Ledakan Ranjau Hentikan Kesepakatan Damai Thailand-Kamboja

Kedua negara baru menandatangani perjanjian damai pada akhir Oktober 2025. Relasi mereka kembali memanas, memunculkan kekhawatiran konflik bersenjata baru.

11 Nov 2025 12:01 WIB · Internasional

AFP

Oleh Irene Sarwindaningrum

BANGKOK, SELASA — Thailand menangguhkan pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dengan Kamboja setelah ledakan ranjau di perbatasan melukai prajuritnya. Keputusan itu kembali memanaskan hubungan dua negara yang baru menandatangani kesepakatan damai akhir Oktober 2025.

Angkatan Darat Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau baru di wilayah Thailand, melanggar perjanjian damai yang baru ditandatangani. Juru bicara militer Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvaree, mengatakan, tim forensik menemukan kawah ledakan berdiameter 55 sentimeter (cm) dengan kedalaman 18 cm, pecahan ranjau PMN-2, serta tiga ranjau tambahan sekitar 1 meter dari titik ledak. Lokasinya di dekat aliran Huai Ta Maria, Distrik Kantharalak, Provinsi Si Sa Ket.

”Bukti ini menunjukkan penyusup mengangkat kawat berduri dan menanam ranjau di wilayah Thailand. Tindakan ini menunjukkan ketidaktulusan Kamboja dan melanggar deklarasi bersama,” ujar Winthai, seperti dilaporkan Bangkok Post, Selasa (11/11/2025).

In this photo released by Royal Thai Army, two Thai soldiers injured by a landmine during a patrol near the Thai-Cambodia border are treated as they are to be transferred to a hospital in Sisaket province, Thailand, Monday, Nov. 10, 2025. (Royal Thai Army via AP)

Thailand mengumumkan penangguhan gencatan senjata itu pada Senin setelah ledakan terjadi. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengatakan, Thailand sempat mengira ancaman terhadap keamanan nasional telah mereda, tetapi ternyata tidak berkurang. Ia menegaskan, seluruh langkah dalam kerangka kesepakatan damai akan dihentikan sampai ada kejelasan.

Juru bicara Pemerintah Thailand, Siripong Angkasakulkiat, menjelaskan, kebijakan ini berarti penghentian tindak lanjut atas Deklarasi Bersama yang diteken di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ledakan ranjau melukai empat prajurit Thailand. Sersan Satu Therdsak Samaphong kehilangan kaki kanan, prajurit Watchira Thantana menderita nyeri dada dan trauma internal, prajurit Apirak Srichomchai terluka di kaki, dan Prajurit Anucha Sujaree terkena bahan kimia peledak di mata.

Dalam akun resmi militer Thailand disebutkan, Panglima Tertinggi Jenderal Ukris Boontanondha menyatakan menghentikan semua kesepakatan sampai Kamboja menunjukkan ketulusan untuk tidak bermusuhan.

Media The Nation Thailand melaporkan adanya rencana Bangkok melayangkan protes resmi kepada Tim Pengamat Sementara ASEAN (IOT) terkait insiden itu. Media itu juga melaporkan adanya 4-5 tembakan di dekat Prasat Ta Muen Thom, Surin. Klaim ini belum ditanggapi Phnom Penh.

This handout photo taken and released by the Royal Thai Army on November 10, 2025 shows Thai army and police on patrol searching for landmines in Sisasket Province along the Cambodia-Thailand border. Thailand announced on November 10 it was suspending the implementation of a peace agreement with neighbouring Cambodia after a landmine blast injured two Thai soldiers near the border. (Photo by Handout / ROYAL THAI ARMY / AFP) / -----EDITORS NOTE --- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  ROYAL THAI ARMY " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Tanggapan Kamboja

Pemerintah Kamboja mengeluarkan bantahan keras terhadap keputusan Thailand menangguhkan deklarasi bersama. Pnom Penh juga menyangkal tuduhan menanam ranjau di kawasan Phnom Trop, dekat Candi Preah Vihear yang menjadi titik panas sengketa perbatasan kedua negara.

”Kamboja tidak pernah menggunakan ranjau baru dan tidak akan pernah melakukannya,” demikian pernyataan Pemerintah Kamboja yang dikutip media Khmer Times.

Pnom Penh juga menegaskan komitmen terhadap Konvensi Larangan Ranjau Antipersonel. Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Kamboja menyebutkan, wilayah perbatasan masih dipenuhi sisa ranjau konflik 1970-1980. Medan terjal membuat banyak area belum dapat dibersihkan.

Pemerintah Kamboja menilai langkah Thailand tidak proporsional. Hal ini mengingat deklarasi bersama kedua negara merupakan tonggak diplomasi regional yang mendapat dukungan luas internasional.

(FILES) Cambodia's Prime Minister Hun Manet (R) and Thailand's Prime Minister Anutin Charnvirakul (L) listen to US President Donald Trump speak ahead of a ceremonial signing of a ceasefire agreement on the sidelines of the 47th Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Summit in Kuala Lumpur on October 26, 2025. Thailand announced it was suspending the implementation of a peace agreement overseen by US President Donald Trump on November 10, 2025, after a landmine blast wounded two Thai soldiers on patrol near the border with Cambodia. (Photo by ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP)

Deklarasi bersama Thailand-Kamboja ditandatangani pada 26 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, disaksikan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN. ”Kamboja prihatin atas penangguhan sepihak Thailand. Deklarasi itu menandai babak baru dalam hubungan regional,” demikian pernyataan Kamboja.

Kamboja menyatakan komitmen menjalankan isi perjanjian, termasuk penarikan senjata berat dan pembebasan 18 prajurit Kamboja yang ditahan di Thailand.

Selain dimediasi Trump, kesepakatan damai itu juga mendapat dukungan diplomatik dari China. Trump sempat mengancam mencabut hak istimewa dagang apabila kedua negara gagal sepakat.

Sengketa perbatasan Thailand-Kamboja telah berlangsung lebih dari satu abad. Pertikaian bersenjata Thailand-Kamboja terakhir terjadi pada Juli 2025 dan berlangsung selama lima hari. Kantor berita AFP mencatat sedikitnya 43 orang tewas, sedangkan Reuters melaporkan 48 korban jiwa dan 300.000 orang mengungsi.

Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 29 Juli 2025, situasi relatif tenang, tetapi saling tuduh pelanggaran masih terjadi. Para pengamat menilai, pakta damai komprehensif untuk menyelesaikan sengketa perbatasan Kamboja-Thailand masih sulit tercapai dalam waktu dekat.

(AFP/AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto