Ekosistem industri jasa dan MICE perlu saling bersinergi agar bisa bertahan di tengah dampak pemangkasan anggaran pemerintah.
11 Mar 2025 20:29 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pelaku usaha jasa dan industri pariwisata perlu berkolaborasi untuk mendorong daya tahan ekosistem industri. Langkah pemerintah memangkas belanja operasional dan non-operasional, termasuk perjalanan dinas, rapat, dan seminar, memicu pelemahan ekosistem industri yang mencakup perhotelan serta pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE).
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Hosea Andreas Runkat mengemukakan, pihaknya mendorong kolaborasi untuk daya tahan ekosistem industri dan bisnis pariwisata dengan pelaku industri terkait.
Pengetatan anggaran pemerintah dinilai telah mengganggu sektor bisnis, terutama perhotelan, terkait penggunaan kamar dan ruangan. Selain itu, pelaku usaha terkait MICE juga cukup terdampak meski kegiatan pameran hingga kini masih relatif terjaga baik.
”Sebagai ekosistem industri, kita memerlukan kerja sama dan bukan persaingan untuk kembali meramaikan hotel dan bisnis pariwisata,” kata Andreas, dalam Afternoon Tea Asperapi, di Jakarta, Selasa (11/3/2025).
Dalam pertemuan itu juga dilakukan penandatanganan kerja sama Asperapi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Selasa (11/3/2025). Menurut Andreas, kerja sama itu dalam rangka mendorong lebih banyak kegiatan pameran di hotel-hotel, baik pusat maupun daerah.
Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani mengemukakan, pemerintah telah menetapkan pemangkasan anggaran belanja untuk kegiatan pemerintah sekitar 50 persen. Namun, saat ini yang terlihat kegiatan pemerintah terkait MICE hampir tidak ada lagi. Oleh karena itu, PHRI terus mengupayakan komunikasi dengan pemerintah agar melakukan kegiatan MICE meski dengan kapasitas dibatasi 50 persen.
”Kami mengharapkan pemerintah membuka kegiatannya meski dengan kapasitas 50 persen. Seakan yang terlihat saat ini sama sekali tidak ada kegiatan. Kalau kegiatan dihentikan seperti ini, maka industri perhotelan akan sulit bertahan dan dapat berdampak pada pengurangan tenaga kerja,” ujar Hariyadi.
Sektor perhotelan yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19 baru mulai pulih tahun 2024. Sejumlah acara konvensi, kegiatan, dan promosi kerap mengisi MICE dan hotel. Sebagian besar keterisian hotel dan penyelenggaraan MICE bersumber dari kegiatan pemerintah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/11/b867bc6e64855b1c8b5bcc16be79cd39-20250311_163143.jpg)
Wakil Kepala Badan Riset DPP Asperapi Tony Chang memaparkan, pasar MICE di Indonesia terbagi ke dalam empat segmen utama, yakni pertemuan dengan kontribusi pasar 40 persen, insentif berkontribusi 15 persen, konferensi sekitar 30 persen, dan pameran 25 persen.
Kontribusi pasar dari kegiatan pertemuan mencapai 800 juta dollar AS per tahun, sementara nilai pasar dari kegiatan insentif berkisar 400 juta dollar AS dengan pertumbuhan 8 persen per tahun. Sedangkan kontribusi pendapatan dari konferensi hampir mencapai 600 juta dollar AS dan pameran menyumbang nilai pasar 500 juta dollar AS.
Ketua Umum Backstagers Andro Rohmana mengemukakan, 7 dari 16 pos anggaran belanja pemerintah yang dipangkas memiliki irisan dengan industri event (kegiatan) sehingga turut terimbas.
Sektor pameran memiliki peran yang vital dalam perekonomian nasional dan harus diperlakukan dengan pertimbangan yang tepat.
Andreas mengemukakan, peningkatan partisipasi sektor industri atau swasta dalam penyelenggaraan pameran sejak awal 2025 menunjukkan bahwa pameran tetap menjadi salah satu platform penting ekosistem bisnis. Pameran menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku bisnis dan mempromosikan produk serta layanan sehingga berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, pameran juga bisa meningkatkan daya saing produk lokal.
Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah terus memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan pameran, melalui kemudahan dalam perizinan, serta promosi yang lebih aktif terhadap kegiatan pameran di dalam dan luar negeri.
”Kebijakan efisiensi anggaran bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam berbagai sektor. Namun, sektor pameran memiliki peran yang vital dalam perekonomian nasional dan harus diperlakukan dengan pertimbangan yang tepat,” ujarnya.
Penulis:
Brigita Maria Lukita G.Editor:
Maria Susy Berindra