Sekelompok warga AS gagal membunuh Presiden Kongo. Setelah divonis mati oleh Pengadilan Kongo, kini mereka direpatriasi dan disidangkan di Amerika Serikat.
10 Apr 2025 13:06 WIB · Internasional
NEW YORK, RABU — Kongo memulangkan tiga warga Amerika Serikat yang terlibat kudeta. Mereka akan diadili di AS bersama seorang lain.
Warga AS yang dipulangkan bernama Marcel Malanga, Tyler Thompson Jr, dan Benjamin Zalman-Polun (37). Dalam pernyataan pada Rabu (9/4/2025) siang waktu New York atau Kamis dini hari WIB, Departemen Kehakiman AS menyebut mereka akan disidang di New York.
Bersama mereka akan disidang pula Joseph Peter Moesser (67). Menurut jaksa AS, Moesser jadi pelatih dan pemasok senjata untuk komplotan Malanga. Moesser akan disidangkan di Salt Lake City, Utah.
Pada Mei 2024, komplotan itu berupaya melancarkan kudeta untuk menggulingkan Presiden Félix Tshisekedi. Komplotan itu juga menyerang Wakil Perdana Menteri Vital Kamerhe di rumahnya. Serangan dilancarkan di Kinshasa, ibu kota Kongo.
Ayah Marcel, Christian, menjadi pemimpin kelompok itu. Christian tewas dalam baku tembak di tengah upaya kudeta yang gagal itu. Ia salah satu dari korban tewas dalam baku tembak tersebut.
Christian merupakan penduduk AS yang berstatus pemegang izin tinggal tetap. Pada 2010, ia mendirikan partai di AS lalu mendeklarasikan diri sebagai Presiden Zaire Dalam Pengasingan.
Christian merupakan warga Kongo yang mengungsi ke AS beberapa dekade lalu. Sementara Marcel, karena lahir di AS, menjadi warga AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/12/30/FILES-DRCONGO-POLITICS-TSHISEKEDI_93459134_1609299236_jpg.jpg)
Kudeta, menurut Departemen Kehakiman AS, bertujuan menjadikan Christian sebagai presiden Kongo. Sementara Marcel akan dijadikan kepala Staf Angkatan Bersenjata Kongo. Mereka juga mau mengubah nama Kongo menjadi Zaire lagi.
Polun merupakan teman lama Marcel dan dijanjikan jabatan jika kudeta berhasil. Adapun Thompson merupakan operator pesawat nirawak. Sementara Moesser diketahui melatih komplotan itu menggunakan peledak. Ia juga menyediakan bahan peledak untuk komplotan tersebut.
Thompson berperan mengendalikan serangan udara lewat pesawat nirawak. Ia menjatuhkan peledak-peledak rakitan Moesser. Ia juga mengoperasikan pesawat nirawak yang menyemburkan api.
Komplotan itu merekrut pula sejumlah orang lain untuk menjadi tentara bayaran. Dengan bantuan tentara bayaran, mereka menyasar sejumlah lokasi di Kongo.
Departemen Kehakiman AS menyebut, komplotan itu diduga berdana besar. Sebab, peralatan mereka tidak murah. Mereka punya senjata, peledak, dan perangkat komunikasi standar militer. Semua perangkat itu dibeli dari AS lalu dibawa ke Kongo.
Pengacara terdakwa Thompson, Skye Lazaro, belum bisa memberikan keterangan. Untuk terdakwa lain belum ada keterangan akan didampingi pengacara mana. Menurut keluarganya, Thompson ke Kongo dengan alasan mau liburan. Biayanya ditanggung Christian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/4313788a4cbbf0841837b4a56ee430f8-Congo_Coup_Americans_Charged_1_.jpg)
Setelah kudeta gagal, komplotan itu ditangkap. Oleh pengadilan Kongo, mereka divonis mati. Dalam sidang itu, salah satu pembelaan Marcel adalah terpaksa terlibat.
Ia mengaku diancam ayahnya kalau tak mau ikut. Karena takut, ia pun terlibat dalam kudeta gagal tersebut.
Komplotan itu menawarkan upah sampai 100.000 dollar AS kepada orang yang mau terlibat penyerangan di Kongo. Tidak diketahui dari mana Christian Malanga punya uang sebanyak itu.
Hukuman mati untuk Marcel, Polun, dan Thompson diganti Pemerintah Kongo menjadi hukuman seumur hidup. Setelah itu, mereka dikirim ke AS untuk dihukum.
Dokumen di pengadilan AS memuat keterangan terperinci manuver komplotan Mananga. Gerakan itu merancang serangan selama berbulan-bulan. Mereka tidak melancarkan serangan secara spontan.
Mereka diam-diam dan pelan-pelan memindahkan aneka perlengkapan dari AS ke Kongo. Setelah di Kongo, mereka membajak bus untuk mengangkut pasukan. Mereka juga menyerang kantor polisi lalu mengambil senjata di sana.
Sejumlah saksi mengaku, Marcel dan Thompson kerap latihan menembak dan menerbangkan pesawat nirawak di pinggiran Salt Lake City.
Sementara Polun ditugasi mencari tentara bayaran. Ia dijanjikan jabatan di militer dan kementerian ekonomi hasil kudeta.
Selama penyerbuan, Christian menyiarkan video siaran langsung. Siaran langsung berhenti saat posisi mereka terdesak. (AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto