Menekuni panjat tebing sebagai olahraga terukur, Desak Made Rita Kusuma Dewi punya dunia sendiri, dunia tanpa kemutlakan
06 Jul 2024 06:05 WIB · Olahraga
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/08/0e5b406c-f7b8-47e2-9b8c-cb4fa5be590a_jpg.jpg)
Teriakan Desak Made Rita Kusuma Dewi mengisi seluruh ruangan. Pada palang pull-up, genggaman tangannya kian erat. Untuk kali terakhir, Desak berusaha mengeluarkan seluruh tenaga untuk mengangkat tubuh bersama beban tambahan 10 kilogram yang menggantung di antara kakinya.
Pengulangan ke-16 itu tuntas, diiringi napas yang tersengal-sengal. Pull-up, gerakan memperkuat otot lengan dan tubuh bagian atas, adalah makanan sehari-hari bagi pemanjat tebing nomor speed atau kecepatan seperti Desak. Di luar tiga sesi latihan rutin dalam tiga hari seminggu, ada latihan tambahan dengan total 700 kali pull-up sehari. Latihan tambahan pun bisa berupa 200 kali pull-up dalam 30 menit per hari.
Namun, pull-up yang rutin dilakukan tidak serta merta menjadi mudah bagi Desak. ”Bertahun-tahun pull-up, tetap saja terasa berat. Bangun tidur, lengan rasanya pegal, panas. Namun, ya, tetap harus dijalani,” ujar Desak selepas sesi latihan pagi di halaman parkir Hotel Santika Premiere, Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (23/5/2024).
Wajar jika kemudian kelegaan tampak di wajah Desak ketika sesi latihan pagi menuju Olimpiade Paris 2024 itu rampung. Dengan napas masih memburu, Desak bergegas keluar ruang gym. Atlet asal Buleleng, Bali, ini langsung merendam tangannya dengan es batu dalam boks memanjang.
Di hadapan Desak, ada Rajiah Sallsabillah, pemanjat putri yang menyusulnya lolos ke Olimpiade Paris 2024. Desak dan Rajiah menenggelamkan tangan hingga batas lengan atas. Dalam posisi demikian, tampak kontras perbedaan otot Desak dan Rajiah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/05/bbceb956-f007-4a6b-9a90-0f7c799c78e9_jpg.jpg)
Hasil latihan bertahun-tahun tak hanya menguatkan lengan Desak, tetapi juga membentuk otot trisep dan bisepnya. Otot atlet dengan postur 165 sentimeter ini menjadi lebih besar. Begitu pula dengan badannya secara keseluruhan. Itu juga yang kemudian sempat menimbulkan perasaan insecure karena banyak pertanyaan soal bobot tubuhnya.
Belum lagi, kata Desak, ada semacam stereotipe soal bobot tubuh atlet dalam olahraga panjat tebing nomor speed. Semakin ringan bobot badannya, atlet dianggap akan melaju lebih cepat di atas dinding panjat.
Apalagi, pemanjat nomor speed tak hanya harus beradu kecepatan. Atlet juga perlu melawan gravitasi selama pemanjatan. Mereka harus mendorong diri untuk melalui 20 pegangan besar dan 11 pegangan kecil yang tersebar dari dasar hingga puncak dinding setinggi 15 meter tersebut.
Namun, begitulah Desak. Tidak ada ketentuan absolut atau mutlak dalam dunianya, termasuk perkara bobot tubuh seorang atlet dan kecepatan memanjat. ”Lama-lama, Desak bodo amat saja karena yang penting bagaimana Desak bisa kencang, bisa mengandalkan kekuatan Desak,” ucapnya.
Di antara pemanjat putri Indonesia lainnya di pemusatan latihan, Desak memiliki catatan waktu terbaik dengan mampu mencapai 6,36 detik saat Asian Games Hangzhou 2022, Oktober 2023. Sementara itu, Rajiah Sallsabillah memiliki catatan waktu terbaik 6,67 detik.
Baca juga : 29 Atlet Indonesia Lolos Olimpiade, Terbanyak dalam Dua Dekade
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/05/a1642acb-6611-4713-8e0b-56250fdb901d_jpeg.jpg)
Ketika pertama kali ditarik masuk pemusatan latihan nasional, 2020, catatan waktu terbaik Desak ialah 7,71 detik dalam latihan. Adapun dalam kompetisi, Desak mencatatkan waktu terbaik 8,19 detik. Kecepatannya mencapai tombol finis terus meningkat setiap tahunnya kendati massa otot dan bobot tubuh Desak bertambah.
Pada 2021, Desak sudah mulai mencatatkan waktu 6,84 detik dalam latihan, tetapi masih belum bisa mencapai tombol finis dalam waktu yang sama. Setahun berselang, baru Desak mulai konsisten mencatatkan waktu pada angka 6 detik, baik dalam latihan maupun perlombaan.
Memang, tidak ada yang mutlak bagi Desak, bahkan untuk hal-hal teknis seperti rutin gerakan memanjat. Delapan bulan sebelum Olimpiade, misalnya, dia sempat menyetujui ide pelatih tim panjat tebing Indonesia Hendra Basir untuk mengubah gerakan dengan drastis. Dari gerakan khusus pemanjat putri menjadi pemanjat putra.
Perbedaan gerakan tersebut sangat kontras. Desak mesti melewati pijakan kaki terakhir menjelang tombol finis. Dia langsung beralih dari pegangan tangan satu ke yang lain, tanpa perantara pijakan. Pendekatan gerakan putra itu jauh lebih sulit karena membutuhkan tenaga besar saat bertolak dan jangkauan tubuh yang lebar.
Baca juga : Konsistensi Desak Made, Ratu Baru Panjat Tebing Indonesia
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/05/eda49ed5-f9f0-4d0a-92b2-2bff06f67575_png.png)
Desak bisa saja menolak perubahan gerakan yang sudah ditekuni sejak lama. Gerakan ortodoks itu sudah mengantarnya berjaya di berbagai ajang. Salah satunya meraih emas dan memecahkan rekor waktu pribadi di Asian Games Hangzhou 2022. Namun, dia percaya pada visi sang pelatih.
”Kalau dikasih gerakan baru memang awal-awal berat kayak enggak terima, tetapi karena mimpi mau Olimpiade, dikasih apa saja Desak terima, gas saja. Nurut (pelatih). Yang penting bagaimana caranya biar bisa tembus (waktu terbaik). Selalu optimistis cara saat ini yang terbaik,” kata Desak.
Desak kesulitan pada awal-awal beradaptasi. Saat tidak ada kesalahan berarti, dia bisa jauh mengungguli pemanjat putri lain. Namun, hal berbanding terbalik terjadi jika ada kesalahan sedikit saja. Margin kesalahan cukup besar karena jangkauan yang terlalu jauh di antara pegangan sehingga kehilangan momentum.
Pembuktian Desak terjadi di Wujiang, April lalu. Dia sempat mencatat waktu 6,6 detik dalam salah satu percobaan di babak kualifikasi. Satu percobaan lagi tidak dihitung karena false start. Waktu itu cukup baik. Akan tetapi, menurut Hendra, gerakan baru cukup berisiko untuk dibawa ke Olimpiade.
Sekitar dua bulan menjelang Olimpiade, Hendra dan Desak pun kembali bersepakat untuk kembali ke gerakan awal. Desak tidak protes, langsung fokus untuk menajamkan rutin gerakan semula. Dia mengambil sisi positif dari perjalanan itu. Diyakini, perubahan di Wujiang tersebut akan mengusik psikologis para pesaing.
Baca juga : Desak Made Rita Kusuma Dewi Menggapai Puncak Kehidupan
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/05/04f51879-fc59-4a69-b7c9-dce31bc2b8c4_jpeg.jpg)
Di sela-sela berlatih di pelatnas, Desak menyisihkan waktu untuk bersembahyang ke pura. Biasanya Desak pergi beribadah ke Pura Rawamangun di Jakarta Timur. Akan tetapi, seiring bertambahnya kebutuhan latihan menjelang Olimpiade, rutinitas sekali dalam sepekan itu mulai sulit dia penuhi karena padatnya jadwal latihan. Alhasil, Desak menyesuaikan diri dengan bersembahyang dari hotel pelatnas.
Desak dengan sepenuh hati menyadari bahwa ujud bakti kepada Sang Pencipta bisa disalurkan dari mana saja. Ia berkompromi dengan keadaan yang memaksanya untuk tetap fokus berlatih demi mengejar mimpi mempersembahkan medali di Olimpiade.
Daerah asal Desak turut berperan membentuk prinsip beribadah yang fleksibel tersebut. Desak lahir dan tumbuh di Buleleng, satu kabupaten yang berlokasi di utara Bali. Masyarakat Buleleng sejak lama dikenal teguh, tetapi lentur dalam mengamalkan ajaran Hindu. Tidak ada yang mutlak dan memaksa. Ritus bukan lagi jadi hal utama, melainkan bisa disesuaikan menurut situasi dan kondisi masing-masing dengan tetap menekankan pada filosofi atau makna.
Bermeditasi pun termasuk salah satu cara Desak beribadah untuk dari mana saja. Metode meditasi sekaligus turut membantu Desak menjaga fokusnya yang kadang terbelah. Tidak jarang dengan bermeditasi, Desak kembali bisa menajamkan kekuatan pikiran dan konsentrasinya jelang berlomba.
Baca juga : Konsisten Naik Podium, Veddriq dan Rajiah Lolos Olimpiade Paris 2024
Selalu optimistis cara saat ini yang terbaik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/03/ec0799af-b7bc-4781-a122-747354e2666a_jpg.jpg)
Tidak ada yang absolut bagi buana Desak juga berlaku ketika berbicara soal selera musiknya. Desak, atlet kelahiran 24 Januari 2001, adalah penggemar boyband Korea Selatan, BTS. Sekilas, kegemaran ini seperti sesuai dengan ”kodrat” generasinya, gen Z (kelahiran 1997-2012), yang banyak menyukai K-Pop alias Korean Pop.
Namun, Desak lantas menyebutkan satu band lain yang kerap didengarkannya: Dewa 19. Desak menggemari grup band yang mulai populer pada tahun 2000-an dan banyak digandrungi orang-orang kelahiran 1990-an itu. Dan dua musik dari dua generasi berbeda itulah yang menemani Desak di sela-sela istirahat dan waktu senggang.
Waktu menunjukkan pukul 19.00 ketika Desak pamit untuk kembali ke kamarnya. Desak istirahat sembari menghubungi orangtuanya melalui telepon atau panggilan video. Selepas itu, dia akan kembali tenggelam dalam malam-malam yang dipenuhi ketegangan dan pikiran soal Olimpiade. Bayangan soal gerakan memanjat dan hal-hal yang menantinya di Olimpiade selalu menjadi pengantarnya sebelum tidur.
Di atas kertas, medali emas Olimpiade nomor speed putri perseorangan ialah milik pemanjat Polandia, Aleksandra Miroslaw. Belum ada pemanjat yang bisa mengalahkan rekor dunia Miroslaw dengan catatan waktu 6,24 detik.
Namun, berkali-kali Desak menunjukkan, dalam buananya, tidak ada yang mutlak. Bukan tidak mungkin ketidakmutlakan itu juga berlaku dalam perkara medali emas Olimpiade, sesuatu yang diimpikan Desak.
Penulis:
REBIYYAH SALASAH, KELVIN HIANUSA, I GUSTI AGUNG BAGUS ANGGA PUTRAEditor:
EMILIUS CAESAR ALEXEY