Republik tidak lahir dari senyum. Ia lahir dari ketegasan bahwa suara boleh muncul tanpa diancam.
23 Mar 2025 19:00 WIB · Opini
Kepala adalah bagian tubuh yang jarang berjalan sendirian. Ketika ia hadir tanpa tubuh, kita tidak segera menyebutnya daging. Kita menyebutnya potongan. Dan potongan, sejak lama, punya tempat khusus dalam sejarah kekerasan: ia tidak dimaksudkan untuk dimakan, tetapi untuk diperlihatkan.
Seperti artefak yang tak membutuhkan penjelasan, sebuah kepala yang tergeletak membawa bahasa yang tidak disusun dari huruf. Ia hadir tanpa diketik, tanpa dicetak, tanpa dilisankan. Namun, ia berbicara. Barangkali, karena itu ia dikirim. Tidak untuk menegur, bukan untuk mengingatkan, melainkan untuk membungkam lewat cara yang tidak memerlukan suara.
Tubuh tanpa kepala, kita tahu, adalah tubuh yang kehilangan pusat. Akan tetapi, kepala tanpa tubuh, dalam banyak hal, adalah pesan yang diputus dari konteksnya. Ia dilepaskan dari kehidupan, dikeluarkan dari fungsi asalnya, dan dibiarkan menjadi benda. Namun, benda itu, dalam kondisi tertentu, lebih fasih daripada manusia.
Kita tidak sedang berbicara tentang hewan. Tidak tentang taktik. Akan tetapi, tentang bahasa. Bahasa yang ditarik sampai ke titik paling purba: bentuk yang hanya bisa dikenali lewat rasa takut.
Ketika sebuah kepala dikirim ke sebuah ruang, yang ditarget bukan orang di dalamnya. Yang ditarget adalah keberanian yang pernah ditulis di ruang itu. Potongan itu adalah metafora yang terlalu terang untuk disebut kiasan. Ia bukan simbol yang meminta interpretasi. Ia adalah ancaman yang membusuk dalam diam.
Bahwa benda itu diletakkan di luar, bukan di dalam, adalah keputusan. Teror tidak mengetuk pintu. Ia menunggu ditemukan. Ia ingin dipergoki. Dan dalam keterpergokan itu, ia bekerja.
Yang terjadi setelahnya justru lebih menarik. Bukan karena ketegangannya, melainkan karena kekosongannya. Tidak ada suara keras. Tidak ada kegaduhan. Yang muncul adalah tawa. Lelucon yang tak lahir dari absurditas, tetapi dari ketidakpedulian. Seakan kepala itu bukan bagian dari satu adegan tragis, melainkan hanya barang nyasar dari dapur yang salah alamat.
Seseorang menyarankan agar kepala itu dimasak. Kalimat itu mengendap seperti debu di pojok ruangan. Tidak terlalu mengganggu. Akan tetapi, juga tidak pernah benar-benar bersih. Sebab, dalam kalimat itu terdapat satu pengalihan yang sering digunakan kekuasaan: bahwa apa pun bisa dibuat sepele asal diletakkan dalam humor.
Humor adalah salah satu cara kekuasaan menghindar tanpa terlihat lari. Dengan tawa, rasa tidak nyaman bisa dijauhkan. Dengan lelucon, posisi bisa tidak ditentukan. Namun, pada saat yang sama, kekuasaan yang memilih bercanda saat harus bersikap sedang menunjukkan bahwa ia tidak merasa punya tanggung jawab untuk menjadi pelindung.
Ada yang lebih sunyi daripada ketidakhadiran: ketidaktertarikan.
Ketika yang dipertaruhkan adalah rasa aman untuk bicara, dan negara menanggapinya dengan canda, rasa takut bukan lagi urusan bersama. Ia dipindahkan ke ruang privat, ditinggalkan pada si korban. Dan korban yang ditinggalkan akan memilih diam—bukan karena takut pada ancaman, melainkan kecewa pada yang semestinya melindungi.
Bahasa publik yang sehat membutuhkan respons. Tanpa itu, ia jadi ruang gema yang hanya mengulang-ulang trauma. Sebuah kepala diletakkan, dan tidak ada yang marah. Tidak ada yang bicara. Bahkan yang bicara pun memilih nada yang salah: terlalu ringan, terlalu lucu, terlalu ingin terlihat tidak terganggu.
Akan tetapi, kekuasaan yang tidak terganggu oleh ancaman pada warganya adalah kekuasaan yang tidak ingin dekat.
Ada masa ketika negara berarti kehadiran yang bisa dirasakan bahkan dalam diam. Namun, hari ini, kekuasaan tampak lebih tertarik pada jarak. Ia muncul hanya jika dirinya disapa. Jika ada yang lain yang diserang, ia berpaling. Jika ada yang bicara terlalu keras, ia menyeringai.
Pergeseran ini bukan kebetulan. Ia bagian dari satu kultur yang dibentuk perlahan: ketika bahasa tanggung jawab disamarkan sebagai kejenakaan, ketika reaksi dianggap terlalu reaktif, ketika luka hanya dihitung jika berdarah.
Padahal, kita tahu, tidak semua luka mengeluarkan darah. Ada luka yang berupa perasaan tak terlihat. Ketika tulisan tak lagi terasa aman. Ketika ruang redaksi tak lagi netral. Ketika keberanian harus disimpan dalam draf yang tidak jadi dikirim.
Dan semua itu dimulai dari satu potongan. Satu kepala. Yang hadir tanpa kalimat, tetapi menghapus banyak kalimat lain yang belum sempat ditulis.
Simbol bekerja bukan karena kejelasannya, melainkan karena kita tidak bisa menolak maknanya. Sebuah kepala binatang, apalagi yang secara budaya dianggap najis, mengandung lebih dari satu lapisan pesan. Ia menghina. Ia mengancam. Ia mengejek. Dan lebih dari itu, ia mempermalukan.
Bahwa benda semacam itu dikirim ke ruang jurnalisme, menandakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar teror personal. Ia adalah pelecehan terhadap ide bahwa pikiran bisa bebas bergerak, bahwa kata bisa dirakit tanpa rasa takut, bahwa negara akan berdiri di sisi yang bicara.
Akan tetapi, negara, dalam hal ini, tidak berdiri. Ia duduk. Atau berjalan menjauh. Atau tersenyum. Dan dari senyum itu, kita belajar: bahwa bukan hanya pelaku yang mengancam, melainkan juga sistem yang membiarkan.
Yang mengendap setelah semuanya bukan aroma daging, melainkan rasa ditinggalkan. Rasa bahwa kata tak lagi cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Dan ketika kata tak bisa lagi berlindung, yang tumbuh adalah ruang kosong: ruang yang semestinya dipenuhi kalimat, tetapi kini hanya dihuni jeda.
Kita bisa menulis ulang semua ini. Kita bisa berkata: itu hanya satu insiden. Namun, sebagaimana semua kekerasan simbolik, kekuatannya bukan pada jumlah, melainkan pada intensitas. Ia cukup sekali, tetapi membekas berkali-kali.
Dan jika setiap kali kita mengingatnya hanya untuk ditertawakan, kita bukan sedang mengatasi trauma. Kita sedang merayakan pelupaan.
Republik tidak lahir dari senyum. Ia lahir dari ketegasan bahwa suara boleh muncul tanpa diancam. Ketika kepala dijadikan pesan, dan pesan itu tidak dijawab, maka suara perlahan berhenti datang. Kita akan terbiasa pada sunyi. Dan sunyi itu bukan kedamaian. Ia adalah pembiaran yang diberi nama sopan.
Kepala yang dilepaskan tidak bisa kembali ke tubuhnya. Akan tetapi, masyarakat bisa memilih apakah akan terus menatapnya sebagai makanan, atau sebagai makna. Pilihan itu akan menentukan apakah kita akan menertawakan luka, atau menyembuhkannya.
Yang belum selesai bukan ancamannya. Namun, cara kita bicara tentangnya.
Virdika Rizky Utama, Direktur Eksekutif PARA Syndicate dan Dosen Hubungan Internasional President University.
Penulis:
Virdika Rizky UtamaEditor:
Neli Triana