Tewasnya tiga orang dalam hajatan pernikahan anak Gubernur Jawa Barat adalah potret besar dua persoalan utama masyarakat kita.
19 Jul 2025 14:22 WIB · Nasional
MALANG, KOMPAS – Kasus tewasnya tiga orang dalam pesta syukuran pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi potret besar dua persoalan utama masyarakat Indonesia. Kedua persoalan itu ialah ekstremitas dan mesianistik kompleks.
Demikian dikatakan dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada, AB Widyanta, Sabtu (19/7/2025). Menurut dia, dari kasus tersebut, publik bisa melihat wajah ekstremitas di masyarakat Indonesia.
”Itu potret ekstremitas atau kesenjangan lebar antara pejabat publik di mana bisa menggelar pesta besar-besaran dan melakukan flexing, dengan menelan biaya besar. Sementara di sisi lain, ada masyarakat yang hidup dalam kemelaratan yang berharap pada bantuan atau pemberian. Ini bagian dari wajah kita, tentang betapa lebarnya jurang ketimpangan sosial yang terjadi di negeri ini,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/18/8e47021da39748160a166cc2197a0e97-Videoshot_20250718_180153.jpg)
Menurut dia, kasus ini menjadi potret buram pejabat publik yang gencar menyuarakan efisiensi, yang justru tidak melakukan efisiensi, tetapi menggelar hajatan mewah dan meriah. Sementara di satu sisi, rakyat terpesona dengan gemerlap pergelaran pengantin itu.
Menurut Widyanta, dari sana terlihat seolah-olah seluruh sumber daya negeri ini ada pada pejabat publik. Sementara masyarakat harus berbondong-bondong mendapatkan ”sumber daya” itu dari pejabat. ”Padahal, pejabat publik ini yang harus meredistribusi resources ke rakyatnya. Mereka justru harus melayani. Namun, yang terjadi sebaliknya,” ujarnya.
Masyarakat, menurut Widyanta, juga terjebak dalam orkestrasi selebritas dan kultus individu sosok Gubernur Jabar. Menganggap sosok tersebut bisa mengentaskan dari kemelaratan dan persoalan hidup.
”Ini jebakan mesianistik kompleks yang terus berulang. Bahwa pejabat atau sosok itu dikira bisa mengentaskan dari kemiskinan dan kesengsaraan. Namun, sejatinya tidak. Ini hanya bagian dari selebrasi atas kultus individu yang melahirkan fans dan berujung petaka,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/08/b4b5bc478f580de0299c138e86ede1d6-20250608ron07.jpg)
Adapun dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Luluk Dwi Kumalasari, berharap, harus ada evaluasi dan penyelidikan mendalam hingga kejadian di Garut bisa terjadi.
”Bagaimana protokol, perizinan, dan antisipasi panitia, hingga kejadian tersebut bisa menyebabkan korban jiwa. Sebab, sebuah pesta rakyat atau kerumunan pun harus selalu mematuhi aturan. Apakah aturan ini dilaksanakan atau tidak, hingga kasus ini terjadi, itu harus ditegakkan meski penyelenggaranya adalah pejabat publik sekalipun. Ini harus bisa jadi contoh pada masyarakat banyak, untuk mematuhi aturan yang sudah ada,” papar Luluk.
Diberitakan sebelumnya, dua warga dan seorang polisi meninggal dalam acara syukuran pernikahan anak Gubernur Jabar Dedi Mulyadi di Lapangan Otto Iskandar Dinata, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (18/7/2025). Warga berdesak-desakan dalam acara tersebut.
Kegiatan ini merupakan rangkaian acara pernikahan Maula Akbar Mulyadi dan Wakil Bupati Garut Putri Karlina. Maula adalah putra sulung Dedi Mulyadi. Adapun Putri merupakan anak dari Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Maryoto.
Sebelumnya, Maula dan Putri telah melaksanakan ijab kabul pada Kamis (17/7/2025). Dalam acara di Lapangan Otto Iskandar Dinata pada Jumat, warga dapat menikmati aneka makanan gratis.
Warga yang datang ke acara ini kemudian berdesak-desakan sekitar pukul 13.00 WIB. Dalam video yang beredar di media sosial, warga dari berbagai kalangan usia tak bisa bergerak. Ada warga yang terinjak, hingga kemudian didapati ada tiga orang tewas dalam pesta yang berujung duka itu.
Penulis:
Dahlia IrawatiEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul