Dalam beberapa tahun terakhir, Delima bersama sejumlah organisasi, aktivis, dan masyarakat semakin gencar mengorganisasikan gerakan tutup TPL.
31 Mei 2025 21:16 WIB · Nusantara
MEDAN, KOMPAS — Aktivis lingkungan dan pejuang pengembalian tanah masyarakat adat, Delima Silalahi, mendapat teror kiriman burung mati berdarah dalam kardus. Teror itu diduga berkaitan dengan aktivitas Delima yang gencar meminta penutupan PT Toba Pulp Lestari atau TPL, perusahaan hutan tananam industri di kawasan Danau Toba. Sejumlah organisasi mengecam teror dan mendesak agar kasus itu diusut tuntas.
”Selama ini saya dan teman-teman lain yang berjuang dalam gerakan tutup TPL sudah sering diteror. Namun, baru kali ini kami mendapat teror kiriman burung mati,” kata Delima, Sabtu (31/5/2025).
Delima merupakan mantan Direktur Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), lembaga swadaya masyarakat yang berjuang mengembalikan tanah ulayat masyarakat adat. Atas perjuangannya, Delima pernah menerima penghargaan Anugerah Lingkungan Goldman pada 2023 dari Goldman Environmental Foundation di San Francisco, Amerika Serikat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Delima bersama sejumlah organisasi, aktivis, dan masyarakat semakin gencar mengorganisiasikan gerakan tutup TPL. ”Terakhir, pada Selasa (27/5/2025), kami berunjuk rasa dalam gerakan tutup TPL di Tapanuli Utara. Pada Jumat (30/5/2025) saya menerima paket burung mati,” kata Delima.
Paket itu diletakkan di atas meja tamu di sebuah ruangan terbuka rumah Delima di Kabupaten Tapanuli Utara. Di dalam kardus bertulis ”Kepada Delima”. Namun, tidak ada nama pengirim atau informasi lain yang ditulis di kardus itu.
Delima menyebut, KSPPM dan organisasi lainnya menduga teror itu terkait gerakan tutup TPL. Sehari sebelum berunjuk rasa, Delima juga sudah diteror dengan pemasangan spanduk bertuliskan ”Tangkap Delima” di Tapanuli Utara. Tidak jelas apa maksud tulisan di spanduk tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/31/e345794d-0dcb-48d5-b2f7-0cb9252b2c0f_jpg.jpg)
Delima selama ini berjuang di daerah-daerah konflik agraria antara masyarakat adat dan PT TPL. Dalam catatan Kompas, Delima bersama lembawa swadaya masyarakat yang ia pimpin telah berhasil mengembalikan sedikitnya 7.000 hektar hutan adat milik enam kelompok masyarakat adat di Kabupaten Humbang Hasundutan, Toba, dan Tapanuli Utara. Empat di antaranya mendapatkan Surat Keputusan (SK) Hutan Adat dan dua merupakan SK Pencadangan Hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Sejumlah organisasi pun mengecam teror terhadap Delima. Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara Juniaty Aritonang mengatakan, pengiriman bangkai hewan merupakan intimidasi atas kerja-kerja yang dilakukan Delima dengan sangat vokal.
”Ini merupakan bentuk teror terhadap aktivis perempuan pejuang lingkungan. Negara harus hadir memastikan perlindungan kepada pejuang lingkungan. Kami meminta tindakan teror ini diusut tuntas oleh kepolisian,” ujar Juniaty.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/26/c7f68f23-4b22-4fee-afb4-e280f3a0f07a_jpg.jpg)
Direktur Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia (Bitra) Rusdiana Adi mengatakan, tidak boleh ada teror dan ancaman bagi pejuang rakyat. Jika itu terjadi, masyarakat akan bergerak mencari keadilan. ”Buat teman-teman KSPPM yang sedang berjuang membela rakyat, tetaplah semangat dan maju terus pantang mundur untuk menyuarakan tutup TPL,” kata Adi.
Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria Dewi Kartika menyatakan, jika benar TPL berkaitan dengan teror terhadap Delima, ini menambah daftar panjang korban kekerasan dan terror TPL terhadap masyarakat dan aktivis.
Negara harus hadir memastikan perlindungan kepada pejuang lingkungan. Kami meminta tindakan teror ini diusut tuntas oleh kepolisian.
Berdasarkan data Aliansi Tutup TPL 2021, lebih dari 93 orang dikriminalisasi karena mempertahankan tanahnya. Konflik agraria juga terjadi di hutan adat di sejumlah tempat di kawasan Danau Toba. ”Kami mengutuk keras tindakan teror dan kekerasan terhadap Delima Silalahi,” kata Dewi.
Dewi mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut serta mengungkap pelaku teror dan auktor intelektualis di balik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/25/0e41c5fc-45d4-4f51-bbc5-f90d423ceb77_jpg.jpg)
Direktur PT Toba Pulp Lestari Tbk Jandres Silalahi, dalam keterangan tertulisnya, menyatakan, TPL sangat keberatan dengan pernyataan yang mengaitkan teror terhadap Delima dengan TPL.
”Kami mengutuk segala bentuk kekerasan, intimidasi, dan tindakan teror dalam bentuk apa pun dan terhadap siapa pun, termasuk terhadap aktivis lingkungan dan masyarakat sipil. Kami menegaskan, PT Toba Pulp Lestari Tbk tidak memiliki keterlibatan atau hubungan apa pun dengan dugaan aksi teror itu,” kata Jandres.
Sebagai perusahaan terbuka yang profesional, Jandres menyebut, mereka menentang segala bentuk aksi teror atau ancaman. Mereka juga meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian tersebut dan mencari pelakunya.
Menurut Jandres, mereka selalu membuka ruang dialog kepada semua pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil, tokoh agama, akademisi, dan komunitas lokal, untuk menyelesaikan perbedaan pandangan secara damai.
Dia meminta agar segala bentuk tudingan diselesaikan berdasarkan fakta dan proses hukum yang sah.
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Irma Tambunan