Kekalahan telak 0-7 di Kejuaraan ASEAN Putri 2025 hanya mempertegas perbedaan level ”Garuda Pertiwi” dengan Thailand. Ajang ini adalah ujian sesungguhnya Indonesia.
07 Agt 2025 09:08 WIB · Olahraga
HAI PHONG, RABU — Kekalahan telak 0-7 dari Thailand di Kejuaraan ASEAN Putri 2025 hanya mempertegas perbedaan level timnas sepak bola putri Indonesia dengan tim ”kasta” pertama Asia Tenggara. Jurang disparitas begitu memisahkan Indonesia dan Thailand pada turnamen yang jadi ujian sesungguhnya ”Garuda Pertiwi” ini.
Indonesia mengawali penampilan di Kejuaraan ASEAN Putri 2025 dengan kekalahan telak 0-7 dari Thailand dalam pertandingan Grup A di Stadion Lach Tray, Hai Phong, Vietnam, Rabu (6/8/2025). Datang sebagai juara Piala AFF Putri, turnamen ”kasta” kedua yang jadi kualifikasi ke Kejuaraan ASEAN Putri, Indonesia harus mengakui bahwa Thailand masih terlalu tangguh bagi mereka.
Kejuaraan ASEAN Putri, yang diikuti delapan tim, adalah tantangan sesungguhnya bagi Indonesia. Sebab, di ajang inilah, delapan tim terbaik Asia Tenggara bersaing. Tiga di antaranya bahkan sudah tampil di Piala Dunia, yakni Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Thailand boleh saja datang dengan kondisi terluka setelah untuk pertama kalinya sejak 1997 gagal menembus Piala Asia 2026. Kegagalan itu baru saja mereka rasakan bulan lalu saat dijegal India pada laga terakhir kualifikasi. Alhasil, mereka juga dipastikan tidak akan bisa berlaga di Piala Dunia Putri 2027.
Di Kejuaraan ASEAN Putri, Thailand pun tidak menurunkan tim terbaik karena beberapa pemain yang berkarier di luar negeri tidak ikut serta. Kejuaraan ASEAN Putri tidak berada dalam kalender resmi FIFA sehingga klub tidak punya kewajiban melepas pemainnya.
Walakin, ditambah dalam beberapa tahun terakhir prestasi mereka cenderung menurun, Thailand tetaplah Thailand. Tim ”Gajah Betina” masih menjadi salah satu raksasa sepak bola putri di Asia Tenggara.
Ketika Indonesia masih ”merangkak” di Asia Tenggara, Thailand sudah berlari hingga Piala Dunia. Mereka pernah mencicipi tampil di Piala Dunia Putri 2015 dan 2019.
Thailand pun datang ke Kejuaraan ASEAN Putri, yang dulu bernama Kejuaraan AFF Putri, sebagai pengoleksi gelar terbanyak. Thailand jadi tim tersukses dengan empat gelar juara pada 2011, 2015, 2016, dan 2018.
Jarak peringkat dunia antara Thailand Indonesia pun terpaut jauh. Thailand bertengger di posisi 46, sedangkan ”Garuda Pertiwi” menempati peringkat ke-95.
Secara rekor pertemuan, Thailand juga dominan. Dari lima pertandingan terakhir sejak 2015, mereka selalu menaklukkan ”Garuda Pertiwi” dengan selisih minimal tiga gol. Satu dekade lalu, mereka bahkan mengalahkan Indonesia 10-1 pada Piala AFF Putri 2015.
Semua keunggulan itu bukan hanya angka di atas kertas, tetapi juga terwujud di lapangan ketika keduanya kembali bertemu pada Rabu (6/8/2025). Thailand mendominasi sejak babak pertama, menggempur pertahanan Indonesia dengan serangan bertubi-tubi.
Sepanjang laga, mereka total melepaskan 29 tembakan. Situasi berbeda dengan Indonesia yang tak mampu melepaskan satu tembakan pun, baik tepat sasaran maupun tidak.
”Tentu sangat mengecewakan meski kami tahu kekuatan Thailand cukup bagus, mereka memang layak menang,” ujar pelatih interim timnas putri, Joko Susilo.
”Kami sangat kecewa dengan kekalahan 0-7 ini yang sebetulnya bisa tidak sampai segitu jika anak-anak (bermain) lebih tenang lagi,” ucapnya menambahkan.
Indonesia memang datang ke Kejuaraan ASEAN Putri dalam kondisi tidak ideal. Menjelang turnamen, PSSI mengganti Pelatih Satoru Mochizuki dan menunjuk Joko Susilo sebagai pelatih sementara.
Baik sebagai pemain maupun pelatih, Joko telah malang-melintang di sepak bola Tanah Air. Selain pernah melatih beberapa klub, Joko juga pernah menjadi asisten pelatih timnas Indonesia pada 2019.
Namun, jika dibandingkan dengan Mochizuki, Joko tak punya pengalaman profesional melatih pemain putri, apalagi pada level timnas. Mochizuki, yang tugasnya diganti menjadi penasihat teknik timnas putri, adalah bagian dari tim kepelatihan Jepang yang menjuarai Piala Dunia Putri 2011.
Skuad timnas putri juga berbeda dengan komposisi ketika bermain di kualifikasi. Meski itu berarti memberi kesempatan nama-nama lain masuk ke tim, perubahan juga membuat tim harus kembali penyesuaian.
Dengan kekalahan dari Thailand, tugas berat menanti Joko Susilo untuk membawa Indonesia ke semifinal. Pada tiap grup hanya dua tim teratas yang bisa melangkah ke babak gugur itu.
Indonesia, yang berada di Grup A bersama Thailand, Kamboja, dan tuan rumah Vietnam, saat ini menempati posisi juru kunci klasemen dengan 0 poin. Kamboja juga nirpoin setelah kalah 0-6 dari Thailand, tetapi posisinya lebih baik karena unggul selisih gol.
Pada laga selanjutnya, Sabtu (9/8/2025), Indonesia akan berhadapan dengan tuan rumah. Vivi Oktavia Riski dan kawan-kawan bakal menghadapi Kamboja pada pertandingan terakhir fase grup, Selasa (12/8/2025).
Sementara tim senior kalah, tim putri U-20 meraih hasil imbang dalam laga perdana di Kualifikasi Piala Asia Putri U-20 2025 melawan India. Pertandingan Grup D yang berlangsung di Stadion Thuwunna, Yangon, Myanmar, Rabu (6/8/2025), itu berakhir dengan skor 0-0.
Dengan hasil imbang ini, tim putri U-20 meraih poin pertama pada ajang tersebut. Meski tidak berhasil menang, keberhasilan menahan imbang India adalah pencapaian yang patut diapresiasi. India merupakan lawan terkuat di Grup D yang juga diisi Myanmar dan Turkmenistan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/07/961e9835cd38e411ffc7ca5fb06713f1-MEDIA_2.png)
India tidak hanya punya rekam jejak bagus dengan tampil di Piala Asia Putri dalam tiga edisi pada 2002, 2004, dan 2006, mereka juga bahkan pernah menembus babak perempat final pada penampilan keduanya. Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang tak pernah lolos sama sekali ke ajang yang sama sejak edisi perdana tahun 2002.
”Saya kira ini (hasil) luar biasa. Kami meraih poin pertama secara bersama-sama sebagai tim. Namun, ini bukan target akhir di sini. Masih ada dua pertandingan dan kami akan persiapan lagi,” ujar pelatih tim putri U-20, Akira Higashiyama.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto