Investor asing menanti kebijakan suku bunga BI pekan depan.
11 Des 2025 15:13 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, Rabu (10/12/2025), belum akan mendorong investor asing masuk ke pasar saham Indonesia. Meski demikian, pasar saham domestik masih berpotensi melanjutkan pertumbuhan positif, salah satunya ditopang efek aksi pembelian saham oleh sejumlah emiten.
The Federal Reserve (The Fed) resmi memangkas suku bunga acuan di AS sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,5-3,75 persen. Pemangkasan suku bunga acuan ini sudah ketiga kalinya dilakukan pada 2025 dengan total pemangkasan 75 basis poin. Sementara indeks dollar AS turun ke level 98,6 atau turun 1 persen dalam sebulan terakhir.
Secara teori, perkembangan ini akan membuat investor asing yang bercokol di pasar keuangan AS beralih ke aset di pasar keuangan yang lebih menarik. Pasar keuangan di negara berkembang, seperti Indonesia, bisa menjadi sasarannya.
Namun, pengamat pasar modal Reydi Octa, saat dihubungi Kompas, Kamis (11/12/2025), menilai kebijakan baru yang berlaku di AS ini belum berimbas langsung secara positif di Indonesia. Ini terlihat dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,31 persen dari level pembukaan 8.764 pada penutupan perdagangan sesi satu Kamis ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/25397da5b6ab2cbec62e4c6bcab58174-1000350457.jpg)
Arus masuk investor asing pun fluktuatif. Pada perdagangan Rabu kemarin, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 43 miliar setelah beberapa hari di pekan ini lebih banyak melakukan pembelian saham (net buy).
Reydi berpendapat, investor asing masih akan menunggu efek dari pemangkasan suku bunga The Fed pada pekan depan sembari menunggu pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI). Ia memprediksi BI akan kembali menurunkan suku bunga acuan pekan depan.
Investor asing masih akan menunggu efek dari pemangkasan suku bunga The Fed pada pekan depan sembari menunggu pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI).
Pada November 2025, BI menjaga suku bunga di level 4,75 persen untuk menjaga arus modal asing. Pemangkasan suku bunga The Fed membuat celah antara tingkat suku bunga BI melebar.
”Investor asing masih berhati-hati. Dua minggu ini asing masuknya (ke pasar saham domestik) tidak konsisten, jadi bercampur antara net buy dan net sell. Mereka butuh kepastian lebih lanjut dari sentimen makroekonomi. Investor asing akan tertarik dengan IHSG apabila outlook ekonomi domestik bisa stabil dan imbal hasil untuk treasury AS (obligasi pemerintah) terus turun,” paparnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/07/1945b597c50a3640ff132504676c2f51-Screenshot_2025_09_07_182023.png)
Sementara kondisi ekonomi belum mendukung, Reydi menilai, valuasi saham di IHSG, terutama saham berkapitalisasi besar, masih atraktif untuk dibeli.
Saat ini, rata-rata indikator harga saham dengan laba per saham (EPS atau P/E) cenderung di bawah rata-rata periode lima tahun terakhir. ”Jadi, masih ada ruang untuk penguatan,” katanya.
Potensi penguatan valuasi saham, menurut dia, telah diupayakan dengan aksi pembelian kembali saham publik oleh perusahaan atau disebut buyback. Di pasar saham Indonesia, beberapa emiten besar dengan fundamental baik (blue chip) telah melakukan buyback karena saham mereka dinilai terlampau rendah.
Head of Equity Research & Strategy Division Mandiri Sekuritas Adrian Joezer, di Jakarta, Selasa (9/12/2025), menuturkan bahwa hingga akhir Oktober 2025 terdapat 93 perusahaan terbuka atau emiten yang telah melakukan aksi buyback saham.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/6ddf9e6a97f1afe3545565a75314567f-20251209_105409.jpg)
Jumlah tersebut melampaui periode agresif sebelumnya pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020. Saat itu terdapat 73 perusahaan yang melakukan buyback.
”Perusahaan melihat valuasi saat ini masih rendah, sementara kondisi balance sheet sehat. Alih-alih ekspansi ketika pendapatan belum tumbuh pesat, mereka memilih membeli saham sendiri,” kata Adrian dalam paparannya terkait Economic and Market Outlook 2026.
Buyback umumnya dilakukan ketika manajemen merasa valuasi saham perusahaan berada di level rendah. Sementara prospek bisnis masih kuat. Pada Maret 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan aturan yang mengizinkan buyback dilakukan tanpa rapat umum pemegang saham (RUPS).
Aturan ini keluar bersamaan dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke angka 6.000 pada Maret 2025 dari posisi sekitar 7.200 pada awal 2025. Kini, IHSG sudah dalam tren naik di level 8.700.
Adrian menilai, agresivitas buyback ikut mengecilkan peluang koreksi pasar. Fenomena tersebut juga terjadi pada 2020 dan 2022, ketika IHSG mencatatkan penguatan pada tahun-tahun berikutnya setelah periode buyback besar-besaran oleh para emiten.
Kenaikan harga saham akibat buyback secara mekanisme juga menaikkan angka EPS. Mandiri Sekuritas memperkirakan pertumbuhan EPS sudah berada di titik terendah pada triwulan III-2025. Dengan demikian, triwulan IV diproyeksikan menjadi titik balik (inflection point) menuju pemulihan kinerja emiten pada 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/217a7fe32d5ca287f6c50a624c4dc57b-1000350472.jpg)
Pemulihan valuasi tersebut diharapkan juga mendorong minat investor asing masuk ke pasar saham, didorong pemulihan ekonomi yang diikuti efek kebijakan suku bunga bank sentral. Total net sell asing di pasar saham sejak awal 2025 hingga hari ini mengecil menjadi Rp 27,6 triliun dibandingkan September senilai Rp 41,8 triliun.
”Bulan November sudah terjadi inflow dan sampai dua pekan terakhir Desember ini juga masih berlanjut. Jadi, tren perbaikan sudah terlihat,” ujarnya.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana pada kesempatan sama juga menyampaikan bahwa IHSG sudah sekitar 20 kali menyentuh level tertingginya sepanjang 2025. Dengan dinamika tersebut, ia menilai pencapaian IHSG menuju 9.000 bukan sesuatu yang jauh.
”Kalau bisa mencapai 9.000, itu just a matter of time. Kita lihat saja, sudah sekitar 20 kali IHSG menyentuh titik tertinggi,” katanya.
Menurut dia, kekuatan transaksi investor ritel yang tetap tinggi menjadi penopang utama pasar. Nilai transaksi harian dari ritel disebut ”cukup kencang”, menunjukkan minat masyarakat yang terus meningkat terhadap instrumen saham.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti