Tentara Ambil Alih Kendali Keamanan Nepal

Ada kesamaan protes di Nepal dan Indonesia: dilakukan gen Z yang marah pada kelakuan elite politik.

10 Sep 2025 11:30 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

KATHMANDU, RABU — Setelah Sri Lanka dan Bangladesh, Nepal menjadi lokasi terbaru unjuk rasa generasi Z. Elite politik lama yang gagal memahami kegelisahan warga pun kehilangan jabatan. Semua dipicu nafsu elite politik melindungi sesama mereka dari jeratan hukum.

Hingga Rabu (10/9/2025), ketertiban belum pulih di Kathmandu dan kota-kota lain di Nepal. Media menyebutnya sebagai protes gen Z. Selain di Nepal, protes itu juga dipantau media-media India, negara tetangga Nepal.

Media Nepal, The Himalayan, melaporkan jam malam diberlakukan sampai Kamis (11/9/2025) pagi. Militer juga melarang orang berkumpul dengan alasan mencegah kerusuhan. Militer Nepal mengumumkan, kendali keamanan dipegang tentara mulai Selasa (9/9/2025) malam.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Nepal Jenderal Ashokraj Sigdel pada Selasa malam mengimbau pengunjuk rasa berdialog. Ia juga meminta aneka tempat bersejarah dilindungi dari perusakan dan penjarahan.

Dilaporkan media Nepal, MyRepublica dan The Himalayan, pembakaran berbagai bangunan pemerintah masih terus terjadi. Istana Kepresidenan, Gedung Parlemen, dan Mahkamah Agung sebagian dari sasaran perusakan.

Bahkan, massa merebut sejumlah senapan dari gedung MA. Mereka menembakkan senapan itu di depan MA.

Manajemen Tribhuvan International Airport (TIA) juga menutup bandara di Kathmandu tersebut. Berbagai maskapai penerbangan menghentikan penerbangan dari dan ke TIA karena khawatir kerusuhan merusak pesawat di bandara.

Keberadaan Bekas Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Sharma Oli belum diketahui selepas mengumumkan mundur pada Selasa sore. Rumahnya dan rumah sejumlah mantan PM dibakar massa.

Sejumlah mantan PM Nepal juga menghilang. Serangan ke rumah mantan PM Jhala Nath Khanal menewaskan istrinya, Rajyalaxmi Chitrakar. Perempuan itu tewas akibat luka bakar. Mantan PM Khanal Kamal Dahal juga tidak diketahui keberadaannya kala rumah mereka dibakar.

Sementara mantan PM Bahadur Deuba, dan istrinya, Arju Rana Deuba, dipukuli dan diseret keluar dari rumahnya pada Selasa siang. Setelah jadi PM, Deuba kini jadi ketua parlemen. Rumah mereka juga dibakar. Arju Rana salah satu menteri di kabinet PM Oli.

Asap mengepul dari gedung Mahkamah Agung yang dibakar oleh para pengunjuk rasa di Kathmandu, Nepal, Selasa (9/9/2025).  Kerusuhan berawal dari unjuk rasa yang dimotori oleh generasi Z menolak pemblokiran media sosial.

Awalnya damai

Unjuk rasa awalnya hanya berpusat di Kathmandu dan berlangsung damai. Massa, yang mayoritas pelajar dan mahasiswa, hanya berteriak dan membawa poster dalam unjuk rasa pada Senin (8/9/2025) itu. Kebanyakan pelajar dalam unjuk rasa itu malah masih memakai seragam sekolah. Sebab, mereka unjuk rasa setelah sekolah selesai.

Pokok kemarahan mereka ada dua: blokir media sosial dan ketidakadilan dalam kasus tabrak lari yang melibatkan pejabat di Koshi, provinsi di sebelah Kathmandu.

Massa marah karena tabrak lari yang menewaskan murid SD itu diduga kuat tidak ditindaklanjuti kepolisian. Buktinya, pengemudi mobil itu bebas sehari setelah ditangkap.

Protes atas tabrak lari di Koshi awalnya lebih banyak berlangsung secara daring. Pejabat itu diketahui rekan satu partai dengan bekas PM Oli.

Para pengunjuk rasa merebut kendaraan keamanan di luar Singha Durbar, gedung administrasi utama pemerintah Nepal, di Kathmandu, Selasa (9/9/2010).

Pemerintahan Oli menyikapi protes daring itu dengan pelarangan aneka pelantar media sosial. Bukannya reda, protes malah meluas. Sebab, pelarangan itu mengganggu kehidupan gen Z. Banyak gen Z memakai media sosial untuk belajar dan bekerja. Mereka pun menggalang unjuk rasa di Kathmandu.

Unjuk rasa damai itu disikapi brutal oleh polisi. Hingga Selasa, 20 orang tewas dan hampir 400 lain cedera akibat kebrutalan polisi. Kebrutalan itu memicu kemarahan meluas. Dari Kathmandu, bara menyambar berbagai penjuru Nepal.

Selain Oli, sejumlah pejabat mengumumkan pengunduran diri di tengah unjuk rasa itu. Pengunduran diri Oli otomatis juga membuat seluruh menteri di pemerintahan Nepal juga kehilangan jabatan.

Mantan Menteri Komunikasi Nepal Gokul Baskota menyebut pemerintahan Oli salah besar dalam menyikapi protes gen Z. Orang-orang tua merasa bisa mengancam dan menekan gen Z karena merasa memegang kekuasaan. Faktanya, mereka kini harus bersembunyi dari amarah massa.

In this pool photograph distributed by the Russian state agency Sputnik, Russia's President Vladimir Putin (R) attends a meeting with Nepal's Prime Minister KP Sharma Oli during the Shanghai Cooperation Organisation (SCO) Summit in Tianjin on September 1, 2025. (Photo by Alexander KAZAKOV / POOL / AFP)

Pamer kemewahan

Media India, The Hindustan Times, menulis bahwa ada sejumlah kesamaan antara protes di Nepal dan Indonesia. Setidaknya, kesamaan itu pada pengunjuk rasa dan akar protesnya. Di Nepal dan Indonesia, unjuk rasa sama-sama melibatkan gen Z yang marah pada elite politik.

Cara unjuk rasanya khas gen Z. Awalnya secara daring melalui media sosial. Di tengah unjuk rasa di lapangan, mereka menyiarkan secara langsung lewat berbagai pelantar media sosial.

Bukan marah biasa, melainkan karena pamer kemewahan oleh politisi dan keluarganya. Massa semakin marah karena kemewahan itu diduga kuat dimodali negara atau menggunakan fasilitas negara.

Keluarga Deuba, mantan PM dan kini jadi ketua parlemen, salah satu yang disorot. Anak dan menantu Deuba dikenal suka memamerkan kemewahan. Mereka suka mengunggah foto sedang dalam pesawat pribadi atau jalan-jalan ke luar negeri dengan pakaian mahal.

Bukan cuma anak Deuba, anak para elite politik Nepal juga kerap melakukan hal yang sama. Keluarga mantan PM Pushpa Kamal Dahal, Ganga Dahal, dan Smita Dahal, juga berulah seperti anak dan menantu Deuba. Warganet Nepal menggunakan tagar ”Nepobaby” untuk memprotes ulah anak para elite politik itu.

Keluarga elite politik Nepal juga memamerkan mereka sekolah atau kuliah di tempat mahal di luar negeri. Padahal, keluarga para elite itu diketahui tidak punya warisan harta. Mereka mendadak kaya raya setelah masuk politik.

Selama protes daring, warganet membagikan ulang unggahan anggota keluarga elite politik itu di media sosial. Hal itu membuat Oli dan para elite Nepal gerah. Pemerintah pun memberangus media sosial. Keputusan yang berujung pada pemerintah terguling.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan