Terus Menebar Teror, OPM Bakar Sekolah dan Tembak Pengojek di  Papua Tengah

Selama 2024, terjadi empat kali teror di fasilitas pendidikan yang ada di wilayah Papua.

22 Nov 2024 12:37 WIB · Kriminalitas

Oleh Nasrun Katingka

JAYAPURA, KOMPAS — Organisasi Papua Merdeka atau OPM dilaporkan membakar sebuah sekolah di Kampung Gigobak, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, Jumat (22/11/2024). Sehari sebelumnya, kelompok OPM Puncak lainnya juga berulah dengan menembak mati dua pengojek di Kampung Weni, Distrik Megeabume.

Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz Brigadir Jenderal (Pol) Faizal Ramadhani mengungkapkan, pembakaran sekolah menengah pertama (SMP) di Gigobak itu terjadi pada Jumat dini hari.

”Aparat sedang melakukan pengejaran (terhadap pelaku pembakaran sekolah) dan meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Faizal.

Selain itu, Faizal juga melaporkan, pada Kamis (21/11/2024) siang terjadi penembakan kepada dua pengojek di Kampung Weni. Faizal menyebut, berdasarkan informasi saksi mata di lapangan, tindakan ini dilakukan oleh OPM pimpinan Kalenak Murib.

Kepala Satgas Humas Damai Cartenz Komisaris Besar Bayu Suseno menyampaikan identitas kedua korban itu yakni Imran (23) dari Gowa, Sulawesi Selatan; dan Asrun Eko Putra (24) dari Takalar, Sulawesi Selatan.

Penembakan tukang ojek Papua

”Evakuasi (pada hari Kamis) terhambat karena ada jembatan terputus. Evakuasi direncanakan dilakukan pada Jumat,” ucap Bayu.

Sementara itu, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, belum memberikan keterangan perihal pembakaran sekolah tersebut.

Adapun berkaitan dengan penembakan terhadap pengojek, Sebby menyebut, warga sipil yang ditembak ini adalah agen intelijen militer Indonesia. Alasan seperti ini kerap kali disampaikan TPNPB-OPM dalam berbagai insiden penembakan kepada warga sipil.

20 sekolah

Pembakaran sekolah ini semakin memperpanjang teror di fasilitas pendidikan oleh OPM di wilayah Papua. Dalam catatan Kompas, selama 2021-2024, OPM telah membakar lebih dari 20 sekolah, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di sejumlah daerah di Papua.

Sepanjang 2024, terjadi empat kali teror di fasilitas pendidikan di Papua. Bulan lalu, di kampung yang sama dengan pembakaran di Puncak, OPM juga melancarkan teror pembakaran gedung sekolah menengah atas (SMA).

Bangunan sekolah dasar yang dibakar OPM di Pogapa, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Rabu (1/5/2024).

Berdasarkan keterangan Kepala Polres Puncak Komisaris Nyoman Punia, pembakaran pada 8 Oktober 2024 itu terjadi ketika OPM berselisih dengan tim pemenangan calon kepala daerah di Kampung Gigobak, Distrik Sinak.

Kelompok tersebut meminta sejumlah uang kepada tim pemenangan calon kepala daerah yang sedang berkegiatan di Kampung Gigobak. ”Ada kesalahpahaman dengan panitia dan mereka (OPM) yang ikut memantau kegiatan itu. Kemudian terjadi saling lempar batu dan ada korban luka dari masing-masing pihak,” kata Nyoman.

Teror lain juga terjadi pada 12 Juli 2024 saat OPM membakar gedung sekolah dasar (SD) di Kampung Borban, Distrik Okbab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.

Selain itu, pada 21 Mei 2024, OPM juga menebar teror dengan membakar gedung sekolah terpadu YPPGI Kepas Kopo di Kabupaten Paniai. Bangunan yang dibakar terdiri dari PAUD, SD, dan SMP.

Quote

OPM kerap beralasan, sekolah-sekolah ini merupakan markas pertahanan dari militer Indonesia.

Pada 1 Mei 2024, OPM membakar sebuah gedung SD di Pogapa, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya. Saat itu, akibat situasi yang semakin mencekam, guru pendatang asal Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, meninggalkan Pogapa.

Dari berbagai rentetan kejadian ini, OPM kerap beralasan, sekolah-sekolah ini merupakan markas pertahanan dari militer Indonesia. Selain itu, dalam beberapa keterangan yang dibagikan TPNPB-OPM, mereka ingin mengajak pelajar di Papua untuk berjuang bersama melawan militer Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nasrun Katingka
 | 

Editor:

Rini Kustiasih