional jelas akan berpengaruh terhadap relasi Indonesia dengan China dan tatanan kawasan. Salah satunya kemenangan Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat.
”Dalam kampanye kali ini, Trump telah menyatakan rencananya untuk melanjutkan penerapan tarif tambahan terhadap produk-produk China, yang akan berdampak besar pada kerja sama ekonomi dan perdagangan antara China dan Indonesia,” ujar Xue.
Menurut dia, untuk merespons itu, perusahaan-perusahaan China akan berupaya mengurangi risiko dengan cara mempercepat pembangunan rantai pasok dan industri di Indonesia. Hal itu dapat meningkatkan investasi langsung ke Indonesia.
Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa AS akan menerapkan sanksi sekunder terhadap negara-negara Asia Tenggara yang memiliki hubungan perdagangan dengan China.
”Bagaimana Indonesia merumuskan kebijakan serta bagaimana hubungan China-Indonesia berkembang akan menjadi ujian bagi kapasitas kepemimpinan dan kebijaksanaan Presiden Prabowo,” tutur Xue.
Penulis:
Kurnia Yunita Rahayu dari Beijing, ChinaEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan