Keputusan The Fed menahan suku bunga dan langkah ”double hike” BI menjadi ramuan efektif meredam gejolak nilai tukar rupiah.
18 Jun 2026 12:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Heryunanto
Keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menahan suku bunga ditambah kebijakan agresif Bank Indonesia akan membawa kurs rupiah ke arah penguatan yang moderat. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kepercayaan investor sekaligus memperkuat kredibilitas ekonomi domestik.
The Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga acuan pada level 3,5-3,75 persen. Keputusan yang diumumkan pada Kamis (18/6/2026) dini hari tersebut diambil pasca-pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Keputusan menahan suku bunga acuan saat ini mempertimbangkan inflasi di AS yang masih berada dalam kisaran target bank sentral. Meski demikian, The Fed mensinyalkan kemungkinan peningkatan suku bunga (hawkish) jika tren inflasi terus naik hingga melampaui target. The Fed juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/b2b5820d031854028befa79b35c3034a-20260618_DMS_Imbal_Hasil_BI_rate_dan_Fed_1_mumed.png)
Langkah The Fed menahan suku bunga tampaknya sudah terbaca oleh Bank Indonesia (BI). Hal ini tecermin dari Keputusan BI meningkatkan suku bunga sebanyak dua kali dalam waktu berdekatan atau double hike. Sebagai langkah pencegahan, BI menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Selasa (9/6/2026), setelah sebelumnya naik 50 basis poin pada Mei 2026.
Menilik kondisi makroekonomi hingga Mei 2026, inflasi di AS tercatat 4,17 persen atau di atas target inflasi 2 persen. Inflasi yang sulit turun (sticky inflation) dipengaruhi berbagai faktor, seperti tingginya biaya sewa tempat tinggal dan kuatnya tekanan di sektor jasa. Hal ini menyebabkan ekspektasi inflasi masyarakat perkotaan AS tertanam di level tinggi sehingga mempersempit kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Saat ini tren inflasi tinggi di AS justru dibarengi dengan pasar tenaga kerja dalam negeri yang sedang positif. Salah satunya tecermin dalam upah tenaga kerja bukan petani (non-farm payrolls) serta tingkat pengangguran yang bertahan di level rendah sehingga mengindikasikan daya beli masyarakat AS belum benar-benar melandai.
Secara makro, pasar tenaga kerja yang terlalu ketat berisiko memicu lingkaran setan upah-harga. Artinya, perusahaan terus menaikkan upah untuk menarik pekerja, yang kemudian akan dibebankan kembali pada harga jual produk ke konsumen. Oleh karena itu, kombinasi inflasi yang terus membandel diperkuat pasar tenaga kerja yang ketat, menyinyalir arah kebijakan The Fed yang cenderung hawkish.
Meski demikian, BI harus siap dengan setiap keputusan The Fed, apalagi sinyal hawkish untuk menaikkan suku bunga acuan pada paruh kedua 2026 terus menguat. Secara historis, kebijakan peningkatan suku bunga AS kerap menyebabkan arus modal global keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini karena sikap hawkish The Fed akan menyebabkan selisih imbah hasil semakin menyempit, yang berujung penarikan dana dari pasar obligasi dan pasar saham dalam negeri.
Langkah double hike BI berdampak pada melebarnya selisih imbal hasil (differential yield) surat utang Indonesia terhadap suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 175 bps. Kondisi ini menyiratkan BI yang tengah mempertebal imbal hasil tambahan (risk premium) agar investor global tetap menyimpan dananya di aset domestik, baik berupa Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ataupun Surat Berharga Negara (SBN).
Langkah preventif BI menaikkan suku bunga juga memberikan ruang napas bagi pasar keuangan domestik. Demi mematahkan ekspektasi spekulan, BI memilih membayar biaya di muka. Selisih imbal hasil yang cukup menarik kini berperan sebagai bantalan atau cushioning untuk meredam potensi arus modal keluar. Bantalan moneter berlapis ini krusial untuk menahan kurs rupiah agar tidak terlempar dari fundamentalnya.
Keputusan The Fed menahan suku bunga membuat langkah pencegahan oleh BI cukup efektif meredam gejolak rupiah. Hasil dari transmisi kebijakan moneter ini diperkirakan mengembalikan rupiah ke jalur menguatan secara moderat ke kisaran 0,4 persen pada Agustus atau pada bulan ketiga. Estimasi penguatan rupiah diperoleh dari perhitungan data bulanan sepuluh tahun terakhir dengan pendekatan model vector autoregression (VAR).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/c09201f4d1a12e26356150d8de034dba-20260618_DMS_Imbal_Hasil_BI_rate_dan_Fed_2_mumed.png)
Meski begitu, peluang The Fed mengurungkan rencana pemangkasan suku bunganya masih terbuka hingga akhir tahun. Skenario buruk ini membayangi jika inflasi AS masih membandel dan pasar tenaga kerja melemah di tengah ketidakpastian gejolak geopolitik. Kendati kejutan ini berisiko menekan kurs rupiah, efek kumulatif dari bantalan imbal hasil 175 bps diperkirakan masih sanggup meredam volatilitas rupiah.
Adapun bila seandainya The Fed mengambil langkah dovish dengan menurunkan suku bunganya, langkah dual pre-emptive BI berbalik menjadi angin segar. Sentimen positif dari pelonggaran moneter AS akan berhadapan dengan tingginya imbal hasil sehingga memicu arus modal masuk yang masif ke pasar keuangan domestik. Dengan skenario ini, rupiah diproyeksikan mencetak apresiasi sebelum mencapai level keseimbangan baru.
Di sisi lain, sikap BI menerapkan kebijakan preventif diperlukan untuk memulihkan kredibilitas moneter domestik di mata investor global sekaligus meredam gejolak AS. Tanpa sinyal pertahanan yang agresif, modal asing akan melihat Indonesia rentan terhadap guncangan eksternal, yang akhirnya memicu aksi jual massal pada aset portofolio.
BI juga perlu mengupayakan kepastian jaminan stabilitas nilai tukar yang dikawal ketat sehingga memberikan rasa aman bagi investor untuk tetap memarkirkan dananya di dalam negeri. Lebih lanjut, dalam pemodelan yang sama, ketegasan BI berhasil mendapatkan respons positif jangka panjang dari pasar modal domestik.
Respons positif tersebut tampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (Jakarta Composite Index/JCI) meski harus melewati fase koreksi transitoris –1 hingga -4 persen di Mei ke Juli akibat pengetatan likuiditas instan. Namun, memasuki Agustus, tekanan tersebut berangsur mereda dan mencapai keseimbangan baru di seluruh skenario pemodelan Litbang Kompas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/d9c85846304051cec90c3f5a953af878-20260618_DMS_Imbal_Hasil_BI_rate_dan_Fed_3_mumed.png)
Meski demikian, ruang napas pada sektor keuangan ini harus dibayar mahal oleh kontraksi pada sektor riil. Keberhasilan meredam spekulasi mata uang asing memaksa ekonomi domestik membayarnya dengan menanggung perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ini merupakan dilema atau trade-off klasik kebijakan moneter. Demi menyelamatkan dompet finansial negara, mesin produksi domestik terpaksa harus memperlambat lajunya.
Baik di sisi produsen maupun konsumen terpaksa mereorientasi belanja saat suku bunga sedang tinggi. Ekspansi di sektor usaha tertunda akibat tingginya leverage utang bank. Sentimen defensif ini menular pada rumah tangga untuk mengetatkan ikat pinggang, menahan konsumsi barang tahan lama, dan memprioritaskan tabungan demi mengamankan bantalan finansial.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/452ceccac03515393496e0fa4251aa32-20260618_DMS_Imbal_Hasil_BI_rate_dan_Fed_4_mumed.png)
Upaya agresif otoritas moneter melalui double hike suku bunga BI tidak akan optimal tanpa disiplin fiskal yang tegas. Sebab, kenaikan suku bunga bank sentral juga akan berimbas pada meningkatnya beban fiskal dari penerbitan obligasi. Transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program pemerintah diperlukan untuk memastikan kembalinya kepercayaan pasar.
Perlambatan konsumsi dan penundaan ekspansi bisnis memang akan menekan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Namun, perlambatan yang terkendali jauh lebih aman dibanding inflasi yang tak terkendali dan nilai tukar yang runtuh.
(Litbang Kompas)
Penulis:
Samantha Junita Dewanti, Karina Isna IrawanEditor:
Karina Isna IrawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan