Limbah industri berupa bahan sisa produksi seperti besi, aluminium, dan kardus punya nilai ekonomi tinggi, dan kerap disasar para bohir limbah.
16 Mar 2025 20:06 WIB · Investigasi
Ketika unjuk rasa memanas di perusahaan, saat itu pula Roy (30) tersenyum semringah. Misinya sukses. Tugas ”orderan” dari bos sudah dieksekusi. Sebentar lagi, uang puluhan hingga ratusan juta rupiah bakal mengguyur rekeningnya.
Unjuk rasa di kawasan industri sering kali terjadi karena ada orang seperti Roy. Penampilannya mungkin tak meyakinkan. Tubuhnya kurus, rambutnya acak-acakan. Namun, siapa sangka, dia pernah memimpin 3.000 orang menggelar demonstrasi ke salah satu perusahaan di kawasan industri di Bekasi, Jawa Barat.
Bagaimana Roy melakukannya? Lelaki asal Jawa Timur itu punya jejaring luas. Jejaring itu dia bangun sejak masih kuliah ketika berguru di organisasi pergerakan mahasiswa.
Di masa perguruan itu, dia terus mengasah kemampuannya dan kian lihai menyusun strategi unjuk rasa hingga seni dalam berkomunikasi. Investasi di masa kuliah itu kini jadi aset berharga.
Kemampuan yang dimiliki Roy punya nilai tawar di mata para bohir limbah di Bekasi. Bohir (dari bouwheer, bahasa Belanda) limbah merupakan orang yang aktivitas usahanya mengumpulkan sisa bahan baku produksi dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan industri. Sisa bahan baku yang paling dilirik bohir limbah berupa besi, aluminium, plastik, hingga kardus.
Bahan baku sisa produksi jenis ini dikenal dengan limbah ekonomis atau limbah yang tak mengandung bahan berbahaya dan beracun atau B3. Limbah ekonomis itu dibeli murah oleh bohir limbah dari perusahaan, lalu dijual ke tempat peleburan atau didaur ulang jadi bahan dengan nilai ekonomi tinggi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/15/a999c101-30b4-4084-82b1-dcad8e0f7009_png.png)
Jasa Roy dibutuhkan lantaran tak semua bohir limbah bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan penghasil limbah. Saat bohir limbah gagal mengikat surat perjanjian kontrak dengan perusahaan tersebut, saat itu pula Roy punya pekerjaan.
”Minta tolong biasanya. Bahasanya begitu. Kalau perusahaannya baru, biasanya bos limbah minta saya cari tahu siapa yang nanti kelola limbah dari perusahaan itu,” Kata Roy saat ditemui di Bekasi, akhir Januari 2025.
Adapun jika perusahaan sudah lama beroperasi dan telah bekerja sama dengan vendor pengelola limbah, maka tugas Roy mencari tahu siapa vendor pengelola limbah yang dikontrak perusahaan tersebut. Roy juga bertanggung jawab mencari celah agar perusahaan yang sudah mengikat kontrak dengan vendor limbah lain bersedia meninjau ulang kontrak tersebut.
Salah satu cerita sukses Roy saat mengeksekusi pesanan bohir limbah di Bekasi terjadi pada awal 2024. Saat itu, dia diminta seorang bohir limbah untuk mencari tahu sebuah perusahaan di kawasan industri Bekasi yang masih tak diketahui siapa vendor pengelola limbahnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/15/2fb142b4-729e-4d17-bf60-e5371daeec67_jpg.jpg)
”Itu disuruh penelusuran dan pengerahan massa. Bos minta saya cari tahu bagaimana caranya mengambil limbah perusahaan itu,” ucapnya.
Lelaki yang selalu bangga menyebut dirinya aktivis itu kemudian mendekati orang dalam yang bekerja di perusahaan itu. Dari orang dalam itu, dia mendapat gambaran bahwa limbah dari perusahaan itu dikelola secara mandiri.
Roy kemudian melanjutkan riset dengan mengakses relasinya di sejumlah lembaga pemerintahan. Dari kenalannya itu, dia mendapat gambaran lengkap soal izin perusahaan, kapasitas produksi, hingga jenis limbah yang dihasilkan perusahaan tersebut.
”Perusahaan ini beli bahan baku dari sebuah vendor. Nanti bahan baku sisa produksi dia kembalikan lagi ke vendor tempat dia beli bahan baku. Jadi, akhirnya saya tahu (celah) masalahnya,” katanya.
Masalah yang dimaksud Roy adalah perusahaan itu dia anggap melakukan praktik monopoli usaha karena tak mematuhi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Bagi Roy, pengelolaan limbah dari perusahaan itu dianggap benar apabila diserahkan kepada pihak ketiga atau pengusaha limbah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/16/c4e3df99-f854-4ae8-bc62-f242ee678904_png.png)
”Kami permasalahkan ke dinas lingkungan hidup setempat. Saya juga kerahkan massa untuk demo perusahaan itu,” katanya.
Mengajak orang untuk bergabung dalam unjuk rasa tidaklah sulit. Roy memiliki banyak jejaring, mulai dari para anggota organisasi kemasyarakatan (ormas), mahasiswa dari sejumlah organisasi pergerakan mahasiswa, hingga pemuda desa yang kerap masih menganggur.
”Dekatin mereka aja, mau enggak demo, ada duitnya. Kalau demonya anarkistis, satu orang bayarannya Rp 100.000, tetapi kalau demonya tanpa kekerasan, satu orang Rp 50.000,” kata Roy.
Unjuk rasa ke perusahaan merupakan proses terakhir yang harus Roy lakukan ketika menerima proyek dari bohir limbah. Artinya, saat massa yang ia himpun mengepung perusahaan, saat itu pula misi Roy sudah selesai.
”Waktu itu kami gagal. Perusahaan tetap enggak mau. Tapi, duitnya saya tetap dapat, Rp 250 juta. Saya dibayar untuk ilmu riset dan kemampuan saya mengerahkan massa,” kata lelaki yang sudah lima tahun terjun dalam bisnis unjuk rasa itu.
Jika Roy menjadikan unjuk rasa sebagai ladang uang, ada pula massa bayaran yang menganggap demonstrasi sebagai hobi atau sekadar latihan public speaking. Demonstrasi ke perusahaan juga dianggap bagian dari perjuangan membela kaum lemah atau masyarakat yang terpinggirkan dari tumbuhnya kawasan industri.
Salah satunya adalah Fahri, seorang mahasiswa di Bekasi. Fahri ditemui saat sedang beristirahat sembari menyantap nasi bungkus di rumah seorang bohir limbah di Kabupaten Bekasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/06/09/224fc6ea-9243-45e3-8f28-77d169a9960e_jpg.jpg)
Lelaki yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bekasi itu bersama puluhan orang lainnya sebenarnya baru saja selesai mengikuti unjuk rasa di sebuah perusahaan di Kabupaten Bekasi. Dia ikut unjuk rasa untuk meminta perusahaan menyerahkan pengelolaan limbahnya kepada bohir limbah yang rumahnya menjadi tempat Fahri dan kawan-kawan beristirahat siang itu.
”Sebenarnya saya enggak pernah ngikut demo yang seperti ini. Ini baru pertama kali. Saya ikut kaya gini hanya untuk membantu melatih public speaking. (Kalau ada uangnya pun) Itu hanya bonus saja,” kata Fahri.
Sementara itu, Yahya, yang berunjuk rasa bersama Fahri, tak ingin mengakui bahwa demonstrasi yang mereka perjuangkan itu termasuk demonstrasi bayaran. Dia menganggap demonstrasi atas orderan bohir limbah itu bagian dari perjuangan membela kaum lemah.
”Mereka ini warga sekitar kawasan industri, tetapi tidak merasakan dampak dari adanya industri. Makanya, saya anggap ini bagian dari perjuangan membantu mereka,” katanya.
Penulis:
Stefanus Ato, Insan Alfajri, Melati Mewangi, Sarie Febriane, Pandu WiyogaEditor:
Sarie Febriane, Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti