Rendang pernah menjadi penolong penyintas bencana di berbagai daerah di Indonesia. Kini, giliran warga di Pulau Sumatera mendapatkan perhatian banyak pihak.
28 Nov 2025 17:49 WIB · Lingkungan
ANTARA/Iggoy el Fitra
Rendang asal Sumatera Barat sering menjadi logistik andalan penyintas bencana di berbagai daerah di Indonesia. Kini, giliran Sumatera Barat bersama Sumatera Utara dan Aceh yang butuh perhatian. Tidak hanya logistik, ketiga daerah itu juga butuh mitigasi terbaik agar bencana tak mengambil nyawa orang tersayang.
Dari catatan Kompas, rendang dari Sumatera Barat (Sumbar) mulai terbang ke berbagai daerah di Indonesia sejak gempa di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, akhir 2016 (Kompas.id, 3/5/2019). Ada sekitar 1 ton rendang yang dikirim ke sana.
Sejak saat itu, Sumbar terus mengirimkan bantuan rendang ke sejumlah daerah yang mengalami bencana besar. Beberapa di antaranya adalah banjir besar di Bengkulu, gempa di Sulawesi Barat, rentetan bencana di Sulawesi Tengah, hingga banjir di Kalimantan Selatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/05/bec13f68-adbf-4e86-9de1-9c05564c1cec.jpg)
Sebanyak 1,5 ton rendang juga datang untuk penyintas Gunung Semeru di Jawa Timur tahun 2021. Pada tahun yang sama, rendang tiba untuk logistik penyintas Badai Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Jawa Barat, rendang juga menjadi bahan makanan terbaik bagi penyintas gempa M 5,6 di Kabupaten Cianjur pada 2022.
Dosen sosiologi Universitas Negeri Padang, Erianjoni, berpendapat, kebiasaan Sumbar mengirim bantuan rendang ini merupakan ekspresi rasa persaudaraan masyarakat Minang.
Kebiasaan ini, kata Erianjoni, berakar dari kebiasaan badoncek (patungan) yang sudah menjadi kearifan lokal masyarakat Minang. Warga secara bersama-sama mengumpulkan uang atau barang untuk membantu saudara atau orang lain yang membutuhkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/05/b14b4309-08ce-42af-8fd6-1ea03e45cf18.jpg)
Selain itu, lanjutnya, bantuan rendang dipilih karena tahan lama. Dalam situasi bencana, selain sulit mendapat makanan, para penyintas yang sedang kesakitan dan berduka kadang juga tidak berselera makan. Kelezatan rendang diharapkan bisa menjadi pelipur lara dan penawar lapar saat kesulitan.
”Kebiasaan ini layak menjadi model dalam membantu orang yang sedang kesulitan. Kesannya kita itu hidup bersama, nilai-nilai toleransi makin tinggi,” katanya.
Tahun ini, rendang mungkin tidak akan terbang jauh untuk penyintas bencana. Sumbar sendiri sedang dikepung bencana, bersama Aceh dan Sumut.
Data Basarnas hingga Jumat (28/11/2025) pukul 12.00 WIB menyebut 105 orang tewas di Sumut dan Sumbar. Korban tewas di Aceh belum terdata.
Solidaritas pun bermunculan. Di media sosial, banyak pihak membuka donasi untuk penyintas bencana di Sumbar, Sumut, dan Aceh. Bila dulu rendang dikirim ke berbagai daerah, giliran warga Pulau Sumatera yang mestinya mendapat perhatian warga dari berbagai tempat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/df0640be21937b96c094171efd68b682-antarafoto_pengungsian_korban_banjir_bandang_di_padang_1764229005.jpg)
Salah satu pihak yang menerima donasi untuk penyintas bencana adalah Komunitas Gubuak Kopi di Kota Solok, Sumbar. Sejak dua hari sebelumnya, yakni Rabu (26/11/2025), komunitas kreatif di Kota Solok ini membuka donasi untuk pengoperasian dapur umum penyintas bencana bagi 10 desa. Sejauh ini, donasi yang terkumpul mencapai Rp 70 juta.
”Donasi banyak juga dari luar Sumbar. Ada yang datang dari Jakarta hingga Belanda,” kata koordinator donasi di Komunitas Gubuak Kopi, Prima Nanda (29).
Prima mengatakan, donasi itu lantas dikelola para sukarelawan. Selain pekerja seni, ada petani, peternak, dan santri ikut serta di sana. Ada yang belanja bahan, memasak, hingga mengantar makanan. Total ada 15 orang menggawangi dua dapur umum.
”Banyak orang yang pernah bekerja sama dengan kami sebelumnya ikut membantu,” kata Nanda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/28/e1e4ee982e410140d80a2d4a11cc149c-IMG_20251128_WA0105.jpg)
Koordinator dapur umum Komunitas Gubuak Kopi, Albert Rahman (34), mengatakan, uang hasil donasi sejauh ini digunakan untuk pengoperasian dua dapur umum. Dapur pertama berada di kawasan Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, dan dapur kedua di Jorong Simpang Koto Baru, Kecamatan Kubung.
Setiap hari, ada 1.000 porsi yang dimasak di kedua dapur itu. Sebanyak 500 porsi diberikan saat siang dan 500 porsi lainnya untuk makan malam.
Sejauh ini, dengan dana yang ada, satu porsi dibuat setara Rp 15.000. Menunya nasi, ayam dan telur, serta sayur.
Albert mengatakan, belum ada rendang di dapur itu. Alasannya, dana yang ada belum cukup untuk memasak rendang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/28/30f993551096ac0f610aa4c4ab2bfa1f-IMG_20251128_WA0095.jpg)
Lagi pula, butuh waktu lama untuk membuat rendang. Padahal, saat tanggap darurat, kecepatan menjadi hal mutlak untuk melayani penyintas bencana. ”Mungkin bila nanti dananya sudah cukup, waktu dan sukarelawannya tersedia, bakal ada rendang untuk pengungsi,” kata Albert.
Bagi yang hendak berdonasi, komunitas ini membuka nomor rekening Bank BRI 009101023129539 atas nama Prima Nanda.
Akan tetapi, Sumbar, Sumut, dan Aceh tidak hanya butuh logistik menghadapi bencana ini. Mencegah hal buruk terjadi lagi, warga di sana membutuhkan mitigasi terbaik. Jangan sampai bencana yang mematikan ini harus terulang mengambil nyawa orang-orang tersayang.
Dari Makassar, Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin, Ilham Alimuddin, mengatakan, bencana di Sumut, Sumbar, dan Aceh adalah akumulasi badai siklon dan kondisi lingkungan.
”Saya melihat ada pengaruh siklon dari Thailand ke Malaysia lalu ke wilayah Sumatera. Ini bukan bencana lokal yang berisi sendiri, melainkan rangkaian dari bencana global yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hanya saja, kondisi lingkungan membuat bencana ini menjadi parah,” katanya di Makassar, Jumat (28/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/13620492-90c0-46fe-828d-3a453b1ce21c.jpg)
Dia menjelaskan, siklon yang menyebabkan hujan dengan volume besar hanya pemicu. Jika tutupan atau vegetasi sudah kurang dan diperparah aliran air atau sungai yang menyempit dan mendangkal, material akan mudah terbawa.
”Bayangkan jika siklon menerjang, lalu curah hujan sangat tinggi dan penahan di permukaan sudah kurang, maka material tanah dan bebatuan sampai kayu dengan mudah terbawa. Ditambah jika sungai juga sudah tidak mampu menampung volume air, dampaknya adalah banjir bandang,” katanya.
Elevasi hulu ke hilir juga cukup signifikan berpengaruh pada kecepatan laju dan terjangan air. Ini yang membuat material yang sangat banyak dengan mudah menerjang perkampungan di sepanjang aliran sungai hingga ke hilir.
”Selama ini walau tutupan hutan berkurang, tetapi kalau tidak hujan, kan tidak terjadi apa-apa. Saat hujan, apalagi dengan curah yang tinggi, barulah permukaan terbawa air. Sebaliknya, walaupun volume hujan besar, namun jika masih ada vegetasi yang menahan, sekalipun air meluap, kondisinya tidak akan parah,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/28/ba2c175d5876867f6edb840eeb598e9b-WhatsApp_Image_2025_11_28_at_12.05.40.jpeg)
Ilham menyebut banjir bandang di Sumbar dan Sumut mirip dengan yang terjadi di Masamba, Luwu Utara, Sulsel, pada 2020. Saat itu, banjir bandang menewaskan 38 orang dan lebih dari 10 orang lainnya hilang.
”Di Masamba, terjadi longsor di hulu disebabkan struktur bebatuan yang rapuh dan akhirnya material longsoran ikut terbawa air dan menerjang sepanjang sungai dan hilir. Bedanya di Sumatera air kelihatan lebih keruh dan kecoklatan. Ini artinya material lumpur yang terbawa dari hulu jauh lebih banyak,” katanya.
Sementara itu, pakar hidrologi dari Universitas Padjadjaran, Prof Chay Asdak, mengatakan, ada dua hal utama yang memicu bencana di Sumut, Sumbar, dan Aceh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/3cc14d71-4541-45c1-86a8-b109e388afa0.jpg)
Pertama adalah faktor alam yang dipengaruhi siklon dan topografi kawasan. Dampak siklon tropis Senyar yang memicu cuaca ekstrem itu efeknya semakin besar saat berada di daerah perbukitan. Di daerah perbukitan, penguapan biasanya terjadi lebih tinggi sehingga memicu pembentukan awan konvektif yang menyebabkan cuaca ekstrem, seperti badai dan angin kencang.
”Dampak siklon dan penguapan di perbukitan membuat cuaca ekstrem semakin tinggi,” katanya.
Chay mengatakan, fenomena alam tidak akan pernah bisa dilawan. Namun, hal itu bisa ditekan dampaknya. Setidaknya pemerintah daerah atau warga di sekitarnya bisa lebih siap menghadapi kemungkinan munculnya siklon di daerah rawan.
”Ke depan, saya berharap informasi terkait kerawanan siklon dan topografi ini diberikan BMKG lebih cepat dan akurat, baik kepada lembaga penanganan bencana, pemerintah daerah, maupun warga. Tujuannya demi mitigasi terbaik mencegah jatuhnya korban jiwa,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/766c5d70-cbe1-4b76-b0d3-2097c5ae6774.jpg)
Kedua adalah faktor manusia atau antropogenik. Dalam hal ini, penyebabnya adalah manusia, salah satunya kebijakan tata guna lahan. Tanpa pengaturan yang ideal, kata Chay, ulah manusia hanya akan mengundang bahaya lebih besar di kemudian hari.
”Perkebunan sawit hingga food estate, misalnya, membutuhkan penanganan yang ideal. Kami tidak sedang menolak keduanya, tetapi ke depan pelaksanaan di lapangan harus tetap bisa meminimalkan bencana di kemudian hari,” ujarnya.
Penulis:
Cornelius Helmy Herlambang, Reny Sri AyuEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar