Jemaah haji lansia dan berkebutuhan khusus tak kehilangan semangat beribadah walau duduk di kursi roda.
21 Mei 2025 15:22 WIB · Humaniora
Endang Tri Nurniningsih (60) sangat bersemangat saat menceritakan pengalaman batin dan spiritualnya saat pertama kali melihat Kabah. Terlebih setelah menuntaskan tawaf dan sai saat melakukan umrah wajib.
”Bersyukur sekali bisa melakukan rangkaian ibadah tanpa kesulitan berarti. Bersyukur bisa melihat Kabah. Di Madinah saya juga menyempatkan arbain. Keluar hotel sudah halaman masjid. Jadinya bisa setiap hari ke masjid,” katanya saat ditemui, Senin (19/5/2025).
Endang merupakan satu dari 513 penyandang disabilitas yang menjadi jemaah haji tahun ini. Dia bergabung dalam kloter 22 embarkasi Solo.
Kecelakaan lalu lintas pada 2013 membuat Endang harus merelakan kaki kirinya diamputasi hingga batas lutut. Sejak saat itu dia menggunakan kursi roda. Saat kehilangan kakinya, dia telah mendaftar haji pada 2012 bersama Khuyadi (67), suaminya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/b4878fce165d8f3f4ff5f723df34d022-IMG_1234.jpeg)
Jika Endang berkursi roda karena kehilangan kaki, suaminya berbeda. Penyakit di bagian pinggang yang diderita membuatnya juga harus lebih banyak menggunakan kursi roda.
”Tak bisa jalan jauh dan lama. Kalau dekat, masih bisa berjalan. Makanya saat tawaf kemarin, kami berdua pakai kursi roda,” katanya.
Pasangan suami istri ini mengakui fasilitas untuk penyandang disabilitas atau orang berkebutuhan khusus sudah cukup baik. Petugas pendamping pun cukup sigap. Hanya beberapa kali dalam perjalanan dari Madinah ke Mekkah dan singgah di tempat istirahat (rest area), mereka merasa kesulitan karena tak ada jalur untuk kursi roda. Beberapa toilet umum juga tak menyiapkan fasilitas khusus untuk difabel.
”Tapi tak masalah. Selebihnya masih baik. Pelayanan, makanan, akses, kamar, sudah cukup lumayan. Saya mau ke Masjidil Haram pun, bus tersedia setiap saat. Makanya tetap bersyukur, tetap bahagia,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/13/658f77d25f78204fa09f9a2a5f347607-IMG_0584.jpeg)
Endang bersyukur, dalam kondisi yang demikian, banyak anggota jemaah yang membantunya. Setiap kali ia keluar hotel, ada saja anggota jemaah yang membantu dirinya walaupun petugas pendamping juga ada.
Terlebih fasilitas bus Shalawat ramah lansia dan disabilitas telah beroperasi. Bus hampir tak pernah berhenti datang dan pergi dengan pemberhentian tepat di depan hotel.
Ibadah haji tak bisa dimungkiri merupakan ibadah fisik. Saat ritual tawaf dan sai, misalnya, mengharuskan jemaah berjalan dan berlari-lari kecil. Dalam aplikasi kesehatan, Kompas mencoba menghitung langkah saat tawaf dan sai dan jumlahnya di atas 10.000 langkah. Saat melontar jumrah, jemaah juga harus berjalan kaki menuju area pelemparan.
Namun, bagi Endang dan suaminya, kenyataan itu tak membuat semangat mereka surut. Berkeliling Kabah di lantai 2 dengan kursi roda tak mengurangi kekhusyukan melafalkan zikir, doa, dan harapan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/846aa4d78533c427e28023fbd41e980e-IMG_1197.jpeg)
Lain lagi Makku (65), anggota jemaah asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Walau tak berkursi roda, kondisi tubuh yang mudah lelah dan renta membuat dia harus lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengelilingi Kabah ataupun melakukan sai.
”Tidak apa lambat, tapi saya bersyukur bisa tawaf dan sai sendiri. Selama di Mekkah, sudah beberapa kali juga saya datang ke Masjidil Haram untuk shalat. Kadang shalat Isya di sana dan saya lanjut shalat malam sampai shalat Subuh. Pulangnya istirahat dan siang shalat di hotel,” katanya.
Memang kelihatannya tidak sebanding, tapi tidak semua anggota jemaah lansia atau disabilitas harus didampingi petugas.
Keberadaan layanan bus Shalawat membuat Makku berusaha mandiri. Saat akan ke Masjidil Haram, cukup berdua atau bertiga, mereka berani jalan tanpa harus didampingi petugas setiap saat.
Toh di seantero Masjidil Haram, ada pos-pos petugas yang dijaga sedikitnya enam orang di setiap pos. Bahkan, petugas yang tak bertugas di Masjidil Haram pun kerap membantu jemaah yang tersasar atau bingung mencari terminal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/cf4e76a02b150cd5430766aa94fbe80d-IMG_1297.jpeg)
Hal ini, misalnya, dilakukan tim Media Center Haji dalam beberapa kali liputan di kawasan Masjidil Haram. Tak jarang tim bahkan mengantar anggota rombongan lansia hingga ke hotel saat bingung mencari bus untuk pulang.
Kepala Bidang Layanan Lansia, Disabilitas, dan Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) PPIH Arab Saudi Suviyanto mengatakan, jemaah haji Indonesia memang cukup banyak yang berusia lanjut. Salah satu penyebab adalah daftar tunggu yang cukup panjang.
Sejumlah anggota jemaah yang ditemui Kompas di hotel-hotel penampungan umumnya berangkat setelah masa tunggu hingga belasan tahun. Makku, misalnya, harus menunggu 15 tahun untuk berangkat. Sementara Endang dan suaminya menunggu 13 tahun. Tidak jarang jemaah berusia lanjut harus dirawat di klinik kesehatan di hotel-hotel hingga rumah sakit setiba di Mekkah akibat kelelahan dalam perjalanan.
Data Bidang Lansia dan Disabilitas PPIH Arab Saudi menunjukkan ada 513 anggota jemaah disabilitas yang terdiri dari 245 laki-laki dan 268 perempuan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/8689550faf264d330e0cd9aa09fa81e8-IMG_1075.jpeg)
Sementara untuk jemaah lansia kategori usia 65-70 tahun jumlahnya 26.408 orang, kategori usia 71-79 tahun berjumlah 14.599 orang, dan usia 80-89 tahun sebanyak 5.958 orang. Adapun usia 90-99 tahun terdapat 411 anggota jemaah dan di atas 100 tahun ada 8 anggota jemaah. Total keseluruhan jemaah lansia adalah 47.384 orang.
Adapun petugas pendamping lansia dan disabilitas jumlahnya 183 orang. Mereka terbagi dalam tiga daerah kerja (daker). Untuk Daker Mekkah jumlahnya 112 orang, Daker Madinah 49 orang, dan Daker Jeddah 14 petugas, serta di Kantor PPIH/Kantor Urusan Haji Mekkah ditempatkan 8 petugas.
Dengan melihat jumlah lansia/jemaah berkebutuhan khusus dan perbandingan dengan petugas, rasio petugas dan jemaah adalah 1:259. ”Memang kelihatannya tidak sebanding, tapi tidak semua jemaah lansia atau disabilitas harus didampingi petugas. Banyak yang juga punya pendamping keluarga atau pendamping kloter,” kata Suviyanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/62e7fffb84dcfd25a63ecd5fd40db36b-IMG_0720.jpeg)
Selain menyiapkan petugas, pihak PPIH Arab Saudi juga menyiapkan kursi roda walau sebagian jemaah membawa sendiri dari Tanah Air. Di setiap sektor disediakan minimal 20 kursi roda untuk jemaah berkebutuhan khusus. Pihak syarikah juga menyediakan lima kursi roda di setiap hotel. Dengan demikian, jemaah lansia yang butuh kursi roda hanya perlu melapor dan didata di kloter atau sektor.
”Setelah terdata, layanan diberikan dengan pengawasan kartu kendali petugas. Nantinya petugas akan mendampingi dari titik awal hingga selesai tawaf dan sai. Biaya layanan resmi kursi roda sebesar 250 riyal ditanggung oleh PPIH Saudi. Layanan ini gratis bagi jemaah, tidak perlu bayar pribadi,” kata Suviyanto.
Namun, layanan ini hanya berlaku untuk pelaksanaan umrah wajib. Jika ada permintaan layanan tambahan, akan menjadi tanggung jawab pribadi jemaah. Ibadah haji ramah lansia dan disabilitas memang menjadi salah satu visi pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/1ee0da84a5ce032be6d562f064759ace-IMG_1088.jpeg)
Pihak Kementerian Agama bahkan mengundang Dante Rigmalia, Ketua Komnas Disabilitas, untuk melihat langsung layanan haji bagi jemaah berkebutuhan khusus. Dante mengatakan, penting untuk membangun perspektif terkait penyandang disabilitas, terutama untuk pemenuhan hak beribadah.
”Tahun ini saya ikut jadi petugas haji dan saya berterima kasih untuk itu. Kehadiran kami tentu bukan sekadar menjadi petugas, melainkan juga untuk melihat langsung bagaimana pelayanan haji bagi penyandang disabilitas. Hasilnya akan menjadi masukan dan bahan diskusi terkait pelayanan haji bagi penyandang disabilitas pada tahun-tahun berikutnya,” katanya.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar