Terkait Proposal Perdamaian di Gaza, Dunia Menanti Respons Hamas

Otoritas Palestina, negara Arab dan Muslim, serta negara Barat lain mengapresiasi proposal Presiden Trump. Apakah perang Gaza segera berakhir?

30 Sep 2025 10:49 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON, SELASA - Proposal perdamaian di Jalur Gaza dari Amerika Serikat telah mendapat dukungan Israel. Otoritas Palestina, negara Arab dan Muslim, serta negara Barat mengapresiasi proposal tersebut. Dunia kini menanti respons Hamas.

Presiden AS Donald Trump bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington DC, Senin (29/9/2025), waktu setempat. Pertemuan itu membahas proposal perdamaian antara Hamas-Israel, termasuk perbedaan pandangan terkait pembentukan Negara Palestina.

“Saya ingin berterima kasih kepada PM Netanyahu karena telah menyetujui rencana tersebut dan karena percaya bahwa jika kita bekerja sama, kita dapat mengakhiri kematian dan kehancuran yang telah kita saksikan selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad,” kata Trump dalam konferensi pers bersama Netanyahu.

Trump melanjutkan, kawasan Timur Tengah akhirnya bisa memulai babak baru menuju keamanan, perdamaian, dan kemakmuran. Dia turut menegaskan, Israel akan mendapat “dukungan penuh” AS jika Hamas tidak menerima kesepakatan tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di akhir konferensi pers bersama di Ruang Makan Negara, Gedung Putih, Washington DC, Senin (29/9/2025). Trump menyambut Netanyahu dalam kunjungan keempatnya ke Gedung Putih. Mereka membahas proposal perdamaian AS untuk gencatan senjata antara Hamas-Israel dan mengakhiri perang di Jalur Gaza.

Berdiri di samping Trump, Netanyahu menyatakan dukungan terhadap rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza. Hal itu, lanjutnya, sesuai dengan tujuan perang dari Israel.

“Rencana ini akan membawa kembali semua sandera ke Israel, mencopot kemampuan militer Hamas, mengakhiri kekuasaan politiknya, dan memastikan bahwa Gaza tidak akan pernah lagi menjadi ancaman bagi Israel,” ujar Netanyahu.

Terlepas dari itu, Hamas tetap menjadi kunci keberhasilan proposal perdamaian Trump. Ketiadaan partisipasi Hamas dalam penyusunan menimbulkan keraguan. Ditambah lagi, kelompok ini telah berulang kali menolak pelucutan senjata.

Seorang pejabat senior Hamas mengatakan, Hamas akan “merespons begitu menerimanya”. Pejabat lainnya mengaku telah mendapat pengarahan terkait proposal Trump dari Qatar dan Mesir sebagai mediator. Kepada para mediator, Hamas menyatakan akan meninjau “dengan itikad baik” lalu memberikan tanggapan.

Namun, Jihad Islam menyebut rencana tersebut “resep untuk agresi berkelanjutan terhadap rakyat Palestina”. “Melalui rencana itu, Israel, melalui Amerika Serikat, berusaha untuk memaksakan apa yang tidak dapat dicapainya melalui perang,” kata Kelompok ini berperang bersama Hamas di Gaza itu.

Steven Cook, peneliti senior di Council on Foreign Relations, berpendapat, akhir perang mungkin sudah semakin dekat. Namun, masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan. “Qatar sekarang harus menekan Hamas dan Netanyahu perlu meyakinkan kabinetnya,” ujarnya.

20 poin

Sebelumnya, beberapa media asing melaporkan proposal AS memiliki 21 poin. Dalam pemberitaan terbaru, Trump merilis proposal berisi 20 poin. Selain Israel, AS telah membahas proposal itu dengan para pemimpin negara Arab selama beberapa minggu terakhir.

Menurut Al Jazeera, beberapa poin dalam proposal, antara lain perang akan segera berakhir jika Israel-Hamas menyetujui perjanjian tersebut. Israel akan mundur ke garis yang disepakati sembari kedua pihak menangguhkan semua operasi militer.

Selain itu, Hamas akan melepaskan semua sandera hidup dan mati dalam 72 jam. Setelah semua sandera bebas, Israel akan membebaskan 250 tahanan, 1.700 warga Gaza, serta 15 jenazah warga Gaza. Poin-poin lain dalam proposal, ialah:

  • Gaza menjadi zona bebas teror yang tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangga.
  • Gaza akan dibangun kembali untuk kepentingan rakyat Gaza.
  • Gaza akan berada di bawah pemerintahan transisi sementara dari sebuah komite Palestina yang teknokratis dan apolitis. Komite ini terdiri dari warga Palestina yang berkualifikasi dan pakar internasional. “Dewan Perdamaian” yang dipimpin Trump bersama kepala negara lain akan mengawasi komite itu.
  • Anggota Hamas yang berkomitmen untuk hidup berdampingan dan menyerahkan senjata akan mendapat amnesti. Anggota Hamas yang ingin meninggalkan Gaza akan mendapat jalur aman ke negara penerima.
  • Hamas dan faksi-faksi lain tidak berperan dalam pemerintahan Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung atau dalam bentuk apa pun. Akan ada proses demiliterisasi Gaza.
  • Tidak seorang pun akan dipaksa meninggalkan Gaza. Warga bebas untuk pergi atau kembali.
  • AS akan bekerja sama dengan mitra Arab dan internasional untuk mengembangkan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) sementara di Gaza. ISF akan melatih pasukan polisi Palestina sebagai solusi keamanan internal jangka panjang.
  • Israel tidak akan menduduki atau mencaplok Gaza. Seiring ISF membangun stabilitas, militer Israel akan mundur berdasarkan kerangka demiliterisasi yang disepakati antara Israel, ISF, para penjamin, dan Amerika Serikat.
  • Jaminan akan diberikan oleh mitra regional untuk memastikan Hamas dan faksi-faksinya mematuhi kewajiban mereka serta Gaza Baru tidak menimbulkan ancaman bagi negara tetangga.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama di Ruang Makan Negara, Gedung Putih, Washington DC, AS, Senin (29/9/2025). Trump menyambut Netanyahu dalam kunjungan keempatnya ke Gedung Putih. Mereka membahas pproposal perdamaian AS untuk mengakhiri perang Hamas-Israel.

Poin lainnya adalah bantuan dan peralatan rekonstruksi akan segera dikirim ke Jalur Gaza begitu perjanjian itu diterima. Distribusi bantuan berjalan tanpa campur tangan dari kedua belah pihak, yaitu melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badannya, Bulan Sabit Merah, serta lembaga-lembaga internasional lainnya.

Trump juga ingin membentuk zona ekonomi khusus di Gaza. Di samping itu, ia mengusulkan AS akan memfasilitasi dialog, termasuk dialog lintas agama, agar Palestina dan Israel bisa eksis secara harmonis.

Proposal itu juga sedikit menyinggung nasib negara Palestina. “Seiring rekonstruksi Gaza berlanjut dan Otoritas Palestina direformasi, syarat-syarat mungkin akhirnya tersedia untuk jalur yang kredibel menuju penentuan nasib sendiri dan kenegaraan Palestina, yang kami akui sebagai aspirasi rakyat Palestina,” bunyi proposal tersebut.

Menyambut baik

Menurut kantor berita Palestina WAFA, Senin, Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat menyambut baik proposal Trump. Otoritas Palestina juga menegaskan keinginan membentuk negara Palestina yang modern, demokratis, dan nonmiliter.

“Otoritas Palestina memperbarui komitmen untuk bekerja sama dengan AS, negara-negara di kawasan, dan mitra-mitra guna mengakhiri perang di Gaza melalui perjanjian komprehensif yang menjamin pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, pembebasan sandera dan tahanan, serta pembentukan mekanisme untuk melindungi rakyat Palestina,” bunyi pernyataannya.

Delapan negara Arab dan Muslim turut mendukung proposal AS. Mesir, Jordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Turki, Indonesia, dan Pakistan sudah berbicara dengan Trump, pekan lalu.

“Kami menyambut baik peran presiden Amerika dan upaya tulusnya yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Gaza. Kami menegaskan kesiapan terlibat secara positif dan konstruktif dalam menyelesaikan perjanjian dan memastikan implementasinya,” bunyi pernyataan bersama.

Umat ​​Yahudi Ortodoks anti-Zionis memprotes Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di pagar pembatas di Lafayette Park, Washington DC, Amerika Serikat, Senin (29/9/2025). Dalam pertemuan keempat mereka di Washington, Presiden AS Donald Trump dan Netanyahu membahas proposal perdamaian AS untuk Gaza

Perancis, Jerman, Inggris, dan Italia turut mengapresiasi proposal itu. Dalam proposal Trump, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair akan ikut menjadi dewan pengawas. Sementara itu, Perancis baru saja mengakui negara Palestina di Sidang Majelis Umum PBB, pekan lalu.

“Saya menyambut baik komitmen Presiden Trump untuk mengakhiri perang di Gaza. Saya berharap Israel akan bertindak tegas atas dasar ini. Hamas tidak punya pilihan selain mengikuti rencana ini,” cuit Presiden Perancis Emmanuel Macron di X.

Namun,warga Gaza yang sudah lama terdampak perang bersikap skeptis terhadap proposal itu. “Kami sebagai rakyat tidak akan menerima lelucon itu,” kata Abu Mazen Nassar (52)

Sementara pengumuman proposal berlangsung, Israel terus menyerang Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sudah sebanyak 66.005 warga Palestina tewas sejak perang berlangsung. (AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari