Dari zaman Sriwijaya, modernisasi Raja Chulalongkorn awal 1900-an, hingga era mobil listrik, Indonesia-Thailand berhubungan erat dan selalu tumbuh bersama.
25 Feb 2025 18:37 WIB · Internasional
Hubungan resmi Indonesia-Thailand memasuki 75 tahun pada 2025. Namun, sejatinya hubungan tersebut sudah berjalan seribu tahun lebih dengan penuh persaudaraan.
Duta Besar Thailand untuk Indonesia Prapan Disyatat, saat ditemui di Kedutaan Besar Thailand di Jakarta, Senin (24/2/2025), mengatakan, hubungan Indonesia-Thailand jauh lebih lama dari peringatan 75 tahun.
”Sejak zaman Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, dan sejumlah dinasti di Thailand (ketika itu Siam), (hubungan itu) terus berjalan baik,” ujar Prapan.
Ia merujuk pada periode Sriwijaya 600-1000 Masehi ketika hubungan Sumatera dan Siam terjalin erat. Keramik dari era Kerajaan Sukhothai (1238-1438 Masehi) banyak ditemukan di Indonesia.
Prapan menambahkan, pada zaman Raja Phra Narai, keberadaan prajurit Bugis di Istana Raja di Ayutthaya juga dicatat dalam sejarah Siam. ”Itu sebabnya, ada daerah bernama Makassan (dari asal kata Makassar),” kata Prapan, yang pernah bertugas di Amerika Serikat dan Korea Selatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/24/658139c8-fd48-4c32-82c9-e11b21bcad9a.jpg)
Raja Phra Narai yang berkuasa tahun 1656-1688 memiliki pasukan pengawal raja dan panglima dari Sulawesi Selatan, Daeng Mangalle, dan pasukan dari Eropa. Selanjutnya, pada zaman modernisasi Siam akhir 1800-an, Raja Chulalongkorn atau Rama V dari Dinasti Chakri, menurut Prapan, tiga kali berkunjung ke Jawa.
Thailand modern hari ini, pembangunan jalan kereta api, serta pertanian dan perkebunan modern adalah hasil dari mengkaji kemajuan Pulau Jawa pada zaman kolonial tersebut. Hubungan baik pun terjalin antara Raja Chulalongkorn dan para raja Jawa serta Kanjeng Gusti Adipati (Mangkunegara dan Paku Alam) di Surakarta dan Yogyakarta.
Prapan menambahkan, dalam waktu dekat Kedutaan Besar Thailand akan meresmikan renovasi pesanggrahan Raja Rama V dan Raja Rama VII di Air Terjun Maribaya, Dago, Kota Bandung, Jawa Barat.
Hasil dari kajian ke Jawa, Thailand membangun kanal-kanal modern dan saluran irigasi yang menjadikan Thailand salah satu lumbung padi Asia Tenggara. Tidak hanya insinyur Belanda, para pekerja dan pengawas dari Jawa juga didatangkan ketika itu.
Salah satu peninggalannya adalah Masjid Jawa di Kota Bangkok berikut komunitas keturunan Jawa yang melebur di masyarakat metropolitan Bangkok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/22/93f436e2-65de-46a0-8c27-7692cae84517_jpeg.jpg)
Pada era modern saat ini, Indonesia-Thailand berurutan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dan nomor dua di ASEAN. Prapan mengatakan, Indonesia menjadi mitra dagang nomor 10 Thailand dan sebaliknya Thailand menjadi mitra dagang nomor 5 bagi Indonesia. Tercatat pada 2024 neraca perdagangan Indonesia-Thailand membukukan 18 miliar dollar AS.
Populasi Thailand sebesar 71 juta jiwa (tahun 2023) dan populasi Indonesia 281 juta jiwa (tahun 2023) dengan dominasi angkatan muda adalah pasar potensial dan menjanjikan pertumbuhan bersama kedua negara.
Kedekatan geografis pun membuat Indonesia-Thailand sering menghadapi permasalahan sama, seperti tsunami Aceh tahun 2004 yang juga menghancurkan sebagian Phuket, Thailand. Krisis keuangan tahun 1997 juga dialami Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia.
Kerja sama tanggap bencana dan keamanan keuangan (financial security) pun tumbuh dari pengalaman masalah bersama tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/78a7afdf37458ec167dcf1f70364e1a0-AP24361133873501.jpg)
Menghadapi multilateralisme dunia saat ini, ketika Amerika Serikat lebih mengutamakan diri sendiri dan China berkembang sebagai kekuatan kawasan, Prapan berharap negara-negara menengah seperti Indonesia dan Thailand merapatkan barisan untuk menjaga kepentingan pertumbuhan dan stabilitas kawasan.
Saat ini, tutur Prapan, Thailand dan Indonesia sedang merevitalisasi hubungan. Salah satunya melalui Komisi Bersama (Joint Commission/JC) yang menggelar pertemuan tingkat tinggi. Tahun ini, Thailand akan menjadi tuan rumah JC Indo-Thai.
Komisi Bersama itu mencakup semua bidang kerja sama, terutama membuat rencana aksi dalam 5-10 tahun ke depan. Sektor ekonomi menjadi tumpuan utama demi pertumbuhan dua negara. Dukungan politik para pemimpin dan dukungan banyak pihak sangat menentukan dalam menjabarkan rencana aksi Indo-Thai.
Sisi seni budaya sebagai ciri khas dua negara dengan peradaban tua juga diperhatikan melalui pekan musik, film, hingga promosi kuliner Thailand. Pariwisata Thailand, lanjutnya, tahun lalu tumbuh dengan kedatangan 35 juta wisatawan, sebanyak 870.000 orang di antaranya berasal dari Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/11/FILES-THAILAND-HEALTH-VIRUS-TRAVEL-TOURISM_99941495_1636645675.jpg)
Sementara bagi warga Thailand, nama Pulau Bali, Gunung Bromo, situs menyelam, hingga Candi Borobudur melekat di hati dan pikiran orang Thai sebagai tempat wisata dan ziarah.
Salah satu sinyal positif adalah kelanjutan ziarah para biksu Thailand yang berjalan kaki dari Thailand ke Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, dalam rangka perayaan Waisak di Candi Borobudur. Prapan mengatakan, jika saja ada penerbangan langsung Bangkok-Yogyakarta, tentu wisatawan religi Buddhis dari Thailand ke Indonesia akan turut tumbuh.
Selama ini, wisata religi Buddhis Thailand lebih banyak berkunjung ke India dan Nepal yang merupakan situs tradisional Buddha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/07/06/af48a9f5-e145-4362-888a-d941ccf38458.jpeg)
Saat ini Thailand, menyusul Indonesia, juga sedang membangun jaringan kereta cepat yang menghubungkan Bangkok-Nakhon Ratchasima (Korat) dan Nong Khai di perbatasan Laos. Jalur tersebut akan terhubung dengan jalur KA Pan Asia dari Beijing-Kunming di Yunnan yang sudah tersambung ke Luang Prabang-Vientiane di Laos.
Prapan menilai, sangat mungkin Thailand bekerja sama dengan tenaga-tenaga ahli Indonesia yang mengkaji kereta cepat di perguruan tinggi di Bandung dan Yogyakarta.
Dia mengatakan, pengembangan ekspor-impor dari Indonesia-Thailand ke China dan juga penggunaan jalur kereta api China-Eropa sangat mungkin dilakukan jika jalur KA Thailand-Laos-China sudah tersambung. Jalur tersebut akan dikembangkan ke selatan menyambung ke Malaysia dan Singapura.
Terkait mobil listrik, Thailand sudah menjadi basis produksi pabrikan merek BYD dan Great Wall asal China. Bahkan, pabrikan Jerman, BMW, sedang mengembangkan mobil listrik (electric vehicle/EV) di Thailand. Sementara Hyundai dan China Automotive Tech and Research Center (CATARC) membangun pusat riset mobil listrik di Thailand. Selama ini, Thailand menjadi basis pabrikan mobil mesin bakar asal Jepang.
Investor Thailand percaya dapat bekerja sama dan tumbuh bersama dengan Indonesia. Pasokan nikel dan baterai EV menjadi salah satu hal penting.
Prapan menyebutkan, meski tidak memiliki nikel—sebagian besar berasal dari Indonesia dan Filipina—Thailand bisa mengembangkan kerja sama dalam rantai pasok, semisal industri baterai mobil listrik. Dia menambahkan, ada investor Taiwan berbasis di Thailand yang sedang mengembangkan pabrik baterai mobil listrik di Indonesia.
Investor Thailand percaya dapat bekerja sama dan tumbuh bersama dengan Indonesia. Pasokan nikel dan baterai EV menjadi salah satu hal penting.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/11/5284e48d3729e6c408565ad30ad79526-cropped_image.png)
Di sisi lain, investor Thailand seperti grup Banpu yang selama ini terlibat dalam pertambangan batubara kini ikut aktif dalam program energi ramah lingkungan Indonesia dengan mengembangkan industri panel surya di Indonesia.
Selain itu, Thailand siap mendukung program ketahanan pangan pemerintahan Prabowo-Gibran. Salah satu kekuatan ekonomi Thailand adalah sektor agrikultur. Namun, menurut Prapan, ada sejumlah kendala terkait perizinan bagi produk pangan dan buah Thailand ke Indonesia.
Yang terakhir, kata Prapan, adalah wisata medis yang berpotensi bagi pasar Indonesia. ”Daripada berobat ke Singapura yang semakin mahal, banyak orang Eropa berobat ke Thailand. Bahkan, Uni Emirat Arab secara khusus mengirim ASN ke Thailand untuk pemeriksaan medis (medical check up) tiap tahun,” ujarnya.
Berbagai bidang tersebut dapat dikembangkan di tingkat hubungan antarwarga (people-to-people), di samping kerja sama-kerja sama strategis lainnya. Pendek kata, Indonesia-Thailand ingin tumbuh bersama.
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Muhammad Samsul Hadi